Rabu, 30 September 2015

GAGALNYA SEJARAH LOKAL



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
SNI, pada dasarnya, telah gagal karena tidak dapat menyajikan sejarah yang berfungsi sebagai identitas dan solideritas nasional. SNI yang disusun tidak sejalandengan kerangka teoritis dan metodologi yang dirancang oleh Sartono Kartodirdjo. Kegagalan SNI itu berpengaruh kepada sejarah lokal. Tidak adanya atau kurangnya hasil-hasil penelitian sejarah lokal di masing-masing lokalitas telah membuktikan kegagalan tersebut. Belum adanya studi-studi sejarah lokal yang dilakukan, baik ahli sejarh lokal itu sendiri maupun sejarahwan propesional menunjukan kepasifan sejarah di lingkungannya bisa terjadi karena kurangnya kesadaran sejarah. Masyarakat acuh tak acuh terhadap sejarah. Sejarah bukanlah sesuatu yang penting, karena tanpa sejarah semua orang bisa hidup. Pandangan itu sepintas memang dapat diterima, tapi untuk kehidupan dimasa depan, orang memerlukan evaluasi sosial dan cultural. Manusia juga memerlukan sejarah sebagai sarana untuk berefleksi. Tanpa sejarah, mereka tidak mungkin mengevaluasi diri dan berefleksi untuk menghadapi tantangan kedepan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa penyebab gagalnya sejarah lokal?
2.      Bagaimana cara Islam berkembang?
3.      Siapa saja tokoh – tokoh pada masa kejayaan islam ?


C.     Tujuan Penulisan
Makalah ini kami buat untuk memenuhi Tugas Sejarah lokal dimana yang Insya Allah akan dipresentasikan untuk bahan diskusi menjelang semester ganjil 2014/2015. Ada pun tujuan dari pembahasan makalah ini untuk mengingat kembali tentang kegagalan sejarah lokal, Dan
















BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Kenyataan di lapangan
            SNI, pada dasarnya, telah gagal karena tidak dapat menyajikan sejarah yang berfungsi sebagai identitas dan solideritas nasional. SNI yang disusun tidak sejalandengan kerangka teoritis dan metodologi yang dirancang oleh Sartono Kartodirdjo. Kegagalan SNI itu berpengaruh kepada sejarah lokal. Tidak adanya atau kurangnya hasil-hasil penelitian sejarah lokal di masing-masing lokalitas telah membuktikan kegagalan tersebut. Belum adanya studi-studi sejarah lokal yang dilakukan, baik ahli sejarh lokal itu sendiri maupun sejarahwan propesional menunjukan kepasifan sejarah di lingkungannya bisa terjadi karena kurangnya kesadaran sejarah. Masyarakat acuh tak acuh terhadap sejarah. Sejarah bukanlah sesuatu yang penting, karena tanpa sejarah semua orang bisa hidup. Pandangan itu sepintas memang dapat diterima, tapi untuk kehidupan dimasa depan, orang memerlukan evaluasi sosial dan cultural. Manusia juga memerlukan sejarah sebagai sarana untuk berefleksi. Tanpa sejarah, mereka tidak mungkin mengevaluasi diri dan berefleksi untuk menghadapi tantangan kedepan. Disisi lain, keaktifan lokalitas sering tidak didukung oleh kemampuan metodelogi dan metode sejarah dari sejarawan itu sendiri. Mangka dari itu, sejarawan memang harus belajar sedikit demi sedikit dari pengalamanya dalam proses berinteraksi dengan data sejarah dari lokalitasnya. Jika sejarawan ingin berhasil sebagai sejarawan paripurna, maka cara yang paling baik adalah mendapatkan banyak pengalaman di lapangan. Pengalaman itu menjadi guru baik. Keuletan seorang sejarawan diperlukan karena meneliti sejarah lokal lebih banyak mengeluarkan biaya dari pada memperoleh biaya itu. Kalo ada biaya biasanya tidak memadai. Biaya sering menjadi salah satu factor yang menentukan dalam penelitian sejarah lokal. Sumber sejarah lokal sering tidak tersentuh dalam jangka panjang sehingga secara bertahap mengalami kemusnahan,terutama sumber sejarah lisan. Kemudian, sumber sejarah lisan beralih bentuk menjadi tradisi lisan sehingga mengalami keliaran dan distorsi karena tidak ada standardisasi. Sementara itu, sumber sejarah pada priode prasejarah, zaman hindu-budha, dan zaman islam,atau bahkan hampirseluruh priode, sumber atau data menjadi terbatas dan fragmentaris (terpotong-potong). Kenyataan ini sering menjadi sejarahwan lokal yang terbatas menjadi tumbang dan tidak bisa bangkit untuk menantang tanmtangan lokalitas agar sejarah nenek moyang bisa dilestarikan.


2.2 Kurang Terlibanya Sejarawan Senior
            Sejarawan senior sering tidak atau kurang menghasilkan penelitian sejarah lokal. Sejarawan senior hanya duduk di menara gading dengan kenyamanan sebagai komentator sejarah di televise, Koran, majalah, dan masuk dalam budaya popular sehingga mereka seperti artis saja. Sejarawan senior juga nyaman dengan menulis kata pengantar pada buku sejarah yang diterbitkan, baik karya terjemahan buku asing atau karya penelitian. Sejarawan senior tidak melahirkan kader-kader sejarawan yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk meneliti dan menulis sejarah lokal. Sejarawan senior tidak sanggup memotivasi para penggemar sejarah lokal dan para sejarawan amatir yang berminant untuk meneliti sejarah lokal. Sejarawan senior tidak berani turun gunung sendiri karena ketidakmampuan untuk menguasai pengetahuan dan latar belakang suatu lokalitas. Turun gunung berarti harus berkerja secara totalitas atau memulai pekerjaan dari titik nol. Para sejarawan profesional atau sejarawan yang berpengalaman enggan terlibat dalam proyek penulisan sejarah lokal karena memang tidak mudah . disamping metodologi dan metode sejarah, sejarawan harus mempunyai pengalaman dalam pemahaman materi dan latar belakang budaya dari suatu lokalitas. Banyak terjadi sejarawan senior tidak mengimbangi kemampuan orang-orang lokal dan hanya berkedudukan sebagai anak bawang dan hal itu tidak nyaman bagi sejarawan senior. Sejarawan senior sering dipermalukan oleh orang-orang lokal ketika meraka berdebat meskipun orang-orang lokal tidak menguasai metodologi. Tetapi sering ngototdan percaya diri.

2.3 Penelitian Sejarah Lokal sebagai Pesanan
            Sejarah lokal sering ditulis sebagai suatu pesanan,yang mengakibatkan hasilnya mencerminkan tergesah-gesaan (dikejar proyek). Proyek sejarah sebagai karya pesanan adalah penulisan hari jadi kabupaten. Ketika setiap kabupaten diwajibkan mempunyai hari jadi, maka sebagian besar kabupaten berlomba-lomba menulis hari jadinya (Zuhdi, 2007b: 121-122). Proyek bisa dibatasi oleh waktu. Peneliti dalam waktu yang singkat dapat memperoleh data hari jadi. Salah satu hal yang paling menyulitkan adalah bahwa dilokalitas sering tidak memberikan data yang akurat tentang waktu yang berkenaan dengan kapan suatu kabupaten didirikan. Kalau kabupaten didirikan pada masa kolonoial, maka peneliti tinggal mencari data pembentukan dari arsip. Tanggal, bulan, dan tahun akan mudah diperoleh. Persoalanya adalah suatu kabupaten sudah ada sebelum zaman colonial. Yang sulit adalah ketika kabupaten itu dibentuk pada masa demak, pajang, dan awal mataram. Pada priode peralihan dari majapahit kemataram memang menghadapi data sejarah yang tidak menyebut unsur penaggalan atau kalender Hijriyah yang lengkap.


2.4 Lemahnya Kerangka Konseptual
            Ada fenomena penulisan SNI ditingkat lokal: (1) tidak ada acuan (referensi); (2) lemahnya kerangka konseptual; dan (3) model penulisan sejarah lokal. Acuan atau referensi tergantung keberadan koleksi perpustakaan di daerah. Kurangnya referensi itu tergantung juga dengan penelitinya. Banayak orang yang tidak senang membeli buku untuk mempersenjatai diri. Persoalan pribvadi peneliti itu berelasi dengan kebiasaan dari sejak mahasiswa. Mahasiswa yang gemar membaca dan membeli buku tidak akan kekurangan referensi. Mahasiswa sejarah karena harus multidimensional dalam pendekatannya juga dituntut membaca dan membeli buku ilmu apa saja, yang penting bisa dipakai sebagai ilmu bantu. Pada zaman sekarang, orang memang begitu mudah mengakses internet. Namun tidak semua pustaka atau referensi bisa diakses. Peneliti sejarah banyak mencari referensi yang setua mungkin hingga yang terbaru. Kelemahan yang paling hakiki adalah lemahnya kerangka konsseptual. Itu disebabkan oleh kurangnya bacaan terhadap referensi, terutama yang berisi teori dan konse-konsep ilmu sejarah. Bacaan teori dapat diperoleh dari hasil-hasil penelitian. Suatu penelitian itu dapat menghasilkan teori baru. Atau peneliti membaca buku teori-teori yang sudah diterbitkan. Penguasaan banyak teori dengan segala kelebihan dan kelemahanya, dapat dipilih teori yang relevan dengan subject matter. Teori konflik, misalnya mempunyai perspektif yang berbeda, yaitu perspektif Hegelian, perspektif weberian, perspektif Marxian, dll. Masalah medel penulisan sejarah memang sulit karena setiap topic penelitian sejarah belum ada modelnya. Setiap topic baru akan memunculkan model yang baru juga sehingga setiap penelitian harus mencari model sendiri-sendiri. Model-model yang mendekati bisa dipelajari agar dapat membuat model. Tidak mudah membuat suatu model penelitian. apalagi jika karakteristik kelokalannya diperhitungkan.
            Ketiga fenomena di atas bagi sejarawan amatir dilokal harus dihadapi dengan kemauan agar kemampuan diri dapat meningkat menjadi sejarawan professional. Sejarawan professional mempunyai kemampuan dalam menghitung segala macam bahan higga dapat mendekati perkiraan yang paling dekat dengan kenyataan historis. Tinggi kadar imajinasi historis, dan kepekaan dalam usaha utuk mengerti dan memahami sumber. 





2.5 Rumah Lancang (Rumah Tradisional Kabupaten Kampar, Provinsi Riau)
Asal-Usul
Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas.
Rumah Lancang merupakan Rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kolong rumah sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang kayu, sebagai persiapan menyambut bulan puasa. Selain itu, pembangunan Rumah berbentuk panggung sehingga untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang mempunyai anak tangga berjumlah ganjil, lima, merupakan bentuk ekspresi keyakinan masyarakat.
Dinding luar Rumah Lancang seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok tumpuan dinding luar depan melengkung ke atas, dan, terkadang, disambung dengan ukiran pada sudut-sudut dinding, maka terlihat seperti bentuk perahu. Balok tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak semelengkung balok tumpuan. Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung diberi hiasan yang disebut sulo bayung. Sedangkan sayok lalangan merupakan ornamen pada keempat sudut cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya.
Keberadaan Rumah Lancang, nampaknya, merupakan hasil dari proses akulturasi arsitektur asli masyarakat Kampar dan Minangkabau. Dasar dan dinding Rumah yang berbentuk seperti perahu merupakan ciri khas masyarakat Kampar, sedangkan bentuk atap lentik (Lontik) merupakan ciri khas arsitektur Minangkabau. Proses akulturasi arsitektur terjadi karena daerah Kampar merupakan alur pelayaran, Sungai Mahat, dari Lima Koto menuju wilayah Tanah Datar di Payakumbuh, Minangkabau. Daerah Lima Koto mencakup Kampung Rumbio, Kampar, Air, Tiris, Bangkinang, Salo, dan Kuok. Oleh karena Kampar merupakan bagian dari alur mobilitas masyarakat, maka proses akulturasi merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Hasil dari proses akulturasi tersebut nampak dari keunikan Rumah Lancang yang sedikit banyak berbeda dengan arsitektur bangunan di daerah Riau Daratan dan Riau Kepulauan.
 a. Tari Makan Sirih, biasanya disebut tari persembahan yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu atau pembukaan acara-acara tertentu. Tarian ini menggambarkan bahwa orang melayu Riau menghargai hubungan persahabatan dan kekerabatan.
Tari Makan Sirih hingga kini masih sering dipertunjukkan dalam perhelatan-perhelatan besar untuk menyambut tamu. Oleh karena itu, tari ini disebut juga dengan Tari Persembahan Tamu. Adanya tari penyambutan untuk tamu menunjukkan bahwa, orang Melayu sangat menghargai hubungan persahabatan dan kekerabatan (Haji Tengku M. Lah Husny, 2001).  
Gerakan Tari Makan Sirih umumnya menggunakan gerakan pada Tari Lenggang Patah Sembilan. Meskipun demikian, ada perbedaan nama gerakannya di mana untuk Tari Makan Sirih hanya terdapat 2 gerakan saja, yaitu gerakan lenggang patah sembilan tunggal dan ganda. Sedangkan pada Tari Lenggang Patah Sembilan terdapat 3 bagian gerakan, yaitu lenggang di tempat, lenggang memutar satu lingkaran, dan lenggang maju atau berubah arah (Tengku Mira Sinar, ed., 2009).  
Penari Tari Makan Sirih ini harus memahami istilah-istilah khusus dalam tarian Melayu, seperti igal (menekankan pada gerakan tangan dan badan), liuk (gerakan menundukkan atau menganyunkan badan), lenggang (berjalan sambil menggerakkan tangan), titi batang (berjalan dalam satu garis bagai meniti batang), gentam (menari sambil menghentakkan tumit kaki), cicing (menari sambil berlari kecil), legar (menari sambil berkeliling 180 derajat), dan lainnya (Sinar, ed., 2009).  
b. Penari dan Busana 
Tari Makan Sirih pada umumnya ditarikan oleh pasangan muda-mudi. Namun, pada perkembangannya tari ini juga dapat ditarikan oleh pasangan yang lebih tua. Untuk busana, penari Tari Makan Sirih umumnya memakai busana adat khas Melayu lengkap, yakni celana, baju, dan kopiah untuk laki-laki, serta kebaya, selendang, dan hiasan kepala bagi perempuan.  
c. Musik Pengiring
Tari Makan Sirih termasuk tari yang bertema gembira. Tari ini diriingi oleh musik khas Melayu yang rancak serta lagu Makan Sirih yang penggalan liriknya berbunyi sebagai berikut:
Makan sirih ujunglah ujungan aduhai lah sayang
Kurang lah kapur tambah lah ludah

Hidupku ini untunglah untungan aduhai lah sayang
Sehari lah senang seharilah susah
 
d. Ragam Gerak
Dengan iringan lagu Melayu, suasana dan aroma Melayu begitu kental dalam tarian ini. Ragam gerakan tari Makan Sirih berjumlah 8 gerakan, yang terdiri dari 14x8 ketukan. Gerak lenggang secara umum dibagi atas 3, yaitu lenggang di tempat, lenggang maju mengubah arah, dan lenggang memutar satu lingkaran.

e. Bolu Kemojo

Bolu Kemojo adalah makanan khas Pekanbaru, yang dipopulerkan kembali oleh ibu Dinawati yaitu pada tahun 1998. Kue Bolu ini sebelumnya hanya dibuat untuk sekedar konsumsi dalam keluarga saja, dan tidak dijual secara komersial apalagi dijual sebagai makanan oleh-oleh kota pekanbaru. Tapi dengan tekad yang kuat untuk menjadikan kue bolu ini sebagi makanan khas riau, dan kemudian beliau merintis membuka gerai pertamanya yang berkantor di Jalan Pelajar, yang sekarang jalan tersebut berubah menjadi Jalan lain. 








f. Lempuk Durian

Lempuk Durian adalah salah satu Jenis Makanan Khas dari Riau yang terbuat dari Durian, lempuk ini berbentuk seperti dodol. Selain di Riau,lempuk juga dapat dijumpai di daerah lain di Sumatera. Siapa yang tak kenal dengan lempuk durian, "Makanan Khas Riau" ini berasal dari Kabupaten Bengkalis, bahkan lempuk sudai menjadi ikon Bengkalis, jika kita berkunjung ke Bengkalis kurang lengkapnya jikanya tidak membeli buah tangan Lempuk Durian.


g. Ikan Salai

Ikan Salai adalah ikan basah yang masih segar lalu dikeringkan melalui proses pengasapan. Ikan Salai merupakan salah satu menu makanan yang cukup terkenal terutama bagi masyarakatRiau  yang tinggal di sepanjang sungai-sungai besar yang ada di Riau , salah satunya di Kabupaten Pelalawan.


















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
            Sejarawan senior sering tidak atau kurang menghasilkan penelitian sejarah lokal. Sejarawan senior hanya duduk di menara gading dengan kenyamanan sebagai komentator sejarah di televise, Koran, majalah, dan masuk dalam budaya popular sehingga mereka seperti artis saja. Sejarawan senior juga nyaman dengan menulis kata pengantar pada buku sejarah yang diterbitkan, baik karya terjemahan buku asing atau karya penelitian. Sejarawan senior tidak melahirkan kader-kader sejarawan yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk meneliti dan menulis sejarah lokal. Sejarawan senior tidak sanggup memotivasi para penggemar sejarah lokal dan para sejarawan amatir yang berminant untuk meneliti sejarah lokal Ketiga fenomena di atas bagi sejarawan amatir dilokal harus dihadapi dengan kemauan agar kemampuan diri dapat meningkat menjadi sejarawan professional. Sejarawan professional mempunyai kemampuan dalam menghitung segala macam bahan higga dapat mendekati perkiraan yang paling dekat dengan kenyataan historis. Tinggi kadar imajinasi historis, dan kepekaan dalam usaha utuk mengerti dan memahami sumber. 







DAFTAR PUSTAKA

diakses pada tanggal 16 juni 2015 jam 09.00

diakses pada tanggal 16 juni 2015 jam 09.15

Priyadi,  Sugeng. 2012.Sejarah Lokal. Jogjakarta: Ombak.
Suwondo. Bambang. 1977/1978. Sejarah Daerah Riau. Jakarta : Balai Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar