PERANG BADAR
Perang
pertama yang sangat menentukan masa depan Negara islam ini adalah perang badar,
perang antara kaum muslimin dengan musyrik Quraisy. Pada tanggal 8 Ramadhan
tahun ke-2 hijriah, nabi bersama 305 orang muslim bergerak keluar kota membawa
perlengkapan yang sederhana di perang ini nabi sendiri yang memegang komando.
Di daerah badar, kurang lebih 120 kilometer dari madinah, pasukan nabi bertemu
dengan pasukan Quraisy yang berjumblah sekitar 900 sampai 1000 orang. Dalam ini
kaum muslimin keluar sebagai pemenang.
KISAH
PERANG BADAR
Tahun 622 M, nabi Muhammad saw. Dan
banyak sahabatnya hijrah ke madinah. Hal ini menandai dimulainya kedudukan nabi
sebagai pemimpin suatu kelompok dan agama. Setelah hijrah ketegangan antara
kelompok masyarakat di mekkah dan madinah semakin memuncak dan pertikaiaan
terjadi pada tahun 623 ketika kaum muslim memulai bebrapa serangan (sring di
sebut ghazwah dalam bahasa arab)pada rombongan dagang kaum Quraisy makkah.
Perlu di ketahui madinah terletak di antara jalur utama perdagangan mekkah.
Kebanyakan kaum muslimin yang berasal dari suku Quraisy merasa yakin akan
haknya untuk mengambil harta para pedagang quraisy makkah, sebab kaum kafir
Quraisy telah menjarah harta dan rumah kaum muslim yang ditinggal di
makkah(karena hijrah) dan telah mengeluarkan mereka dari sukunya sendiri. Tentu
saja hal ini merupaka sebuah penghinaandalam kebudayaan arab yang sangat
menjunjung tinggi kehormatan.kaum kafir Quraisy mempunyai pandangan lain ,
mereka melihat kaum muslimin sebagai penjahat dan ancaman terhadap lingkungan
mereka.
Pada akhir tahun 623 M dan awal
tahun 624 M, aksi ghazwah semakin sering terjadi di mana-mana pada bulan
sebtember 623 M, nabi Muhammad saw. Memimpin 200 orang pasukan melakukan serangan
terhadap rombongan besar kafilah kaum Quraisy. Tak lama setelah itu kaum
Quraisy dari makkah melakukan serangan balasan ke madinah, meskipun tujuan
sebenarnya hanyalah untuk mencurin ternak kaum muslim.
Pada bulan januari 624 M, kaum
muslim menyerang kafilah dagang makkah di dekat daerah nakhlah yang berjarak 40
km di luar kota mekkah. Mereka membunuh seorang penjaga dan akhirnya
benar-benar membangkitkan dendam di kalangan kaum kafir Quraisy. Terlebih lagi,
dari sudut pandang kaum Quraisy mekkah, penyerangan itu terjadi pada bulan
rajab, bulan yang dianggap suci oleh penduduk mekkah. Dalam bulan itu dilarang
peperangan dan genjatan senjata. Berdasar latar belakang inilah, akhirnya
perang badar pun terjadi.
Di musim semi tahun 624, nabi
mendapatkan informasi dari seorang mata-mata bahwa salah satu kafilah dagang
yang paling banyak membawa harta pada tahun itu, di pimpin oleh abu sufyan dan
di jaga oleh 30-40 pengawal, sedang dalam perjalanan dari suriah menuju mekkah.
Mengingat besarnya kafila tersebut, atau karena beberapa kegagalan dalam
penghadangan kafilah sebelumnya, maka beliau mengumpulkan pasuka sejumblah
lebih dari 300 orang, tepatnya 314, yang saat itu merupakan jumblah terbesar
pasukan muslim yang pernah di turunkan ke medan perang.
Nabi memimpin pasukannya sendiri dan membawa
banyak panglima utama, termasuk pamannya yang bernama hamzah dan para calon
khafilah masa depan, yaitu abu bakar ash-shiddiq, umar bin khathab, dan ali bin
abi thalib. Kaum muslim juga membawa 70 ekor unta dan 3 ekor kuda.
Ketika kafilah dagang kaum kafir
Quraisy mendekati madinah, abu sufyan mulai mendengan rencana rasulullah saw,
untuk menyerang kafilahnya. Ia pun mengirim utusan bernama damdam ke mekkah
untuk meminta bantuan kepada kaum Quraisy. Saat itu kaum Quraisy tenyata telah
menghimpun kekuatan besar untuk membalas dendam kepada umat muslim, maka begitu
mendengar berita yang di bawa oleh damdam, mereka segera mempersiapkan pasukan
sejumlah 1.000 orang untuk melindungi kelompok dagang abu sufyan.
Dalam pasukan besar kaum Quraisy
tersebut banyak, banyak bangsawan kaum kafir Quraisy yang turut bergabung,
diantaranya amr bin hisyam atau abu jahal, walid bin utbah, syaibah bin
rabi’ah, dam umayyah bin khalaf. Alasan keikut sertaan mereka pun berbeda. Ada
yang ikut karena mempunyai bagian dari barang-barang dagang pada kafilah
dagang, ada pula yang ingin membalas dendam atas kematian ibnu al-hadrami
penjaga yang tewas di nakhlah, dan ada pula yang ikut karena terhadap
mendapatkan kemenangan yang mudah atas kaum muslim.
Saat itu pasukan muslim sudah
mendekati tempat penyergapan yang telah di rencanakan, yaitu di sumur badar
suatu lokasi yang biasanya menjadi tempat persinggahan bagi semua kafilah yang
sedang dalam rute perdagangan dari suriah. Akan tetapi bebrapa orang petugas
pengintai sudah di ketahui keberadaannya oleh para pengintai dari kalangan
kafir Quraisy. Oleh karena itu, abu sufyan kemudian langsung membelokan arah
kafilah menuju yanbu.
Dan mereka pun lolos. Sedangkan,
umat muslim harus berhadapan dengan pasukan bantuan Quraisy yang berjumblah 3
kali lipat dari jumlah pasukan muslim. Begitu mendengan kabar keberangkatan
pasukan besar Quraisy dari makkah, rasulullah saw. Segera menggelar rapat dewan
peprangan. Rapat tersebut di lakukan karena masih ada kesempatan untuk mundur.
Selai itu, diantara para pejuang muslim, banyak diantara mereka termasuk kaum
anshar yang sebelumnya hanya berjanji untuk membela madinah. Berdasarkan
pasal-pasal dalam piagam madinah, mereka berhak menolak berperang serta dapat
meninggalkan pasukan. Tapi kaum anshar tetap kukuh membela rasulullah saw.
Merekapun berjanji untuk perang.
Sa’ad bin ubadah salah seorang kaum
anshar bahkan berkata kepada nabi., “seandainya engkau membawa kami ke luar
laut itu, kemudia engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan
mengikutimu.”
Tanggal
15 maret kedua pasukan telah berada kira-kira satu hari perjalanan dari bada.
Bebrapa pejuang muslim yang berkuda di barisan utama telah berhasil menangkap
dua orang pembawa persediaan air dari kalangan kafir Quraisy di sumur badar.
Pasukan muslim sangat terkejut ketika mendengar para tahanan berkata bahwa
mereka bukan berasal dari kafilah dagang, melainkan dari pasukan utama kafir
quraisy. Karena diduga berbohong, maka para penyelidik memukuli kedua tawanan
tersebut sampai mereka berkata bahwa mereka berasal dari kafilah dagang. Namun berdasarkan
catatan tradisi, rasulullah saw. Kemudian menghentikan tindakan tersebut.
Hari berikutnya, sarusulullah saw.
Memerintahkan melanjutkan pergerakan ke lembah badar dan tiba di sana sebelum
pasukan mekkah. Sumur badar terletak di lereng yang landai di bagian timur
suatu lembah bernama yalyal. Bagian barat lembah di pagari oleh sebuah bukit
besar bernama aqanqal.
Ketika pasukan muslim tiba dari arah
timur , pertama rasulullah saw. Memilih menempatkan pasukannya pada sumur
pertam yang di capai. Namun, beliaw kemudian berhasil diyakinkan oleh salah
seorang sahabat untuk memindahkan pasuka ke arah barat dan menduduki sumur yang
terdekan dengan posisi pasukan Quraisy.
Salah seorang sahabat, al-habab bin
mundzi, bertanya kepada rasulullahs saw. “ya rasulullah, apakah dalam memilih
tempat ini engkau menerima wahyu dari Allah swt. Yang tidak dapat diubah
lagi?ataukan berdasarkan taktik peprangan?” rasulullah menjawab “tempat ini
kupilih berdasarkan pendapat dan taktik peperangan!”
Rasulullah
saw. Menjawab, “tempat ini ku pilih berdasarkan pendapat dan taktik
peperangan”.
Al-
Habab mengusulkan “ya rasulullah! Jika demikian, ini bukan tempat yang tepat.
Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat
kubu pertahanan disana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat
kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian, sedangkan musuh
tidak akan memperoleh air minum!”
Rasulullah
saw. Menjawab “pendapatmu cukup baik!” kemudian, rasulullah saw. Memerintahkan
agar sumur-sumur lain di timbun, sehingga pasukan kafir terpaksa harus
berperang melawan pasukan muslim untuk dapat memperoleh satu-satunya sumber air
yang tersisa. Pasukan muslim bergerak ke tempat yang diusulkan oleh Al- Habab
bin Mundzir.
Ketika
pasukan kafir dengan angkuhnya maju menuju lembah badar, rasulullah saw. Segera
mengangkat tangannya ke langit seperti yang dilakukan oleh para nabi bani
israil. Beliau berdoa, “Ya Rabbi, jika pasukan kecil ini sampai binasa,
tidaklah aka nada lagi yang menyembahmu dengan hati yang ikhlas! Rasulullah
saw. Terus memanjatkan doa kepada Allah swt. Dengan khusyuk nya seraya
menadahkan kedua telapak tangannya ke langit. Abu bakar ash- Siddiq yang
melihat kesedihan di wajah Rasulullah saw. Berusaha menenangkan junjungannya
tersebut seraya berkata “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya,
bergembiralah! Sesungguhnya, Allah pasti akan memenuhi janji yang telah
diberikan kepadamu!”
Sementara
itu, dalam peperangan ini, kaum kafir Quraisy tidak membawa mereka selama
pertempuran sebagaimana tradisi pada banyak suku Arab lainnya. Selain itu,
jumlah mereka juga sedikit dan sama sekali tidak melibatkan suku Badui sebagai
sekutu merekayang banyak tersebar di seluruh Hujaz. Kedua fakta tersebut
menunjukkan bahwa kaum Quraisy kekurangan waktu untuk mempersiapkan
penyerangan, karena tergesa-gesa untuk melindungi kafilah dagang mereka.
Ketika
pasukan kafir Quraisy sampai di Juhfah, sedikit di arah selatan Badar, mereka
menerima pesan dari Abu Sufyan bahwa kafilah dagang telah aman di belakang
pasukan tersebut, sehingga mereka dapat kembali ke Makkah. Pada titik ini,
menurut penelitian Karen Amstrong, muncul pertentangan kekuasaan di kalangan
pasukan Makkah. Amr bin Hisyam ingin melanjutkan perjalanan, tetapi beberapa
suku termasuk, Bani Zuhrah dan Bani Ad, segera kembali ke Makkah. Amstrong
memperkirakan suku-suku itu khawatir terhadap kekuasaan yang akan diraih oleh
Amr bin Hisyam setelah penghancuran kaum muslim.
Sekelompok
perwakilan Bani Hasyim yang juga enggan berperang melawan saudara sesuku turut
pergi bersama kedua suku Bani Zuhrah dan Bani Adi. Diluar beberapa kemunduran
itu, Amr bin Hisyam tetap teguh dengan keinginannya untuk bertempur, dan
bersesumba, “Kita tidak akan kembali sampai kita berada di Badar.”
Saat
itulah, Abu Sufyan dan beberapa orang dari kafilah dagang turut bergabung
dengan pasukan utama. Selanjutnya, tanggal 17 Maret, ketika fajar mulai
menyingsin, pasukan Quraisy membongkar kemahnya dan bergerak menuju Lembah
Badar. Sehari sebelumnya, hujan turun begitu deras sehingga mereka harus
berjuang ketika membawa kuda-kuda dan unta-unta untuk mendaki Bukit’Aqanqal
(beberapa sumber menyatakan bahwa matahari telah tinggi ketika mereka berhasil
mencapai puncak bukit). Setelah menuruni
bukit ‘Aqanqal, mereka mendirikan kemah baru di dalam lembah.
Saat
beristirahat, kaum kafir Quraisy mengirimkan seorang pengintai bernama Umair
bin Wahab untuk mengetahui letak barisan-barisan kaum muslim. Umair melaporkan
bahwa pasukan muslim berjumlah kecil dan tidak ada pasukan pendukung lainnya
yang akan bergabung dalam peperangan. Akan tetapi, ia juga memperkirakan aka
nada banyak korban dari kaum Quraisy jika terjadi penyerangan. Hal tersebut
semakin menurunkan mental kaum Quraisy, karena adanya kebiasaan peperangan
suku-suku Arab umumnya sedikit memakan korban, dan menimbulkan perdebatkan baru
di antara para pemimpin Quraisy.
Meskipun
demikian, menurut catatan tradisi Islam, Abu Jahal atau Amr bin Hisyam
membungkan semua ketidakpuasan dengan membangkitkan rasa percaya diri kaum
Quraisy dan menuntut mereka agar menuntaskan utang darah mereka.
Pertempuran
diawali dengan majunya pemimpin-pemimpin kedua pasukan untuk berperang tanding.
Tiga orang Anshar maju dari barisan muslim, namun diteriaki agar mundur oleh
pasukan Makkah yang tidak ingin menciptakan dendam yang tidak perlu dan
menyatakan bahwa mereka hanya ingin bertarung melawan muslim Quraisy. Oleh
karena itu, kaum muslim kemudian menginginkan Ali, Ubaidah bin al-Harits, dan
Hamzah. Para pemimpin muslim berhasil menewaskan pemimpin-pemimpin kaum kafir
dalam pertarungan tiga lawan tiga, meskipun ubaidah mengalami luka parah yang
menyebabkan ia wafat.
Selanjutnya kedua pasukan mulai
melepaskan anak panah kea rah lawan. Dua orang muslim dan beberapa orang kafir
Quraisy yang tidak jelas jumblahnya tewas. Sebelum pertempuran berlangsung,
nabi Muhammad saw. Telah memberikan perintah kepada kaum muslim agar menyerang
dengan senjata jarak jauh mereka, dan bertarung melawan kafir Quraisy dengan
senjata pendek hanya setelah mereka mendekat. Beliau memerintahkan maju sambil
melemparkan kerikil ke arah pasukan mekkah.
Akhirnya pasukan kafi Quraisy berhasil di
pukul mundur. Mereka kalah banyak pemimpin mereka yang tewas. Abu jahal salah
satunya, dari pihak kaum kafir 70 orang terbunuh dan 70 orang lainnya menjadi
tawanan. Sedangkan dri pihak kaum muslim 14 orang gugur sebagai suhada. Tentara
kafir yang tertawan itu dilakukan secara baik oleh kaum muslim, kecuali dua orang ini nazr bin
harits. Dua orang itu dihukum mati karena kebencian yang sangat kepada kaum
muslim. Dan tawanan lainnya di perlakukan secara manusiawi.
Pertempuran ini sendiri berlangsung
hanya beberapa jam dan selesai sedikit lewat setengah hari.
Hikmah
di balik perang badar :
1. Perang
badar memperkuat eksistensi umat muslim dan agama islam. Seandainya tentara
islam kalah maka tamatlah riwayat orang islam bahkan agama islam itu sendiri.
Selain itu kemenangan ini juga menguatkan kedudukan islam di madinah dan
menambah keyakinan bahwa mereka adalah pihak yang benar.
2. Perang
badar membuat umat islam mulai di segani dan di takuti oleh kabilah-kabilah
arab lain termasuk orang yahudi dan munaik di madinah.
3. Perang
ini membuat pengaruh kaum Quraisy di makkah mulai melemah.
4. Perang
badar membuat banyak orang makkah masuk islam. Hal ini berkat tawanan yang
diperlakukan dengan baik sehingga setelah di lepaskan mereka cerita tentang
kebaikan orang islam.
5. Perang
ini menguatkan kepercayaan orang islam kepada nabi Muhammad saw. Dan ajaran
islam. Mereka sanggup berkorban jiwa untuk kepentingan agama islam.
Perang uhud
Perang uhud merupaka perang besar
kedua kau muslim setelah badar. Pada perang ini kaum muslim berhasil dipukul
mundur oleh kaum Quraisy yang menuntut balas dendam atas kekalahan mereka di
perang badar.
Disebut perang uhud karena perang
ini berkecamuk di dekat gunung uhud, sebuah gunung dengan ketinggian hanya 121
m. gunung ini berada di sebelah utara madinah dengan jarak 5,5 km dari masjid
nabawi. Menuerut para ahli sirah Perang uhud terjadi pada bulan syawwal tahun
ke tiga hijriah.
Penyebab
lain terjadinya perang uhud adalah misi penyelamatan jalur bisnis Quraisy ke
syam dari kaum muslim yang sering mengganggu.
Untuk menyukseskan misi mereka dalam
perang uhud ini, mereka mengumpulkan tiga ribu pasukan yang terdiri dari kaum
Quraisy dan suku-suku yang royal seperti bani kinanah dan penduduk tihamah.
Mereka memiliki 200 pasuka berkuda dan 700 pasukan berbaju besi dan membawa
bebrapa orang wanita untuk membangkitkan semangat dan menjaga mreka supaya
tidak melarikan diri jika ada yang lari mereka akan di cela oleh wanita. Mereka
mengangkat Khalid bin walid sebagai komandan sayap kanan, dan sayap kiri
ikrimah bin abu jahl.
Sedangkan jumlah angkatan perang
kaum muslim pada awalnya terdiri dari seribu orang tentara. Namun ketika
pasukan mendekati gunung uhud, Abdullah bin ubay dan orang-orang munafik
tiba-tiba meninggalkan pasukan muslim kembali ke makkah dengan para pengikutnya
yang berjumlah 300 orang.
Mereka berhadapan di dekat gunung uhud,
rasulullah saw. Mengatur strategi peperangan beberapa orang pemanah di
tempatkan pada suatu bukit kecil untuk menghalangi majunya musuh. Awalnya musuh
mnederita kekalahan dan banyak dari pemanah meninggalkan pos-pos mereka untuk mengumpulkan
barang rampasan. Nah, dalam kesempatan itu musuh menyerang angkatan muslim itu
dari arah bukit tersebut. Maka banyak dari kaum muslim yang mati syahid dan
rasulullah pun menderita luka sangat parah.
Pada
awalnya pasuka pemanah melakukan tugas mereka dengan sangat baik, sehingga
memperoleh tiga kali kemenangan dari pasukan musuh. Dan musuh lari kocar-kacir.
Salah
satu dari kaum Quraisy secara diam-diam bersembunyi di balik sebuah batu
karang. Di adalah wahsyi, budak jubair bin muttan. Dengan cara yang licik dia
menyerang hamzah, dan berhasil menewaskannya seketika itu juga kaum Qurais
kembali menyerang pasukan muslim.
Sebenarnya, Abdullah bin jubair
pimpinan pasukan pemanah sudah mengingatkan pasukannya tentang intruksi dari
rasulullah supaya tidak meninggalkan pos. karena Abdullah ditinggalkan oleh
pasukannya dan hanya tersisa 9 pemanah maka musuh mengambil kesempatan tersebut
dan menyerang pemanah muslim dan 9 pemanah itu mati syahid. Pasukan berkuda
musuh maju terus dan mengepung pasukan muslim dan beberapa orang pasukan muslim
melarikan diri.
Bahkan
dalam situasi seperti ini banyak sahabat yang bertempur dengan perkasa salah
satunya anas bin nadir yang 70 tusukan pada badanya.
Dalam perang badar, rasulullah di
tinggalkan hanya dengan Sembilan orang sahabat di sekelilingnya. Namun, 7 orang
dari mereka menginggal satu per satu. Hanya thalhah bin ubaidullah dan sa’ad
bin waqas yang mampu bertahan bersama rasulullah saw dan selamat. Namun,
lemparan batu-batu telah membuat rasulullah jatuh dan salah satu gigi bawahnya
patah disertai bibir terluka. Musuh lainnya melukai dahi beliaw tak hanya itu
musuh juga memukul dengan sangat keras menggunakan pedang akibatnya dua cincin
pengikat helem rasulullah menembus ke dalam pipi beliau. Darah pun bercucuran
dari atas wajah beliau.
Kaum Qurais juga telah menggali
bebrapa parit sebagai perangkap dan rasulullah saw jatuh masuk kesalah satu
parit dan lututnya terluka parah kedua sahabat beliau menarik keluar dari parit
tersebut.
Sosok pahlawan dalam perang uhud :
1.
Musab
bin omair
Dia bertugas memegang bendera saat tangan kanannya
putus dia memegang dengan tanga kiri dan saat tangan kirinya terputus ia
kemudia berlutut mejemput bendera denga dada dan dagunya. Karena musaba mirip
dengan rasulullah saw. Maka orang kafir
mengumumkan bahwa rasulullah telah terbunuh hal ini melemahkan semangat
orang-orang muslim.
2.
Abu
dajana
Ia berdiri di depan rasulullah untuk melindungi beliau
banyak panah musuh menancap di punggung namun ia tidak bergerak sedikit pun.
3.
Ummi
amara
Dengan pedang terhunus ia bertahan bersama rasulullah
saw dari semua arah.
Hikmah di balik perang uhud :
Adalah
larangan menentang atau melanggar perintah yang telah ditetapkan oleh Allah swt
dan rasulnya. Apabila kita melanggar perintah tersebut maka akibatnya akan
fatal bagi kita, seperti kemenangan yang berubah menjadi kekalahan.
PERANG
KHANDAQ
Perang
besar ketiga kaum muslim ini dikenal juga dengan Al-Ahzab yang terjadi pada
bulan syawal tahun kelima hijriah. Perang ini sebagai penentu kelanjutan masa
depan agama islam. Dalam perang ini kaum muslim mendapat bebrapa cobaan yang
sangat hebat. Tergambar pada (QS Al Ahzab [33] 10-11).
Penyebab terjadinya perang ini adalah
hasutan kaum yahudi. Hasutan oleh orang-orang yahudi telah menghasilkan
perjanjian angkatan perang bersama antara kaum yahudi, Quraisy, dan bani
ghatfan dalam satu kekuatan. Adalah sebagai berikut :
1. Kaum
yahudi diwajibkan menyerahkan seluruh hasil kurma khaibar selama satu tahun.
2. Kaum
Quraisy keluar dengan pasukannya sebanyak 4000 orang.
3. Bani
ghatfan keluar dengan pasukannya sebanyak 4000 orang.
4. Pimpinan
tertinggi dipegang oleh abu sufyan bin harb.
Ketika
rasulullah saw. Mendengar berita tersebut, beliau menyuruh kaum muslim untuk
mengadakan persiapan perang, saat itu jumlah tentara muslim hanya terkumpul
sebanyak 3000 orang. Dalam kesempatan itulah salman al-farisi mengisyaratkan
agar membuat parit di sekitar kota madinah. Dengan segera rasulullah saw.
Memrintahkan para sahabat-sahabat untuk menggali parit di sebelah barat daya
madinah. Dan membagi tugas penggalian parit setiap sepuluh sahabat ditugaskan
untuk menggali sepuluh hasta. Panjang parit ini kira-kira lima ribu hasta.
Siang malam mereka terus menggali termasuk rasulullah saw tanpa lelah sehingga
parit itu akhirnya selesai sebelum tentara musuh datang.
Ribuan perajurit musuh akhirnya
tiba. Siap menghancurkan kaum muslim di kota madinah. Senjata pun sudah
terhunus di tangan masing-masing tentara. Merekapun berteriak mendekati
madinah. Namun, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat parit yang sangat
dalam dan lebar menghalangi langkah mereka. Setiap mereka berputar kearah lain,
mereka tidak menemukan satu pun jalan yang bisa digunakan semua trhalang parit.
Sementara
itu pasukan muslim sudah bersiap siaga disebrang parit, setiap tentara musuh
mencoba menerobos masuk ke parit, mereka langsung menyerangnya tanpa ampun.
Anak panah berterbangan menghujam mereka hingga akhirnya mereka harus mundur
kembali.
Peperagan
ini berlangsung selama tiga minggu tanpa henti, siang dan malam. Rasa lelah pun
mendera kaum muslim. Beliau khawatir pada saat pasukannya kelelahan musuh akan
menyerang kembali. Maka beliau pun mengajak mereka untuk memohon pertolongan
dan perlindungan demi keselamatan mereka agar masa depan islam tetap dapan
dipertahankan.
Suatu malam angin berembus begitu
dingin dan kencang, sehingga membuat semua prajurit kedua pasukan menggigil
kedinginan. Malampun turun dengan gelapnya, sehingga mereka tidak bisa melihat
satu sma lain. Angin memadamkan semua api yang dinyalakan. Mereka diam dalam
dingin dan gelapnya malam.
Pada kesempatan itu rasulullah saw.
Berbicara dengan hudaifah yang menjadi mata-mata kaum muslim. Yang di perintah
untuk mengetahui keadaan musuh. Hudafiah pun mengerjakan perintah tersebut.
Dalam dinginya malam yang gelap, ia berangakat menyusup ke tenga pasukan musuh.
Suasana gelap menyelamatkannaya sehingga ia bisa leluasa masuk ke tempat
pasukan Quraisy. Allah swt. Telah memberikan pertolongannya. Begitu tiba di
tengah-tengah pasukan kafir, tiba-tiba hudaifah mendengar suara yang sangat
berwibawa.
“wahai kaum Quraisy sudah 3 minggu
kita berada di sini dan tidak sedikitpun kita bisa tembus pertahanan pasukan
Muhammad. Mereka sudah menggalin parit sehingga kita begitu sulit menerobos ke
dalam kota. Sekarang, lebih baik kita siap-siap untuk pulang kembali ke makkah”
kata abu sufyan dengan lantang.
Akhirnya berita menggembirakan itu
disampikan oleh hudaifah kepada rasulullah saw. Dan di sambut denga rasa
gembira oleh kaum muslim. Inilah akhir dari perang ini dimana pasukan muslim
keluar sebagai pemenang. Meskipun tidak berperang secara fisik, namun pasukan
Qurais mengakui kehebatan pasukan muslim sehingga mereka menyerah dan mundur.
Hikmah
di balik perang khandaq :
1. Menghadapi
pasukan besar, kuat, dan bersenjata canggih umat islam harus berfikir kereatif
dan tidak frontal.
2. Inovasi
baru yang diperkenalkan salman dari iran mengharuskan umat islam sekarang
meminjam teknologi dan bantuan pengetahuan dari bangsa lain.
3. Kekompakan
umat islam dalam membangun parit adalah symbol semangat persatuan dikalangan
umat islam ini sepatutnya harus di pertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat
muslim di era modern ini.
4. Solidaritas
umat menjadi kekuatan.
5. Penghianatan
dari kaum yahudi akhirnya dihukum. Hati-hati terhadap tusuka dari belakang.
PERANG KHAIBAR
Pertempuran
Khaibar adalah pertempuran yang
terjadi antara umat Islam yang dipimpin Muhammad dengan umat Yahudi yang hidup di oasis Khaibar, sekitar 150 km dari Madinah, Arab Saudi. William Montgomery Watt menganggap penyebab pertempuran ini adalah Yahudi Bani Nadhir yang menimbulkan permusuhan melawan umat Islam.[1] Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan umat Islam,
dan Muhammad berhasil memperoleh harta, senjata, dan
dukungan kabilah setempat.Hanya beberapa hari Muhammad berada di Madinah
usai peristiwa Hudaibiya itu. Sekitar dua pekan kemudian, Rasul bahkan memimpin
sendiri ekspedisi militer menuju Khaibar, daerah sejauh tiga hari perjalanan
dari Madinah. Khaibar adalah daerah subur yang menjadi benteng utama Yahudi di jazirah
Arab. Terutama setelah Yahudi di Madinah ditaklukkan oleh Rasulullah.
Yahudi
tak mempunyai cukup kekuatan untuk menggempur kaum Muslimin. Namun mereka
cerdik. Mereka mampu menyatukan musuh-musuh Muhammad dari berbagai kabilah yang
sangat kuat. Hal itu terbukti pada Perang Khandaq. Bagi warga Muslim di
Madinah, Yahudi lebih berbahaya dibanding musuh-musuh lainnya.
Maka
Muhammad menyerbu ke jantung pertahanan musuh. Suatu pekerjaan yang tak mudah
dilakukan. Pasukan Romawi yang lebih kuat pun tak mampu menaklukkan benteng
Khaibar yang memiliki sistem pertahanan berlapis-lapis yang sangat baik. Sallam
anak Misykam mengorganisasikan prajurit Yahudi. Perempuan, anak-anak dan harta
benda mereka tempatkan di benteng Watih dan Sulaim. Persediaan makanan dikumpulkan
di benteng Na’im. Pasukan perang dikonsentrasikan di benteng Natat. Sedangkan
Sallam dan para prajurit pilihan maju ke garis depan.
Sallam
tewas dalam pertempuran itu. Tapi pertahanan Khaibar belum dapat ditembus.
Muhammad menugasi Abu Bakar untuk menjadi komandan pasukan. Namun gagal.
Demikian pula Umar. Akhirnya kepemimpinan komando diserahkan pada Ali.
Di
Khaibar inilah nama Ali menjulang. Keberhasilannya merenggut pintu benteng
untuk menjadi perisai selalu dikisahkan dari abad ke abad. Ali dan pasukannya
juga berhasil menjebol pertahanan lawan. Harith bin Abu Zainab -komandan Yahudi
setelah Sallam-pun tewas. Benteng Na’im jatuh ke tangan pasukan Islam.
Setelah
itu benteng demi benteng dikuasai. Seluruhnya melalui pertarungan sengit.
Benteng Qamush kemudian jatuh. Demikian juga benteng Zubair setelah dikepung
cukup lama. Semula Yahudi bertahan di benteng tersebut. Namun pasukan Islam
memotong saluran air menuju benteng yang memaksa pasukan Yahudi keluar dari
tempat perlindungannya dan bertempur langsung. Benteng Watih dan Sulaim pun
tanpa kecuali jatuh ke tangan pasukan Islam.
Yahudi
lalu menyerah. Seluruh benteng diserahkan pada umat Islam. Muhammad
memerintahkan pasukannya untuk tetap melindungi warga Yahudi dan seluruh
kekayaannya, kecuali Kinana bin Rabi’ yang terbukti berbohong saat dimintai
keterangan Rasulullah.
Perlindungan
itu tampaknya sengaja diberikan oleh Rasulullah untuk menunjukkan beda
perlakuan kalangan Islam dan Kristen terhadap pihak yang dikalahkan. Biasanya,
pasukan Kristen dari kekaisaran Romawi akan menghancurludeskan kelompok Yahudi
yang dikalahkannya. Sekarang kaum Yahudi Khaibar diberi kemerdekaan untuk
mengatur dirinya sendiri sepanjang mengikuti garis kepemimpinan Muhammad dalam
politik.
Muhammad
sempat tinggal beberapa lama di Khaibar. Ia bahkan nyaris meninggal lantaran
diracun. Diriwayatkan bahwa Zainab binti Harith menaruh dendam pada Muhammad.
Sallam, suaminya, tewas dalam pertempuran Khaibar. Zainab lalu mengirim
sepotong daging domba untuk Muhammad. Rasulullah sempat mengigit sedikit daging
tersebut, namun segera memuntahkannya setelah merasa ada hal yang ganjil. Tidak
demikian halnya dengan sahabat Rasul, Bisyri bin Bara. Ia meninggal lantaran
memakan daging tersebut.
Khaibar
telah ditaklukkan. Rombongan pasukan Rasulullah kembali ke Madinah melalui
Wadil Qura, wilayah yang dikuasi kelompok Yahudi lainnya. Pasukan Yahudi
setempat mencegat rombongan tersebut. Sebagaimana di Khaibar, mereka kemudian
ditaklukkan pula. Sedangkan Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa
melalui peperangan.
Dengan
penaklukan tersebut, Islam di Madinah telah menjadi kekuatan utama di jazirah
Arab. Ketenangan masyarakat semakin terwujud. Dengan demikian, Muhammad dapat
lebih berkonsentrasi dalam dakwah membangun moralitas masyarakat.
Kaum
Yahudi menyerah dengan syarat membayar pajak dan memberikan tanahnya kepada umat Islam. Akibatnya,
mereka banyak yang menjadi hamba sahaya. Menurut Stillman, orang-orang Yahudi dari Bani Nadhir
tidak termasuk dalam perjanjian ini, dan seluruh orang bani Nadhir akhirnya
dibunuh, kecuali anak-anak dan wanita yang dijadikan budak. Setelah pertempuran
ini orang-orang Yahudi masih tinggal di Khaibar, hingga akhirnya diusir oleh khalifah Umar bin Khattab. Pembebanan pajak terhadap orang-orang Yahudi menandai
dimulainya penerapan jizyah
terhadap para dzimmi di
bawah pemerintahan Islam, dan penahanan tanah mereka menjadi milik komunitas
Islam.
Karena
kemenangan umat Islam dalam pertempuran ini, kata "Khaibar" sering
disebutkan dalam slogan, lagu, atau senjata-senjata buatan orang-orang Islam.
PERANG
MUT’AH
Perang ini merupakan pertermpuran paling heroic yang
dialami umat islam. Betapa tidak pasukan muslim yang hanya berjumlah 3000 orang
harus melawan pasukan romawi dengan kaisarnya Heraclius yang membawa pasukan
sebanyak 200.000 orang. Dinamakan perang mu’tah karena perang ini terjadi di
daerah mu’tah.
Perang
yang terjadi pada tanggal 5 jumadil awal tahun 8 H atau 629 M, ini adalah
perang berdarah pertama antara kaum muslim dan romawi. Perang ini untuk membuka menaklukan ke Negara-negara nasrani.
Setelah
Perjanjian Hudaibiyyah disepakati, Rasullulah
mengirimkan surat-surat dakwah sekaligus berdiplomasi kepada para penguasa
negeri yg berbatasan dengan jazirah arab, termasuk kepada Heraklius. Pada Tahun 7 hijriah atau 628 AD,
Rasulullah menugaskan al-Harits
bin ‘Umair
untuk mengirimkan surat dakwah kepada Gubernur Syam (Irak) bernama Hanits bin
Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi. Dalam
Perjalanan, di daerah sekitar Mut'ah, al-Harits
bin ‘Umair
dicegat dan dibunuh oleh penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani pemimpin dari suku Ghassaniyah (Pada waktu itu yang berkuasa di wilayah Palestina dan sekitarnya). Dan Pada tahun yg sama
Utusan Rasulullah pada Banu Sulayman dan Dhat al Talh daerah di sekitar negeri
Syam (Irak) juga dibunuh oleh penguasa sekitar. Sebelumnya, tidak pernah
seorang utusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dalam
misinya.
Penyebab perang mut’ah bermula ketika rasulullah saw.
Mengirim utusan bernama Al-harits bin umair al-Azdi ke penguasa bashra. Di
tengah perjalanan utusan ini ditangkap oleh syurahbil bin’amr al-ghassani dan
bani dasshaniyah dan dibawa kehadapan Heraclius. Setelah itu kepalanya dipenggal
pelecehan dan pembunuh utusan Negara menyalahi aturan politik Negara. Hal ini
membuat rasulullah saw geram dan marah.
Tiga orang sahabat di tunjuk untuk mengemban amanah
komando yaitu jafar bin abi thalib, zaid bin haritsah (berasal dari kaum
muhajirin) dan Abdullah bin rawahah dari anshar seorang penyair.
Pasukan
islam diberangkatkan. Ketika mereka sampai di ma’an, terdengar berita Heraclius
memsiapkan 200 ribu pasukannya. Mendengar kekuatan yang sangat besar pasuka
muslim berhenti selama dua malam di daerah itu untuk berunding langkah yang
akan di ambil. Singkatnya, pasukan islam yang berjumlah 3000 personel
diberangkatkan. Ketika mereka sampai di daerah Ma’an, terdengar berita bahwa
Heraklius mempersiapkan 100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari
beberapa suku Arab pun telah siap dengan jumlah yang sama. Mendengar kabar yang
demikian, sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum mengusulkan supaya meminta
bantuan pasukan kepada Rasulullah atau beliau memutuskan suatu perintah.
‘Abdullah
bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu lantas mengobarkan semangat juang para sahabat
radhiyallahu ‘anhum pada waktu itu dengan perkataannya , “Demi Allah,
sesungguhnya perkata yang kalian tidak sukai ini adalah perkata yang kamu
keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur dimedan perang dijalan Allah Azza wa
Jalla). Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan.
Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita
dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan
atau gugur (syahid) di medan perang.”
Orang-orang
menanggapi dengan berkata, “ Demi Allah, Ibnu Rawanah berkata benar”.
Zaid
bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Dua
pasukan berhadapan dengan sengit. Komandan pertama ini menebasi anak panah-anak
panah pasukan musuh sampai akhirnay tewas terbunuh di jalan Allah Azza wa
Jalla.
Bendera
pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sepupu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini berperang sampai tangan kanannya
putus. Bendera beliau pegangi dengan tangan kiri, dan akhirnya putus juga oleh
tangan musuh. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tak mengenal surut, saat
tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau
gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,
salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidakkurang
90 luka di bagian tubuh depan beliau baik akibat tusukan pedang dan maupun anak
panah.[14]
Giliran
‘Abdullah bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu pun datang. Setelah menerjang musuh,
ajal pun memjemput beliau di medan peperangan.
Tsabit
bin Arqam radhiyallahu ‘anhu mengambil bendera yang telah tak bertuan itu dan
berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin
kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu.
Dengan kecerdikan dan kecemerlangan siasat dan strategi – setelah taufik dari
Allah Azza wa Jalla – kaum muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami
kerugian yang banyak.
Penyebab
kemenangan kaum muslimdalam perang ini selain pertolongan dari Allah swt adalah
sebagai berikut.
1. Mobilisasi massif
Pasukan muslim ini merupakan yang berjumlah
paling besar di banding dengan perang ahzab.
2. Mengangkat dan
merekomendasikan komandan perang
Kalau zaid gugur zafar yang memegang pimpinan
dan kalau jafar gugur Abdullah bin rawahah yang memegang pimpinan. Itu
rekomendasi yang di berikan rasulullah.
3. Membuat aturan perang
Rasulullah berpesan kepada komando sebelum
keberangkatan mereka “berperanglah kalian ats nama Allah di jalan Allah melawan
orang-orang kafir kepada Allah. Jangan berhianat, jangan mencincang, jangan
membunuh anak-anak, wanita, orang yang sudah tua rentan, orang yang menyendiri
di biara nasrani, jangan menebang pohon kurma dan pohon apapun. Dan jangan
merobohkan bangunan.
4. Melepas keberangkatan pasukan
Rasulullah mengantarkan mereka sampai di
tsaniatul wad. Rusulullah mengatakan puncak dari agama adalah jihad di jalan
Allah.[1]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar