BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
SNI, pada dasarnya, telah gagal karena tidak dapat menyajikan sejarah
yang berfungsi sebagai identitas dan solideritas nasional. SNI yang disusun
tidak sejalandengan kerangka teoritis dan metodologi yang dirancang oleh Sartono
Kartodirdjo. Kegagalan SNI itu berpengaruh kepada sejarah lokal. Tidak adanya
atau kurangnya hasil-hasil penelitian sejarah lokal di masing-masing lokalitas
telah membuktikan kegagalan tersebut. Belum adanya studi-studi sejarah lokal
yang dilakukan, baik ahli sejarh lokal itu sendiri maupun sejarahwan
propesional menunjukan kepasifan sejarah di lingkungannya bisa terjadi karena
kurangnya kesadaran sejarah. Masyarakat acuh tak acuh terhadap sejarah. Sejarah
bukanlah sesuatu yang penting, karena tanpa sejarah semua orang bisa hidup.
Pandangan itu sepintas memang dapat diterima, tapi untuk kehidupan dimasa
depan, orang memerlukan evaluasi sosial dan cultural. Manusia juga memerlukan
sejarah sebagai sarana untuk berefleksi. Tanpa sejarah, mereka tidak mungkin
mengevaluasi diri dan berefleksi untuk menghadapi tantangan kedepan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa penyebab
gagalnya sejarah lokal?
2.
Bagaimana cara Islam berkembang?
3.
Siapa saja tokoh – tokoh pada masa
kejayaan islam ?
C.
Tujuan Penulisan
Makalah ini kami buat untuk memenuhi
Tugas Sejarah lokal dimana yang Insya Allah akan dipresentasikan untuk bahan
diskusi menjelang semester ganjil 2014/2015. Ada pun tujuan dari pembahasan
makalah ini untuk mengingat kembali tentang kegagalan sejarah lokal, Dan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kenyataan di
lapangan
SNI, pada dasarnya, telah gagal
karena tidak dapat menyajikan sejarah yang berfungsi sebagai identitas dan
solideritas nasional. SNI yang disusun tidak sejalandengan kerangka teoritis
dan metodologi yang dirancang oleh Sartono Kartodirdjo. Kegagalan SNI itu
berpengaruh kepada sejarah lokal. Tidak adanya atau kurangnya hasil-hasil
penelitian sejarah lokal di masing-masing lokalitas telah membuktikan kegagalan
tersebut. Belum adanya studi-studi sejarah lokal yang dilakukan, baik ahli
sejarh lokal itu sendiri maupun sejarahwan propesional menunjukan kepasifan
sejarah di lingkungannya bisa terjadi karena kurangnya kesadaran sejarah.
Masyarakat acuh tak acuh terhadap sejarah. Sejarah bukanlah sesuatu yang
penting, karena tanpa sejarah semua orang bisa hidup. Pandangan itu sepintas
memang dapat diterima, tapi untuk kehidupan dimasa depan, orang memerlukan
evaluasi sosial dan cultural. Manusia juga memerlukan sejarah sebagai sarana
untuk berefleksi. Tanpa sejarah, mereka tidak mungkin mengevaluasi diri dan
berefleksi untuk menghadapi tantangan kedepan. Disisi lain, keaktifan lokalitas
sering tidak didukung oleh kemampuan metodelogi dan metode sejarah dari
sejarawan itu sendiri. Mangka dari itu, sejarawan memang harus belajar sedikit
demi sedikit dari pengalamanya dalam proses berinteraksi dengan data sejarah
dari lokalitasnya. Jika sejarawan ingin berhasil sebagai sejarawan paripurna,
maka cara yang paling baik adalah mendapatkan banyak pengalaman di lapangan.
Pengalaman itu menjadi guru baik. Keuletan seorang sejarawan diperlukan karena
meneliti sejarah lokal lebih banyak mengeluarkan biaya dari pada memperoleh
biaya itu. Kalo ada biaya biasanya tidak memadai. Biaya sering menjadi salah
satu factor yang menentukan dalam penelitian sejarah lokal. Sumber sejarah
lokal sering tidak tersentuh dalam jangka panjang sehingga secara bertahap
mengalami kemusnahan,terutama sumber sejarah lisan. Kemudian, sumber sejarah
lisan beralih bentuk menjadi tradisi lisan sehingga mengalami keliaran dan
distorsi karena tidak ada standardisasi. Sementara itu, sumber sejarah pada
priode prasejarah, zaman hindu-budha, dan zaman islam,atau bahkan hampirseluruh
priode, sumber atau data menjadi terbatas dan fragmentaris (terpotong-potong).
Kenyataan ini sering menjadi sejarahwan lokal yang terbatas menjadi tumbang dan
tidak bisa bangkit untuk menantang tanmtangan lokalitas agar sejarah nenek
moyang bisa dilestarikan.
2.2 Kurang Terlibanya
Sejarawan Senior
Sejarawan senior sering tidak atau
kurang menghasilkan penelitian sejarah lokal. Sejarawan senior hanya duduk di
menara gading dengan kenyamanan sebagai komentator sejarah di televise, Koran,
majalah, dan masuk dalam budaya popular sehingga mereka seperti artis saja.
Sejarawan senior juga nyaman dengan menulis kata pengantar pada buku sejarah yang
diterbitkan, baik karya terjemahan buku asing atau karya penelitian. Sejarawan
senior tidak melahirkan kader-kader sejarawan yang mempunyai kemauan dan
kemampuan untuk meneliti dan menulis sejarah lokal. Sejarawan senior tidak
sanggup memotivasi para penggemar sejarah lokal dan para sejarawan amatir yang
berminant untuk meneliti sejarah lokal. Sejarawan senior tidak berani turun
gunung sendiri karena ketidakmampuan untuk menguasai pengetahuan dan latar
belakang suatu lokalitas. Turun gunung berarti harus berkerja secara totalitas
atau memulai pekerjaan dari titik nol. Para sejarawan profesional atau
sejarawan yang berpengalaman enggan terlibat dalam proyek penulisan sejarah
lokal karena memang tidak mudah . disamping metodologi dan metode sejarah,
sejarawan harus mempunyai pengalaman dalam pemahaman materi dan latar belakang
budaya dari suatu lokalitas. Banyak terjadi sejarawan senior tidak mengimbangi
kemampuan orang-orang lokal dan hanya berkedudukan sebagai anak bawang dan hal
itu tidak nyaman bagi sejarawan senior. Sejarawan senior sering dipermalukan
oleh orang-orang lokal ketika meraka berdebat meskipun orang-orang lokal tidak
menguasai metodologi. Tetapi sering ngototdan percaya diri.
2.3 Penelitian
Sejarah Lokal sebagai Pesanan
Sejarah lokal sering ditulis sebagai
suatu pesanan,yang mengakibatkan hasilnya mencerminkan tergesah-gesaan (dikejar
proyek). Proyek sejarah sebagai karya pesanan adalah penulisan hari jadi
kabupaten. Ketika setiap kabupaten diwajibkan mempunyai hari jadi, maka
sebagian besar kabupaten berlomba-lomba menulis hari jadinya (Zuhdi, 2007b:
121-122). Proyek bisa dibatasi oleh waktu. Peneliti dalam waktu yang singkat
dapat memperoleh data hari jadi. Salah satu hal yang paling menyulitkan adalah
bahwa dilokalitas sering tidak memberikan data yang akurat tentang waktu yang
berkenaan dengan kapan suatu kabupaten didirikan. Kalau kabupaten didirikan
pada masa kolonoial, maka peneliti tinggal mencari data pembentukan dari arsip.
Tanggal, bulan, dan tahun akan mudah diperoleh. Persoalanya adalah suatu
kabupaten sudah ada sebelum zaman colonial. Yang sulit adalah ketika kabupaten
itu dibentuk pada masa demak, pajang, dan awal mataram. Pada priode peralihan
dari majapahit kemataram memang menghadapi data sejarah yang tidak menyebut
unsur penaggalan atau kalender Hijriyah yang lengkap.
2.4 Lemahnya Kerangka
Konseptual
Ada fenomena penulisan SNI ditingkat
lokal: (1) tidak ada acuan (referensi); (2) lemahnya kerangka konseptual; dan
(3) model penulisan sejarah lokal. Acuan atau referensi tergantung keberadan
koleksi perpustakaan di daerah. Kurangnya referensi itu tergantung juga dengan
penelitinya. Banayak orang yang tidak senang membeli buku untuk mempersenjatai
diri. Persoalan pribvadi peneliti itu berelasi dengan kebiasaan dari sejak mahasiswa.
Mahasiswa yang gemar membaca dan membeli buku tidak akan kekurangan referensi.
Mahasiswa sejarah karena harus multidimensional dalam pendekatannya juga
dituntut membaca dan membeli buku ilmu apa saja, yang penting bisa dipakai
sebagai ilmu bantu. Pada zaman sekarang, orang memang begitu mudah mengakses
internet. Namun tidak semua pustaka atau referensi bisa diakses. Peneliti
sejarah banyak mencari referensi yang setua mungkin hingga yang terbaru.
Kelemahan yang paling hakiki adalah lemahnya kerangka konsseptual. Itu
disebabkan oleh kurangnya bacaan terhadap referensi, terutama yang berisi teori
dan konse-konsep ilmu sejarah. Bacaan teori dapat diperoleh dari hasil-hasil
penelitian. Suatu penelitian itu dapat menghasilkan teori baru. Atau peneliti
membaca buku teori-teori yang sudah diterbitkan. Penguasaan banyak teori dengan
segala kelebihan dan kelemahanya, dapat dipilih teori yang relevan dengan subject matter. Teori konflik, misalnya
mempunyai perspektif yang berbeda, yaitu perspektif Hegelian, perspektif
weberian, perspektif Marxian, dll. Masalah medel penulisan sejarah memang sulit
karena setiap topic penelitian sejarah belum ada modelnya. Setiap topic baru
akan memunculkan model yang baru juga sehingga setiap penelitian harus mencari
model sendiri-sendiri. Model-model yang mendekati bisa dipelajari agar dapat
membuat model. Tidak mudah membuat suatu model penelitian. apalagi jika
karakteristik kelokalannya diperhitungkan.
Ketiga fenomena di atas bagi
sejarawan amatir dilokal harus dihadapi dengan kemauan agar kemampuan diri
dapat meningkat menjadi sejarawan professional. Sejarawan professional
mempunyai kemampuan dalam menghitung segala macam bahan higga dapat mendekati
perkiraan yang paling dekat dengan kenyataan historis. Tinggi kadar imajinasi historis, dan kepekaan dalam usaha
utuk mengerti dan memahami sumber.
2.5 Rumah Lancang (Rumah Tradisional
Kabupaten Kampar, Provinsi Riau)
Asal-Usul
Rumah Lancang atau Pencalang
merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar,
Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini
juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena
bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang
miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat
dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa
dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung
(bubungan) atapnya melentik ke atas.
Rumah Lancang merupakan Rumah
panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan
binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat
untuk menggunakan kolong rumah sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan
perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang kayu, sebagai
persiapan menyambut bulan puasa. Selain itu, pembangunan Rumah berbentuk
panggung sehingga untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang mempunyai
anak tangga berjumlah ganjil, lima, merupakan bentuk ekspresi keyakinan
masyarakat.
Dinding luar Rumah Lancang
seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok
tumpuan dinding luar depan melengkung ke atas, dan, terkadang, disambung dengan
ukiran pada sudut-sudut dinding, maka terlihat seperti bentuk perahu. Balok
tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak semelengkung balok tumpuan.
Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung
diberi hiasan yang disebut sulo bayung. Sedangkan sayok lalangan merupakan
ornamen pada keempat sudut cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang
menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya.
Keberadaan Rumah Lancang,
nampaknya, merupakan hasil dari proses akulturasi arsitektur asli masyarakat
Kampar dan Minangkabau. Dasar dan dinding Rumah yang berbentuk seperti perahu
merupakan ciri khas masyarakat Kampar, sedangkan bentuk atap lentik (Lontik)
merupakan ciri khas arsitektur Minangkabau. Proses akulturasi arsitektur
terjadi karena daerah Kampar merupakan alur pelayaran, Sungai Mahat, dari Lima
Koto menuju wilayah Tanah Datar di Payakumbuh, Minangkabau. Daerah Lima Koto
mencakup Kampung Rumbio, Kampar, Air, Tiris, Bangkinang, Salo, dan Kuok. Oleh
karena Kampar merupakan bagian dari alur mobilitas masyarakat, maka proses
akulturasi merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Hasil dari proses
akulturasi tersebut nampak dari keunikan Rumah Lancang yang sedikit banyak
berbeda dengan arsitektur bangunan di daerah Riau Daratan dan Riau Kepulauan.
a. Tari Makan Sirih, biasanya disebut tari persembahan
yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu atau pembukaan acara-acara
tertentu. Tarian ini menggambarkan bahwa orang melayu Riau menghargai hubungan
persahabatan dan kekerabatan.
Tari Makan Sirih hingga kini masih sering
dipertunjukkan dalam perhelatan-perhelatan besar untuk menyambut tamu. Oleh
karena itu, tari ini disebut juga dengan Tari Persembahan Tamu. Adanya
tari penyambutan untuk tamu menunjukkan bahwa, orang Melayu sangat menghargai
hubungan persahabatan dan kekerabatan (Haji Tengku M. Lah Husny, 2001).
Gerakan Tari Makan Sirih
umumnya menggunakan gerakan pada Tari Lenggang Patah Sembilan.
Meskipun demikian, ada perbedaan nama gerakannya di mana untuk Tari Makan
Sirih hanya terdapat 2 gerakan saja, yaitu gerakan lenggang patah
sembilan tunggal dan ganda. Sedangkan pada Tari Lenggang Patah Sembilan terdapat
3 bagian gerakan, yaitu lenggang di tempat, lenggang memutar satu
lingkaran, dan lenggang maju atau berubah arah (Tengku Mira
Sinar, ed., 2009).
Penari Tari Makan Sirih
ini harus memahami istilah-istilah khusus dalam tarian Melayu, seperti igal
(menekankan pada gerakan tangan dan badan), liuk (gerakan menundukkan
atau menganyunkan badan), lenggang (berjalan sambil menggerakkan
tangan), titi batang (berjalan dalam satu garis bagai meniti batang), gentam
(menari sambil menghentakkan tumit kaki), cicing (menari sambil berlari
kecil), legar (menari sambil berkeliling 180 derajat), dan lainnya
(Sinar, ed., 2009).
b. Penari dan Busana
Tari Makan Sirih pada umumnya
ditarikan oleh pasangan muda-mudi. Namun, pada perkembangannya tari ini juga
dapat ditarikan oleh pasangan yang lebih tua. Untuk busana, penari Tari
Makan Sirih umumnya memakai busana adat khas Melayu lengkap, yakni celana,
baju, dan kopiah untuk laki-laki, serta kebaya, selendang, dan hiasan kepala
bagi perempuan.
c. Musik Pengiring
Tari Makan Sirih termasuk
tari yang bertema gembira. Tari ini diriingi oleh musik khas Melayu yang rancak
serta lagu Makan Sirih yang penggalan liriknya berbunyi sebagai berikut:
Makan sirih ujunglah ujungan aduhai
lah sayang
Kurang lah kapur tambah lah ludah
Kurang lah kapur tambah lah ludah
Hidupku ini untunglah untungan aduhai lah sayang
Sehari lah senang seharilah susah
d. Ragam Gerak
Dengan iringan lagu Melayu, suasana
dan aroma Melayu begitu kental dalam tarian ini. Ragam gerakan tari Makan
Sirih berjumlah 8 gerakan, yang terdiri dari 14x8 ketukan. Gerak lenggang
secara umum dibagi atas 3, yaitu lenggang di tempat, lenggang maju
mengubah arah, dan lenggang memutar satu lingkaran.
e. Bolu Kemojo
Bolu Kemojo adalah makanan khas Pekanbaru, yang dipopulerkan kembali
oleh ibu Dinawati yaitu pada tahun 1998. Kue Bolu ini sebelumnya hanya dibuat
untuk sekedar konsumsi dalam keluarga saja, dan tidak dijual secara komersial
apalagi dijual sebagai makanan oleh-oleh kota pekanbaru. Tapi dengan tekad yang
kuat untuk menjadikan kue bolu ini sebagi makanan khas riau, dan kemudian
beliau merintis membuka gerai pertamanya yang berkantor di Jalan Pelajar, yang
sekarang jalan tersebut berubah menjadi Jalan lain.
f. Lempuk Durian
Lempuk Durian adalah salah satu Jenis Makanan Khas dari Riau yang
terbuat dari Durian, lempuk ini berbentuk seperti dodol. Selain di Riau,lempuk
juga dapat dijumpai di daerah lain di Sumatera. Siapa yang tak kenal dengan
lempuk durian, "Makanan Khas Riau" ini berasal dari Kabupaten
Bengkalis, bahkan lempuk sudai menjadi ikon Bengkalis, jika kita berkunjung ke
Bengkalis kurang lengkapnya jikanya tidak membeli buah tangan Lempuk Durian.
g. Ikan Salai
Ikan Salai adalah ikan basah yang masih segar lalu dikeringkan
melalui proses pengasapan. Ikan Salai merupakan salah satu menu makanan yang
cukup terkenal terutama bagi masyarakatRiau yang tinggal di
sepanjang sungai-sungai besar yang ada di Riau , salah satunya di Kabupaten
Pelalawan.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sejarawan
senior sering tidak atau kurang menghasilkan penelitian sejarah lokal.
Sejarawan senior hanya duduk di menara gading dengan kenyamanan sebagai
komentator sejarah di televise, Koran, majalah, dan masuk dalam budaya popular
sehingga mereka seperti artis saja. Sejarawan senior juga nyaman dengan menulis
kata pengantar pada buku sejarah yang diterbitkan, baik karya terjemahan buku
asing atau karya penelitian. Sejarawan senior tidak melahirkan kader-kader
sejarawan yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk meneliti dan menulis
sejarah lokal. Sejarawan senior tidak sanggup memotivasi para penggemar sejarah
lokal dan para sejarawan amatir yang berminant untuk meneliti sejarah lokal
Ketiga fenomena di atas bagi sejarawan amatir dilokal harus dihadapi dengan
kemauan agar kemampuan diri dapat meningkat menjadi sejarawan professional.
Sejarawan professional mempunyai kemampuan dalam menghitung segala macam bahan
higga dapat mendekati perkiraan yang paling dekat dengan kenyataan historis. Tinggi kadar imajinasi
historis, dan kepekaan dalam usaha utuk mengerti dan memahami sumber.
DAFTAR PUSTAKA
diakses pada tanggal 16 juni 2015 jam 09.00
diakses pada tanggal 16 juni 2015 jam 09.15
http://akhirnya-tau.blogspot.com/2013/10/11-makanan-khas-melayu-riau.html diakses pada tanggal 19 juni 2015 jam 14.00
Priyadi, Sugeng. 2012.Sejarah Lokal. Jogjakarta: Ombak.
Suwondo.
Bambang. 1977/1978. Sejarah Daerah Riau. Jakarta
: Balai Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar