Holocaust
|
H
|
Oleh : Sakron
Fauzi &
Lucyana Kartika Puri
olocaust
adalah genosida terhadap sekitar enam juta penganut Yahudi Eropa selama perang
dunia II, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh negara Jerman
Nazi, di pimpin oleh Adolf Hitler, dan berlangsung diseluruh wilayah yang
dikuasai oleh Nazi. Dari Sembilan juta Yhudi yang tinggal di Eropa sebelum
Holocaust, sekitar dua pertiganya tewas. Secara khusus, lebih dari satu juta
anak Yahudi tewas dalam holocaust, serta kira-kira dua juta wanita Yahudi dan
tiga juta pria Yahudi tewas.
Menurut Niewyk, dkk (2000), Beberapa pakar berpendapat
bahwa definisi Holocaust harus meliputi pula genosida Nazi terhadap jutaan
orang dalam kelompok lain selain Yahudi, di antaranya orang Rom, komunis, tawanan perang Soviet,
warga Polandia
dan Soviet, homoseksual, orang cacat, Saksi Yehuwa
dan musuh politik dan keagamaan
lainnya, yang menjadi korban terlepas apakah mereka berasal dari etnis Jerman
atau bukan. Ini adalah definisi yang paling umum digunakan sejak akhir Perang
Dunia II hingga tahun 1960-an. Jika menggunakan definisi ini, maka jumlah
keseluruhan korban Holocaust adalah 11 hingga 17 juta
jiwa.[1]
Penyiksaan dan genosida dilakukan dalam beberapa tahap.
Sejumlah hukum untuk menghapuskan keberadaan orang Yahudi dari masyarakat
sipil, yang paling terkenal adalah Hukum Nuremberg,
diberlakukan di Jerman Nazi bertahun-tahun sebelum dimulainya Perang Dunia II. Kamp
konsentrasi didirikan yang di dalamnya para tahanan
diharuskan melakukan kerja paksa hingga mereka mati akibat kelelahan atau
penyakit. Ketika Jerman menaklukan wilayah baru di Eropa Timur,
satuan khusus yang disebut Einsatzgruppen membantai musuh-musuh
politik melalui penembakan massal. Nazi memerintahkan orang Yahudi dan Rom
untuk dikurung di ghetto
sebelum dipindahkan dengan kereta barang ke kamp pemusnahan. Di sana, jika mereka
selamat dalam perjalanan, sebagian besar dari mereka secara sistematis dibunuh
di dalam kamar gas.
Kamp-kamp pemusnahan dilengkapi dengan kamar gas untuk
tujuan pemusnahan massal secara sistematis. Metode ini merupakan fitur unik
dari Holocaust dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Tidak pernah
tercatat sebelumnya dalam sejarah di mana telah disediakan tempat dengan tujuan
untuk membunuh orang secara massal. Kamp-kamp ini didirikan di Auschwitz, Belzec, Chełmno, Jasenovac, Majdanek, Maly Trostenets, Sobibor,
dan Treblinka.
Dari awal pendirian kamp konsentrasi
pada masa Reich Ketiga,
sebenarnya kamp-kamp tersebut dimaksudkan sebagai tempat penahanan. Meskipun
angka kematian di kamp-kamp konsentrasi itu juga tinggi, dengan angka kematian
mencapai 50%, namun kamp-kamp tersebut tidak dirancang sebagai pusat pembunuhan
massal. Pada tahun 1942, enam kamp pemusnahan besar telah didirikan di wilayah Polandia
yang diduduki Nazi, yang dibangun semata-mata untuk tujuan pembunuhan massal.
Setelah tahun 1939, kamp-kamp ini semakin dipusatkan menjadi tempat di mana
orang-orang Yahudi dan tawanan perang (POW)
dibunuh atau dipekerjakan sebagai buruh budak, dan pada akhirnya banyak yang
kekurangan gizi dan disiksa. Diperkirakan bahwa Jerman membangun 15.000 kamp
dan sub-kamp di negara-negara yang mereka taklukkan, sebagian besar di Eropa Timur.
Kamp-kamp baru didirikan di wilayah-wilayah yang memiliki banyak penganut
Yahudi, intelektual Polandia, komunis, atau populasi Roma dan Sinti, termasuk
di Jerman. Transportasi tahanan sering dilakukan dalam kondisi yang mengerikan
dengan menggunakan kereta barang, di mana banyak yang meninggal sebelum
mencapai tujuan mereka.
Pemusnahan
melalui kerja paksa adalah salah satu kebijakan genosida
sistematis yang diterapkan oleh Jerman, di mana penghuni kamp akan dipekerjakan
sampai mati, atau bekerja sampai kelelahan, dan kemudian dijebloskan ke dalam
kamar gas atau ditembak mati. Pekerja budak digunakan untuk memproduksi logistik
perang, seperti roket V-2 di Mittelbau-Dora, dan berbagai produksi
senjata di sekitar kompleks kamp konsentrasi Mauthausen-Gusen.
Setelah para tahanan memasuki kamp, beberapa kamp akan mentato para tahanan
dengan sebuah ID tahanan. Para tahanan dipekerjakan selama 12 sampai 14 jam
perhari, dengan makanan yang tidak memadai, sehingga banyak di antara mereka
yang sekarat atau meninggal saat bekerja.[2]
Ciri khas
lainnya dari Holocaust adalah penggunaan subyek manusia dalam eksperimen medis. "Para dokter Jerman lebih
bersifat "Nazi" dibandingkan dengan para profesional lain dalam hal
keanggotaan partai," dan mereka melakukan berbagai eksperimen medis di kamp konsentrasi Auschwitz, Dachau, Buchenwald, Ravensbrück, Sachsenhausen,
dan Natzweiler.
Dokter Nazi yang paling terkenal
adalah Dr. Josef Mengele, yang melakukan eksperimennya di
Auschwitz. Eksperimennya ini termasuk menempatkan subyek dalam ruang
bertekanan, pengujian obat-obatan pada subyek, membekukan subyek, berusaha
untuk mengubah warna mata dengan cara menyuntikkan bahan kimia ke dalam mata
anak-anak dan berbagai eksperimen amputasi serta operasi brutal lainnya. Hasil akhir dari
eksperimennya ini tidak pernah diketahui karena catatan eksperimennya yang
dikirimkan pada Dr. Otmar
von Verschuer
di Kaiser Wilhelm Institute dihancurkan oleh von Verschuer.
Sebagian besar subyek yang berhasil selamat dari eksperimen Mengele selalu
berakhir dengan dibunuh, atau dibedah setelah eksperimen.
A. Alasan Hitler Membantai Kaum Yahudi
Ada ucapan emas yang sampai saat ini tidakakan pernah
dilupakan orang dari Hitler kaitan-nya dengan kebencian dan isu Holocaust
selama ini. Ucapan tersebut adalah : “Bisa
saja saya memusnahkan semua Yahudi di dunia, tpi saya sisakan sedikit saja yang
hidup, agar kamu tahu alasan saya membunuh mereka.”
Hitler mengatakan dalam bukunya mein kampf untuk diulas atau dibuktikan
ditahun-tahun yang akan datang. Kini, hamper 80 tahun setelah pristiwa
tersebut, kita dapat menelaah apa alasan hitler membantai warga minoritasnya
itu. Yahudi saat ini menjati kaum yang sangat kuat dan banyak. Mereka tersebar
hamper diseluruh negara di dunia ini. Mereka pintar dan sangat berpengaruh
sehingga berada di posisi-posisi penting pemegang kebijakan dunia. [3]
Terlepas dari fakta kaum yahudi
tersebut, menurut bebrapa pengamat setidaknya ada beberapa alasan Hilter
membunuh orang-orang yahudi :
1.
membunuh keristus. Ini adalah apa yang
disebut penyalipan yesus. Yahudi dipersalahkan oleh injil karena kejadian ini.
Menurut analis, tepat setelah kejadian, diseluruh eropa, penuntutan terhadap
orang yahudi dimulai. Contoh ekstrim adalah penganiayaan yahudi, termasuk
perang salib pertama 1096, pengusiran dari inggris pada 1290, inkuisis Spanyol,
pengusiran dari Spanyol pada 1492, dan pengusiran dariPortugal pada rahun 1497.
Holocaust sendiri merupakan klimaks kebencian berabad-abad ini, yang diciptakan
oleh greja keristen.
2. Ras
unggul arya. Menurut sejarawan, diyakini oleh Hitler bhwa jerman dianggap
sebagai ras unggul, yaitu arya dibandingkan dengan ras lain, seperti yahudi,
gipsi dan lainnya. Hitler menggunakan kepercayaan itu sebagai salah satu alasan
penting terjadinya Holocaust.
3. Depresi
besar dan kemerosotan ekonomi. Sejak tahun 1929, ekonomi jerman merosot tajam.
Hamper setiap kota merasakan dampaknya sehingga 6 juta orang tidak mendapat
pekerjaan. Kondisin ini justru menjadi sebaliknya bagi kaum yahudi. Selama dan
setelah jerman merosot, orang – orang yahudi mengalami kemajuan financial besar
sehingga membuat orang yahudi dicurigai Hitler telah melakukan propaganda
negative. Hitler kemudian menuduh yahudi berada dibalik kemerosostan ini dan
mengambil keuntungan-keuntungannya sendiri.[4]
1.
Korban
dari Yahudi
Sejak 1945, angka yang paling sering dikutip untuk
menyebutkan jumlah total yahudi yang tewas adalah 6 juta. Otoritas peringatan
pahlwan dan martir Holocaust, yah Vashem di Yerusalem mengyungkapkan bahwa
tidak ada angka yang tepat untuk m,enyebutkan jumlah Yahudi yang tewas. Angka
yang paling sering digunakan adalah 6 juta. Yang dikaitkan dengan kesaksian
Adolf Eichmann di persidangan. Enam juta yahudi yang tewas dalam Holocaust
berarti mewakili 60-75% dari total populasi Yahudi. Dari 3,3 juta Yahudi di
Polandia, lebih dari 90%-nya tewas. Proporsi yang sama juga berlaku di Latvia
dan Lithuania, namun sebagian besar Yahudi Estonia dievakuasi. Dari 750.000
populasi Yahudi di Jerman dan Austria pada tahun 1933, hanya sekitar seperempat
yang selamat.
Yahudi Jerman juga banyak yang
bertemigrasi sebelum tahun 1939, mayoritas melarikan diri ke Cekoslowakia,
Prancis atau Belanda, dan dari negara-negara ini mereka kemudian dideportasi
menuju kematian mereka. Di Cekoslowakia, yunani, Belanda, dan Yugoslavia, lebih
dari 70% Yahudi tewas. 50-70% populasi Yahudi tewas di Rumania, belgia dan
Hungaria. Ada kemungkinan bahwa persentase serupa tewas di Belarus dan Ukraina,
namun angka-angka ini kurangf akurat. Negara-negara dengan persentase kematian
Yhudi yang lebih rendah adalah Bulgaria, Denmark, Prancis, Italia, dan
Norwegia.
Alabnia merupakan satu-satunya negara
yang diduduki oleh Jerman yang memiliki populasi Yahudi lebih besar pada tahun
1945 dibandingkan pada tahun 1939. Sekitar 200 yahudi pribumi dan lebih dari
seribu pengungsi di Albenia difasilitasi dengan dokumen palsu, disembunyikan,
dan umumnya diperlakukan sebagai tamu terhormat di negara itu, yang penduduknya
kira-kira 60% muslim. Tujuan kampung nazi menyumbangkan setengah dari humlah
total Yahudi yang tewas dalam Holocaust secara keseluruhan.
Hampir
seluruh penduduk Yahudi di Polandia tewas di kamp-kamp. Selain mereka yang
tewas di kamp-kamp pemusnahan di atas, setidaknya setengah juta Yahudi juga
tewas di kamp-kamp lainya. Termasuk kamp konsentrasi pertama di Jerman.
Kamp-kamp ini bukan kamp-kamp pemusnahan, namun memiliki sejumlah besar tahanan
Yahudi, khususnya dalam tahun terakhir perang setelah Nazi mundur dari
Polandia. Sekitar satu juta orang tewas di kamp-kamp tersebut. Sekitar 800.000
hingga satu juta Yahudi lain-nya dibunuh oleh Einsatzgruppen di wilayah soviet yang diduduki Jerman. Banyak juga
Yahudi lainnya yang tewas karena dieksekusi atau penyakit dan kekurangan gizi
di ghetto-ghetto di Polandia sebelum mereka dideportasi.
2.
Bangsa
Slavia
Hitler menyetujui General
Plan East pada musim panas tahun 1942. Rencana ini memungkinkan untuk
dilakukannya pembasmian, pengusiran, atau perbudakan sebagian besar atau
seluruh bangsa Slavia dari kampung halaman mereka, sehingga menciptakan ruang
hidup yang lebih luar bagi para pemukim jerman.
3.
Etnis
Polandia
Pada
bulan November 1939, para penjabat jerman menyerukan penghancuran total semua
Etnis Polandia. Pada tahun 1952, Nazi mengharapkan hanya sekitar 3-4 juta dari
entis Polandia yang tinggal di Polandia dan sebagian besarnya berkerja sebagai
budak untuk pemukiman Jerman. Pada tanggal 22 agustus 1939 seminggu sebelum
pecahnya perang, Hitler menyatakan, “Objek perang adalah menghancurkan musuh
secara fisik. Itulah mengapa saya siapkan , untuk sementara hanya di timur,
formasi ‘kepala kematian’ saya diperintahkan untuk membunuh tanpa belas kasihan
semua pria, wanita, dan anak-anak keturunan Polandia atau yang berbahsa
Polandia. Hanya dengan cara itu kita bisa memperoleh ruang hidup yang kita
butuhkan. Nazi memutuskan untuk melakukan genosida terhadap etnis polandia pada
skala yang sama seperti terhadap etnis yahudi.” (Piotrowski, 1998).
Tindakan
yang diambil terhadap etnis Polandia pada kenyataannya tidak sama skalanya
dengan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi. Kebanyakan orang Yahudi
Polandia (sekitar 90% dari populasi pra-perang) tewas selama Holocaust,
sementara orang Kristen Polandia sebagian besar selamat dari pendudukan brutal
Jerman.[269] Antara 1,8 hingga 2,1 juta non-Yahudi di Polandia tewas di
tangan Jerman selama perang, sekitar empat perlima dari korban-korban tersebut
adalah etnis Polandia, dan sisanya merupakan etnis minoritas Ukraina dan Belarusia, sebagian besar adalah warga sipil. Setidaknya, 200.000
dari korban tersebut tewas di kamp konsentrasi, di mana sekitar 146.000 dibunuh di Auschwitz. Yang lainnya
tewas akibat pembantaian umum seperti dalam Pemberontakan
Warsawa, yang
menewaskan antara 120.000 hingga 200.000 warga sipil. Kebijakan Jerman di
Polandia antara lain dengan mengurangi jatah makanan, menurunkan standar
kebersihan dan merampas hak pelayanan medis penduduk. Angka kematian meningkat
dari 13 sampai 18 per seribu jiwa. Secara keseluruhan, sekitar 5,6 juta dari
para korban Perang Dunia II adalah warga negara Polandia, baik
Yahudi maupun non-Yahudi, atau 16 persen dari total populasi penduduk
pra-perang. Sekitar 3,1 dari 3,3 juta Yahudi Polandia dan sekitar 2 dari 31,7
juta non-Yahudi Polandia tewas di tangan Jerman selama perang. Menurut data
terbaru yang dirilis oleh IPN, lebih dari 2,5 juta non-Yahudi Polandia tewas akibat dari
pendudukan Jerman. Sedangkan lebih dari 90 persen dari korban tewas berasal
dari non-militer, karena sebagian besar warga sipil menjadi sasaran dari
berbagai tindakan yang dilakukan oleh Jerman Nazi dan Uni Soviet.
4.
Etnis
Serbia dan Slavia selatan
Pembunuhan pd II oleh tyentara Nazi terus dilakukan.
Tomasevich (2001) mencatat, Di
Balkan, lebih dari 581.000 bangsa Yugoslavia dibunuh oleh Nazi dan sekutu fasis Kroasia mereka di Yugoslavia.
Tentara Jerman, di bawah perintah dari Hitler, berjuang untuk memusnahkan etnis Serbia yang dianggap sebagai ras rendahan (Untermenschen).[277] Kolaborator Nazi, Ustaše, melakukan pemusnahan sistematis besar-besaran untuk alasan
politik, agama atau ras. Korban yang paling banyak berasal dari etnis Serbia.
Etnis Bosnia, Kroasia dan etnis lainnya juga dikirim dan tewas di kamp
konsentrasi Jasenovac. Museum
Memorial Holocaust Amerika Serikat (USHMM) menyatakan bahwa: "Pihak berwenang Ustaša
mendirikan sejumlah kamp konsentras di Kroasia antara tahun 1941 dan 1945.
Kamp-kamp ini digunakan untuk mengisolasi dan membunuh orang-orang Serbia,
Yahudi, Roma, Muslim Bosnia, dan minoritas non-Katolik lainnya, serta lawan
politik dan agama di Kroasia."
USHMM dan Perpustakaan Virtual Yahudi melaporkan bahwa antara 56.000
hingga 97.000 jiwa tewas di kamp konsentrasi Jasenovac.[278][279][280] Sedangkan Yad Vashem menyatakan bahwa secara keseluruhan, lebih dari 500.000
etnis Serbia dibantai "dengan cara yang mengerikan dan sadis" oleh
Ustaša.
Menurut penelitian terbaru dalam Bosnjaci
u Jasenovackom logoru ("Etnis Bosnia di kamp konsentrasi
Jasenovac") oleh penulis Nihad
Halilbegovic,
setidaknya 103.000 orang Muslim Bosnia tewas selama Holocaust di tangan rezim
Nazi dan Ustaše Kroasia. Menurut penelitian tersebut, "tidak diketahui
berapa jumlah total etnis Bosnia yang dibunuh di bawah nama etnis Serbia atau
Kroasia", dan "sejumlah besar Bosnia tewas dan terdaftar di bawah
populasi orang Roma", sehingga tidak tercatat saat dijatuhi hukuman mati
dan dimusnahkan.
Dengan pengecualian etnis Slovenia yang berada di bawah pemerintahan Italia, antara 20.000
hingga 25.000 orang Slovenia dibunuh oleh Nazi atau fasis (dengan menghitung
hanya jumlah korban sipil).
Adanya kerjasama antara Nazi dan Albania diikuti oleh penganiayaan besar-besaran terhadap komunitas
non-Albania (kebanyakan Serbia) oleh fasis Albania. Sebagian besar kejahatan
perang dilakukan oleh Divisi SS Skenderbeg dan Balli
Kombëtar. Fasis
Albania membantai sekitar 40.000 hingga 60.000 orang Serbia dan 200.000 lainnya
diusir dari Albania.
5.
Slavia Timur
Penduduk
sipil Soviet di daerah pendudukan Jerman juga tak luput dari kebiadaban tentara
Jerman. Ribuan petani desa di Rusia, Belarus dan Ukraina dibantai oleh tentara Jerman. Bohdan Wytwycky memperkirakan
bahwa sebanyak seperempat dari seluruh korban warga sipil Soviet yang tewas di
tangan Nazi dan sekutu mereka dipicu oleh motif rasial. Akademi Sains Rusia
pada tahun 1995 melaporkan bahwa korban sipil warga Uni Soviet di tangan
Jerman, termasuk orang-orang Yahudi, mencapai 13,7 juta jiwa, atau sekitar 20%
dari total 68 juta populasi di Uni Soviet yang diduduki Jerman. Jumlah ini
termasuk 7,4 juta korban genosida dan pembalasan Nazi yang tewas di kamp-kamp.
Di Belarus, Nazi bertanggung jawab
atas pembakaran sekitar 9.000 desa, mendeportasi sekitar 380.000 tenaga kerja
budak, dan membunuh ratusan ribu warga sipil. Lebih dari 600 desa, seperti Khatyn, dibakar bersamaan dengan seluruh
populasinya, dan setidaknya terdapat sekitar 5.295 pemukiman di Belarus yang
dimusnahkan oleh Nazi dengan beberapa atau semua penghuninya tewas. Tim Snyder
menyatakan: "Dari sembilan juta orang yang berada di wilayah Soviet
Belarus pada tahun 1941, sekitar 1,6 juta dibunuh oleh Jerman, termasuk sekitar
700.000 tawanan perang, 500.000 orang Yahudi, dan 320.000 orang yang dianggap
sebagai partisan, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil yang tidak
bersenjata."
6.
Tawanan
perang Soviet
Menurut
Michael Berenbaum, antara dua hingga tiga juta tawanan perang Soviet, atau
sekitar 57 persen dari keseluruhan tawanan perang Soviet, meninggal karena
kelaparan, penganiayaan, atau eksekusi antara bulan Juni 1941 hingga Mei 1945,
dan sebagian besar dari mereka tewas selama tahun pertama penahanan. Menurut
perkiraan lain oleh Daniel Goldhagen, sekitar 2,8 juta tawanan perang Soviet
diperkirakan tewas dalam delapan bulan antara tahun 1941-1942, dan totalnya
mencapai 3,5 juta pada pertengahan 1944. USHMM memperkirakan bahwa 3,3 juta dari
5,7 juta tawanan perang Soviet meninggal dalam tahanan Jerman—lebih besar
dibandingkan dengan 8.300 dari 231.000 tahanan Inggris dan Amerika. Tingkat
kematian menurun setelah tawanan perang yang dianggap layak dipaksa untuk
bekerja sebagai budak guna membantu Jerman dalam berperang. Pada tahun 1943,
kurang lebih setengah juta dari mereka telah digunakan sebagai pekerja paksa.
7.
Orang Romani
Karena orang Rom/Romani dan Sinti secara tradisional adalah bangsa yang
sekretif, dengan kebudayaan yang berdasarkan pada sejarah lisan, sedikit yang diketahui tentang pengalaman mereka saat
Holocaust dibandingkan dengan kelompok-kelompok lainnya. Yehuda
Bauer
mengungkapkan bahwa kekurangan informasi ini disebabkan oleh ketidakpercayaan,
kecurigaan, dan penghinaan terhadap kepercayaan dan tradisi mereka yang
dilanggar di Auschwitz. Bauer menyatakan bahwa
"sebagian besar orang Rom tidak bersedia menceritakan pengalaman mereka
selama penyiksaan." Akibatnya, sebagian besar dari mereka tetap diam dan
dengan demikian menambah efek dari trauma psikologis yang telah mereka alami.
Pemusnahan orang-orang Rom yang dilakukan
oleh Jerman Nazi di negara-negara yang mereka taklukkan berlangsung dengan
tidak konsisten. Di beberapa negara (misalnya Luksemburg dan negara-negara Baltik), Nazi membunuh hampir seluruh
penduduk Rom. Di negara lain (misalnya Denmark dan Yunani), tidak ada catatan mengenai orang Rom yang
dijadikan sasaran pembunuhan massal.
Donald Niewyk dan Frances Nicosia menyatakan
bahwa korban tewas setidaknya 130.000 dari hampir satu juta orang Rom dan Sinti
yang terdapat di negara-negara Eropa yang ditaklukkan oleh Jerman Nazi.
Sedangkan Michael Berenbaum menyatakan bahwa jumlah korban antara 90.000 dan
220.000 jiwa. Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Sybil Milton, sejarawan senior di USHMM,
mengungkapkan bahwa jumlah orang Rom dan Sinti yang menjadi korban setidaknya
220.000 dan mungkin mendekati 500.000, tapi studi ini secara eksplisit
mengecualikan Negara Independen Kroasia, di mana di negara ini pemusnahan
terhadap orang Rom sangat intensif. Martin Gilbert memperkirakan bahwa lebih
dari 220.000 dari total 700.000 orang Rom di Eropa menjadi korban Holocaust. Ian
Hancock, Direktur
dari Program Studi Romani dan Pusat Dokumentasi dan Arsip Romani di Universitas
Texas berpendapat
bahwa angka korban tewas berkisar antara 500.000 hingga 1.500.000 jiwa. Hancock
menyatakan bahwa "secara proporsional, jumlah korban tewas setara, dan
hampir melebihi jumlah korban Yahudi".
Sebelum dikirim ke kamp-kamp, para
korban Romani digiring ke ghetto, termasuk beberapa ratus orang ke Ghetto Warsawa. Di timur, tim Einsatzgruppen melacak perkemahan Romani dan
membunuh semua penghuninya, tanpa mencatat jumlah korban. Mereka juga dijadikan
sasaran oleh rezim boneka yang bekerjasama dengan Nazi, misalnya rezim Ustaše di Kroasia, tempat sejumlah besar orang Romani tewas di kamp konsentrasi Jasenovac. Analis genosida Helen
Fein menyatakan bahwa tentara-tentara
Ustaše telah membunuh hampir semua orang Romani di Kroasia.
Pada bulan Mei 1942, status orang
Romani ditempatkan di bawah undang-undang perburuhan dan sosial yang sama
seperti orang-orang Yahudi. Pada tanggal 16 Desember 1942, Heinrich Himmler, Komandan SS dan orang yang dianggap sebagai "arsitek" dari
genosida Nazi, mengeluarkan sebuah dekrit yang menyatakan bahwa "Gypsy Mischlinge
(keturunan campuran), Romani, dan anggota klan asal Balkan yang tidak memiliki
darah Jerman harus dikirim ke Auschwitz, kecuali mereka pernah bertugas di Wehrmacht". Pada tanggal 29 Januari 1943, keputusan lain
memerintahkan deportasi semua orang Romani Jerman ke Auschwitz. Tanggal 15
November 1943, Himmler memerintahkan bahwa di daerah Soviet yang diduduki
Jerman, "Gipsi yang menetap dan setengah-Gipsi (Mischlinge) boleh
diperlakukan sebagai warga negara. Sedangkan Gipsi Nomaden lainnya diperlakukan
pada tingkat yang sama seperti orang-orang Yahudi dan ditempatkan di kamp-kamp
konsentrasi."
8. Kulit Hitam
Jumlah orang
kulit hitam di Jerman saat Nazi berkuasa diperkirakan sebanyak
5.000-25.000 jiwa. Tidak jelas apakah jumlah ini juga termasuk orang Asia.
Menurut Museum
Memorial Holocaust Amerika Serikat, "nasib orang kulit hitam antara tahun 1933-1945 di
Jerman Nazi dan negara-negara yang didudukinya diliputi oleh penganiayaan,
sterilisasi, eksperimen medis, penahanan, kebrutalan, dan
pembunuhan. Namun, tidak ada kebijakan resmi untuk memusnahkan mereka secara
sistematis seperti halnya orang-orang Yahudi dan kelompok lainnya." Selain
itu, orang-orang Afrika, Berber, Iran, dan India digolongkan sebagai bangsa Arya, sehingga mereka tidak
dianiaya.
9. Disabilitas dan gangguan mental
Aksi T4 adalah suatu program yang dibentuk pada tahun 1939 dengan
tujuan untuk menjaga "kemurnian" genetik dari penduduk Jerman dengan
membunuh atau mensterilkan warga Jerman dan Austria yang dinilai menderita cacat fisik atau gangguan mental.
Antara tahun 1939 dan 1941, sebanyak
80.000 hingga 100.000 orang dewasa, 5.000 anak-anak, dan 1.000 orang Yahudi
yang sakit mental di lembaga-lembaga pengobatan kejiwaan tewas. Di luar
lembaga-lembaga tersebut, para pakar memperkirakan bahwa sebanyak 20.000 korban
tewas (menurut Dr. Georg Renno, direktur dari pusat euthanasia Schloss Hartheim), atau lebih dari 400.000 jiwa (menurut Frank Zeireis,
komandan kamp konsentrasi Mauthausen. 300.000 lainnya disterilkan secara
paksa. Secara keseluruhan, diperkirakan bahwa jumlah korban dengan gangguan
mental yang tewas mencapai angka 200.000 jiwa, meskipun pembunuhan massal
terhadap orang-orang ini mendapat perhatian yang relatif sedikit ketimbang
terhadap orang-orang Yahudi. Sama dengan orang-orang dengan disabilitas (cacat
fisik), pengidap dwarfisme juga dianiaya. Mereka ditempatkan
di kandang-kandang dan dijadikan bahan eksperimen oleh Nazi. Setelah adanya
protes keras dari gereja-gereja Katolik dan Protestan Jerman pada tanggal 24 Agustus 1941, Hitler
akhirnya memerintahkan pembatalan program T4.
Program Aksi T4 ini dikepalai oleh Philipp Bouhler, kepala kanselir pribadi Hitler (Kanzlei des Führer der NSDAP)
dan Karl
Brandt, dokter
pribadi Hitler. Brandt diadili pada bulan Desember 1946 di Nuremberg, bersama dengan 22 orang lainnya
dalam pengadilan khusus yang dikenal sebagai United States of America vs.
Karl Brandt et al., juga dikenal sebagai Pengadilan Dokter. Dia digantung di Penjara
Landsberg pada
tanggal 2 Juni 1948.
10. Homoseksual
Antara 5.000
hingga 15.000 homoseksual berkebangsaan Jerman diperkirakan telah dikirim ke
kamp-kamp konsentrasi. James D. Steakley menyatakan bahwa hal yang penting bagi
Nazi untuk menyiksa seseorang adalah berdasarkan "kemungkinan untuk
berbuat kriminal dan karakter mereka", bukannya tindak kriminal mereka,
dan "gesundes Volksempfinden" (sensibilitas sehat dari warga)
menjadi prinsip normatif dari hukum-hukum Nazi. Pada tahun 1936, Himler
memerintahkan Kantor Pusat Reich untuk memerangi semua warga homoseksual dan
aborsi. Homoseksualitas dinyatakan bertentangan dengan "sentimen yang
disukai rakyat", dan homoseksual dianggap "mengotori darah
Jerman". Gestapo menggerebek bar-bar gay, kaum homoseksual dilacak melalui
buku-buku alamat, melalui daftar pelanggan majalah-majalah gay, dan warga
dipaksa untuk melaporkan perilaku homoseksual tetangga atau orang-orang
terdekat mereka yang dicurigai.
Puluhan ribu homoseksual dihukum
antara tahun 1933 hingga 1944 dan dikirim ke kamp-kamp untuk
"direhabilitasi". Di sana, mereka diidentifikasikan dengan gelang
lengan berwarna kuning, dan kemudian dengan lencana segitiga merah muda yang
dikenakan di sisi kiri jaket atau di kaki kanan celana panjang, dengan tuduhan
mengidap kelainan
seksual. Ratusan
dari mereka di kebiri atas perintah pengadilan. Mereka dipermalukan, disiksa,
digunakan untuk eksperimen hormon oleh dokter SS, dan dibunuh. Sekitar dua persen dari
homoseksual Jerman dianiaya oleh Nazi. Steakley mengungkapkan bahwa
penganiayaan terhadap homoseksual ini juga berlanjut setelah perang.
11. Musuh politik
Komunis,
sosialis dan serikat buruh di Jerman merupakan penentang awal Nazisme, dan juga
menjadi orang-orang pertama yang dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Hitler menyatakan bahwa komunisme adalah sebuah ideologi Yahudi, yang disebut oleh Nazi
sebagai "Judeo-Bolshevism". Ketakutan terhadap agitasi
komunis digunakan sebagai pembenaran untuk mengesahkan Enabling
Act of 1933,
undang-undang yang secara resmi memberikan kekuasaan diktator pada Hitler.
Hitler dan Nazi juga membenci kaum
politik kiri Jerman karena perlawanan mereka terhadap rasisme partai. Sebagian
besar pemimpin kelompok kiri Jerman adalah orang Yahudi. Hitler menyebut Marxisme dan "Bolshevisme" sebagai alat bagi "Yahudi internasional"
untuk merusak "kemurnian ras" dan kelangsungan hidup bangsa Nordik
atau Arya dan untuk mengacaukan kehidupan sosial ekonomi Jerman. Di dalam
kamp-kamp konsentrasi seperti Buchenwald, status komunis Jerman ini lebih
diistimewakan dibandingkan dengan orang-orang Yahudi karena "kemurnian ras"
mereka.
Setiap kali Nazi menduduki wilayah
baru, anggota komunis, sosialis, atau kelompok-kelompok anarkis biasanya akan
menjadi orang pertama yang ditahan atau dieksekusi. Bukti ini ditemukan dalam Commissar
Order Hitler, di
mana ia memerintahkan untuk mengeksekusi semua komisar politik Soviet yang
ditangkap, serta mengeksekusi semua anggota Partai Komunis di wilayah yang
dikuasai Jerman. Einsatzgruppen bertugas untuk melaksanakan perintah
eksekusi ini di wilayah timur.
12. Saksi Yehuwa
Karena
menolak untuk setia kepada Partai Nazi dan melayani di kemiliteran, sekitar 12.000 penganut Saksi Yehuwa dikirim ke kamp-kamp konsentrasi dan dipaksa untuk memakai
lencana segitiga ungu sebagai penanda mereka. Di kamp-kamp tesebut, mereka
diberi pilihan untuk meninggalkan kepercayaan mereka dan tunduk pada otoritas
negara. Antara 2.500 hingga 5.000 jiwa diperkirakan tewas. Sejarawan Detlef
Garbe, direktur di Memorial Neuengamme (Hamburg), menyatakan bahwa "tidak ada
gerakan keagamaan lainnya yang menolak tekanan untuk menyesuaikan diri dengan
Sosialisme Nasional supaya terhindar dari penyiksaan".
13. Hari peringatan Holocaust
Dengan suara
bulat, di dalam sidang Majelis Umum PBB pada 1 November 2005, ditetapkan bahwa tanggal 27 Januari sebagai "Hari Peringatan Korban Holocaust". 27 Januari 1945 adalah hari dimana tahanan kamp konsentrasi NAZI di
Auschwitz-Birkenau dibebaskan. Bahkan sebelum PBB menetapkannya, tanggal 27
Januari telah di tetapkan sebagai Hari Peringatan Korban Holocaust oleh
Kerajaan Inggris sejak tahun 2001, sebagaimana halnya di negara-negara lain,
mencakup Swedia, Italia, Jerman, Finlandia, Denmark dan Estonia. Israel memperingati Yom HaShoah vea Hagvora, "Hari Hari Peringatan
Holocaust dan Keberanian Bangsa Yahudi" pada pada hari ke 27 bulan Nisan,
bulan Ibrani, yang biasanya jatuh pada bulan April. Hari peringatan ini
biasanya juga di peringati oleh Yahudi di luar Israel.
Saat ini,
kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz,
menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara
guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi
itu juga dijadikan pelajaran sejarah.[5]
Kekejaman Nazi memang tidak bisa disembunyikan lagi.
Dunia mengutuk Hitler. Hitler memang tidak sendiri. Kebenciannya kepada bangsa
Yahudi dan ras-ras lainnya mendapatkan sokongan moral dari beberapa pihak yang
memiliki otoritas dan pengaruh luas. Saat ini sudah menyeruak bukti-bukti
tentang siapa sesungguhnya yang ikut andil bermain di balik layar. Eugenio
Pacelli adalah salah satu tokoh yang juga patut dipersalahkan atas meledaknya
Tragedi Holocaust. Paus Pius XII yang lahir di Roma pada 2 Maret 1876 itu
disebut-sebut telah melakukan perjanjian diam-diam dengan rezim Hitler.
John Cornwell dalam bukunya, Hitler’s Pope: Sejarah
Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler (2008), menyebutkan bahwa jejak kelam
Pacelli sebenarnya sudah terlihat sejak ia menjabat sebagai Sekretaris Negara
Vatikan, di mana pada tahun 1914 ia menandatangani sebuah perjanjian dengan
Serbia yang memberi andil meningkatnya ketegangan yang memicu Perang Dunia I.
Dalam perjanjian yang dikenal dengan Konkordat Serbia tersebut, Vatikan secara
tidak langsung memberi peluang kepada Serbia untuk melakukan pencabutan hak-hak
protektorat Kekaisaran Austro-Hungaria atas kantong-kantong Katolik yang berada
di wilayah Serbia.
Dua puluh tahun kemudian setelah Konkordat Serbia
berlalu, tepatnya pada tahun 1933, Pacelli bersama Hitler menandatangani sebuah
Konkordat yang disinyalir menjadi pemicu munculnya serentetan konfrontasi
berbau rasial yang berimplikasi besar terhadap dunia: Tragedi Holocaust.
Ketika tragedi Holocaust ini meledak, Pacelli
yang menjabat sebagai Paus Pius XII tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya
diam. Keputusan ini diambil karena dalam perjanjian Konkordat disebutkan
tentang jaminan tidak adanya intervensi terhadap rezim Hitler yang memang
berkeinginan kuat untuk membumihanguskan kaum Yahudi. Sebagaimana yang selalu
didengung-dengungkan oleh Hitler bahwa “orang-orang Yahudi akan dimusnahkan,
paling tidak untuk selama 1000 tahun!”
Berdasarkan fakta itu, kemungkinan masih menguatnya sikap
antipati – untuk tidak mengatakan anti-Judaisme – sang Paus Pius XII pada
orang-orang Yahudi bisa dibenarkan. Sebab kalau dirunut dari sisi
kronologis-historisnya, antipati Kristen pada orang-orang Yahudi terlahir dari
keyakinan semenjak masa Gereja Kristen awal, bahwa orang-orang Yahudi telah
membunuh Yesus Kristus. Sehingga dengan demikian, tidak heran jika dikatakan
bahwa antara Pacelli dan Hitler sebenarnya mempunyai inisiatif dan komitmen
yang sama, yakni “mengamini” dan mendukung tragedi Holocaust sebagai bagian
dari agenda-agenda politis.
Karena itu, pernyataan Pacelli bahwa negoisasi
Konkordat-nya dengan Hitler merupakan upaya untuk membumikan perdamaian dan
mempererat hubungan antara Istana Kepausan dan Jerman, hanyalah sebentuk
apologi yang menyimpan keculasan dan kekejian. Sebab, bersamaan dengan itu,
Pacelli bersama Hitler diam-diam melakukan penggembosan terhadap pihak-pihak
dan institusi-institusi yang diprediksi dapat menentang keputusan-keputusan
yang nantinya akan dihasilkan.
Jelas ada sesuatu yang ambigu dari pernyataan dan sikap
Pacelli tersebut. Kita bisa membacanya secara kritis: bagaimana mungkin Pacelli
berinisiatif melindungi orang-orang Yahudi dari kekejian rezim Hitler jika dalam
perjanjian Konkordat disebutkan bahwa ia tidak akan mencampuri urusan-urusan
pemerintah? Bahkan sebagai imbalan dari kesepakatan itu, bukankah Gereja
Katolik di Jerman beserta partai politik, dan ratusan asosiasi serta surat
kabar dengan “suka rela” mengikuti inisiatif Pacelli untuk menarik diri dari
tindakan sosial dan politik?
Dalam konteks inilah sangat tampak keculasan
Pacelli dalam menggunakan lembaga Kepausan sebagai legitimasi untuk membungkam
kritik massa yang kontra dengan keputusan-keputusan kontroversialnya.Lewat
keberhasilannya menutup sejarah kelam, tak pelak jika Pacelli di usia tuanya
meraih reputasi sebagai orang bijak dan orang suci.[6]
Seorang Profesor Yahudi ternyata punya andil andil besar
dalam kasus pengejaran dan pembunuhan orang-orang Yahudi yang dilakukan
Nazi-Jerman dalam Perang Dunia II. Profesor Karl Haushofer namanya.
Keberangkatan tugas
tersebut mendukung ketertarikan Haushofer pada ajaran mistis dari Timur.
Minatnya yang cukup tinggi bersumber dari latar belakang keluarganya yang
dipercaya termasuk dalam persaudaraan mistis pemuja setan (Kabbalah). Salah
satu teori dari ajarannya adalah The Heart Land Theory yang berbunyi, "Siapapun
yang mampu menguasai Heart Land, maka akan mampu menguasai World Island".
Heart Land mengacu pada negara Asia Tengah, sementara World Island mengacu pada
Timur Tengah. Keduanya kaya akan minyak dan gas bumi.
Sementara, teori ini ditambahkan oleh Nicholas Spykman yang berbunyi, "Siapapun yang mampu menguasai World Island, maka akan mampu menguasai dunia".
Berbekal teori tersebut, Haushofer yang akrab dengan perwira Jerman, termasuk Adolf Hitler menawarkan gagasan tersebut ditambah dengan teori ras unggul ras Arya. Menurutnya, ras Arya harus memurnikan dirinya untuk menjadi bangsa terkuat, sehingga mampu menguasai dunia. Pemurnian ini dilakukan dengan jalan menyingkirkan orang Jerman yang tidak termasuk dalam ras Arya, termasuk Yahudi.
Dahaga kekuasaan dunia tentunya amat dirasakan di masa perang dunia tersebut. Alasan tersebut menjadi landasan Hitler untuk menyapu bersih ras selain Arya, tentunya dibalik bayang-bayang propaganda Haushofer. Kemudian tibalah masa yang diyakini sebagai waktu berlangsungnya tragedi Holocaust.
Haushofer, seorang ras Yahudi tentunya memiliki alasan kuat dan cerdik dibalik pengusiran dan pembantaian ini bangsanya sendiri. Yahudi memiliki persaudaraan yang kuat dan ambisius untuk menguasai dunia. Dalam waktu dan lokasi yang berbeda, persaudaraan Yahudi mengadakan pertemuan 13 keluarga Yahudi berpengaruh di Bavaria. Pertemuan tersebut menyusun program penguasaan dunia yang saat ini dikenal dengan Protokolat Zionis. Selain itu, pertemuan tersebut juga untuk membangun organisasi konspiratif modern paling rahasia bernama Illuminati, seperti yang banyak disajikan oleh penulis seperti Dan Brown dalam bukunya. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan harta karun King Solomon yang diyakini ada di dasar Masjidil Aqsa dengan jalan merebut tanah tersebut dari bangsa Palestina.
Sementara, teori ini ditambahkan oleh Nicholas Spykman yang berbunyi, "Siapapun yang mampu menguasai World Island, maka akan mampu menguasai dunia".
Berbekal teori tersebut, Haushofer yang akrab dengan perwira Jerman, termasuk Adolf Hitler menawarkan gagasan tersebut ditambah dengan teori ras unggul ras Arya. Menurutnya, ras Arya harus memurnikan dirinya untuk menjadi bangsa terkuat, sehingga mampu menguasai dunia. Pemurnian ini dilakukan dengan jalan menyingkirkan orang Jerman yang tidak termasuk dalam ras Arya, termasuk Yahudi.
Dahaga kekuasaan dunia tentunya amat dirasakan di masa perang dunia tersebut. Alasan tersebut menjadi landasan Hitler untuk menyapu bersih ras selain Arya, tentunya dibalik bayang-bayang propaganda Haushofer. Kemudian tibalah masa yang diyakini sebagai waktu berlangsungnya tragedi Holocaust.
Haushofer, seorang ras Yahudi tentunya memiliki alasan kuat dan cerdik dibalik pengusiran dan pembantaian ini bangsanya sendiri. Yahudi memiliki persaudaraan yang kuat dan ambisius untuk menguasai dunia. Dalam waktu dan lokasi yang berbeda, persaudaraan Yahudi mengadakan pertemuan 13 keluarga Yahudi berpengaruh di Bavaria. Pertemuan tersebut menyusun program penguasaan dunia yang saat ini dikenal dengan Protokolat Zionis. Selain itu, pertemuan tersebut juga untuk membangun organisasi konspiratif modern paling rahasia bernama Illuminati, seperti yang banyak disajikan oleh penulis seperti Dan Brown dalam bukunya. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan harta karun King Solomon yang diyakini ada di dasar Masjidil Aqsa dengan jalan merebut tanah tersebut dari bangsa Palestina.
Pada
1897, seorang tokoh Yahudi yang bernama Theodore Hertzl mengadakan Kongres
Zionisme Internasional. Kesimpulan kongres tersebut adalah untuk memutuskan
seluruh bangsa Yahudi di seluruh dunia agar bermigrasi ke Palestina. Himbauan
tersebut tidak ditanggapi antusias, sehingga harus ada jalan paksaan agar bangsa
Yahudi berpindah.
Haushofer
yang mengetahui rencana ini tentunya memanfaatkan peluang sebagai kerabat dekat
Hitler. Gagasan pemurnian bangsa Arya tentunya menjadi teori kuat untuk
mengusir bangsa Yahudi dari tanah Jerman, sehingga diharapkan bangsa Yahudi
secara terpaksa kembali ke koloni mereka dan merebut Palestina dengan kekuatan
berlimpah. Saat itulah tragedi Holocaust diyakini terjadi. Padahal di balik
pemurnian bangsa Arya, Haushofer-lah yang memiliki mimpi dan cita-cita jauh
lebih besar untuk menguasai dunia dengan menguasai Palestina terlebih dahulu.
Benar atau tidaknya tragedi tersebut masih menjadi tanda
tanya. Holocaust adalah perdebatan panjang sejarah. Jika benar Holocaust
terjadi dengan sejarah seperti yang diceritakan di atas, maka itu adalah proyek
kotor zionis yang mengorbankan banyak jiwa, baik Yahudi ataupun bangsa lain.
Namun, jika tragedi Holocaust tidak pernah
ada, maka mungkin ini adalah konspirasi zionis demi meminta belas kasihan dunia
dan berharap atas pengalihan isu bahkan pelegalan kejahatan yang mereka lakukan
terhadap rakyat Palestina demi mendirikan negara Yahudi di tanah Palestina.
Dengan demikian, tujuan mereka untuk menguasai dunia pun dapat diraih sesuai
teori Nicholas Spykman.
Di akhir Perang Dunia II, Haushofer ditangkap oleh
pasukan Sekutu. Pada tanggal 13 Maret 1946, Haushofer dan isterinya melakukan
bunuh diri di Pähl, Jerman Barat. Mengikut jejak Adolf Hitler dan Eva Braun
yang melakukan bunuh diri saat Berlin jatuh ke tangan Sekutu setahun
sebelumnya.[7]
LAMPIRAN
Kuburan massal korban Holocaust di kamp konsentrasi
Bergen-Belsen, di foto oleh seorang tentara
Inggris setelah pembebasan kamp itu pada bulan April 1945.
Interior kamar gas di kamp
konsentrasi Stutthof.
Tawanan perang Soviet yang
ditelanjangi di kamp konsentrasi Mauthausen.
Seorang nenek dan dua anak kecil
Yahudi Hongaria sedang dalam perjalanan menuju kamar gas di kamp kematian Auschwitz,
Mei 1944.
DAFTAR
PUSTAKA
Cahyo, Agus N. 2013. Pembantaian-pembantaian mengerikan dalam perang dunia I & II. Jogjakarta:
Palapa.
http://kisah-misteridunia.blogspot.com/2013/02/peristiwa-holocaust.html Tanggal 2 juni 2015 pukul 14.00
http://id.wikipedia.org/wiki/Holokaus,
pada tanggal 25 mei 2015 pukul 09.35
http://jejakpengelana.blogspot.com/2014/03/tragedi-holocaust.html tanggal 2 juni 2015 pukul 14.03
http://coretan21.blogspot.com/2010/12/fakta-tentang-holocaust.html Tanggal 2 juni 2015 pukul 14.05
http://www.nanamorina.com/2014/04/sejarah-tragedi-holocaust.html Tanggal 2 juni 2015 pukul
14.15
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/karl-haushofer-tokoh-yahudi-dibalik-tragedi-holocaust.htm#.VW1WlFKOKKE tanggal 2 juni 2015 pukul 14.10
Cahyo, Agus N. 2013. THE HISTORY OF ADOLF HITLER. Jogjakarta: Palapa.
Finkelstein G. Norman. 2006. The holocaust Industry. Indonesia: Ufuk
press
[1] Agus
N. Cahyo. Pembantaian-pembantaian
mengerikan dalam perang dunia I & II, (Jogjakarta: Palapa, 2013), hlm.
124
[4] Ibid.,
hlm. 129
[5] http://kisah-misteridunia.blogspot.com/2013/02/peristiwa-holocaust.html Tanggal 2 juni 2015 pukul 14.00
[6] http://jejakpengelana.blogspot.com/2014/03/tragedi-holocaust.html tanggal 2 juni 2015 pukul 14.03
[7] http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/karl-haushofer-tokoh-yahudi-dibalik-tragedi-holocaust.htm#.VW1WlFKOKKE
tanggal 2 juni 2015 pukul 14.10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar