Rabu, 30 September 2015

Holocaust



Holocaust
H
Oleh : Sakron Fauzi &
                     Lucyana Kartika Puri


olocaust adalah genosida terhadap sekitar enam juta penganut Yahudi Eropa selama perang dunia II, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh negara Jerman Nazi, di pimpin oleh Adolf Hitler, dan berlangsung diseluruh wilayah yang dikuasai oleh Nazi. Dari Sembilan juta Yhudi yang tinggal di Eropa sebelum Holocaust, sekitar dua pertiganya tewas. Secara khusus, lebih dari satu juta anak Yahudi tewas dalam holocaust, serta kira-kira dua juta wanita Yahudi dan tiga juta pria Yahudi tewas.
Menurut Niewyk, dkk (2000), Beberapa pakar berpendapat bahwa definisi Holocaust harus meliputi pula genosida Nazi terhadap jutaan orang dalam kelompok lain selain Yahudi, di antaranya orang Rom, komunis, tawanan perang Soviet, warga Polandia dan Soviet, homoseksual, orang cacat, Saksi Yehuwa dan musuh politik dan keagamaan lainnya, yang menjadi korban terlepas apakah mereka berasal dari etnis Jerman atau bukan. Ini adalah definisi yang paling umum digunakan sejak akhir Perang Dunia II hingga tahun 1960-an. Jika menggunakan definisi ini, maka jumlah keseluruhan korban Holocaust adalah 11 hingga 17 juta jiwa.[1]
Penyiksaan dan genosida dilakukan dalam beberapa tahap. Sejumlah hukum untuk menghapuskan keberadaan orang Yahudi dari masyarakat sipil, yang paling terkenal adalah Hukum Nuremberg, diberlakukan di Jerman Nazi bertahun-tahun sebelum dimulainya Perang Dunia II. Kamp konsentrasi didirikan yang di dalamnya para tahanan diharuskan melakukan kerja paksa hingga mereka mati akibat kelelahan atau penyakit. Ketika Jerman menaklukan wilayah baru di Eropa Timur, satuan khusus yang disebut Einsatzgruppen membantai musuh-musuh politik melalui penembakan massal. Nazi memerintahkan orang Yahudi dan Rom untuk dikurung di ghetto sebelum dipindahkan dengan kereta barang ke kamp pemusnahan. Di sana, jika mereka selamat dalam perjalanan, sebagian besar dari mereka secara sistematis dibunuh di dalam kamar gas.
Kamp-kamp pemusnahan dilengkapi dengan kamar gas untuk tujuan pemusnahan massal secara sistematis. Metode ini merupakan fitur unik dari Holocaust dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Tidak pernah tercatat sebelumnya dalam sejarah di mana telah disediakan tempat dengan tujuan untuk membunuh orang secara massal. Kamp-kamp ini didirikan di Auschwitz, Belzec, Chełmno, Jasenovac, Majdanek, Maly Trostenets, Sobibor, dan Treblinka. Dari awal pendirian kamp konsentrasi pada masa Reich Ketiga, sebenarnya kamp-kamp tersebut dimaksudkan sebagai tempat penahanan. Meskipun angka kematian di kamp-kamp konsentrasi itu juga tinggi, dengan angka kematian mencapai 50%, namun kamp-kamp tersebut tidak dirancang sebagai pusat pembunuhan massal. Pada tahun 1942, enam kamp pemusnahan besar telah didirikan di wilayah Polandia yang diduduki Nazi, yang dibangun semata-mata untuk tujuan pembunuhan massal. Setelah tahun 1939, kamp-kamp ini semakin dipusatkan menjadi tempat di mana orang-orang Yahudi dan tawanan perang (POW) dibunuh atau dipekerjakan sebagai buruh budak, dan pada akhirnya banyak yang kekurangan gizi dan disiksa. Diperkirakan bahwa Jerman membangun 15.000 kamp dan sub-kamp di negara-negara yang mereka taklukkan, sebagian besar di Eropa Timur. Kamp-kamp baru didirikan di wilayah-wilayah yang memiliki banyak penganut Yahudi, intelektual Polandia, komunis, atau populasi Roma dan Sinti, termasuk di Jerman. Transportasi tahanan sering dilakukan dalam kondisi yang mengerikan dengan menggunakan kereta barang, di mana banyak yang meninggal sebelum mencapai tujuan mereka.
Pemusnahan melalui kerja paksa adalah salah satu kebijakan genosida sistematis yang diterapkan oleh Jerman, di mana penghuni kamp akan dipekerjakan sampai mati, atau bekerja sampai kelelahan, dan kemudian dijebloskan ke dalam kamar gas atau ditembak mati. Pekerja budak digunakan untuk memproduksi logistik perang, seperti roket V-2 di Mittelbau-Dora, dan berbagai produksi senjata di sekitar kompleks kamp konsentrasi Mauthausen-Gusen. Setelah para tahanan memasuki kamp, beberapa kamp akan mentato para tahanan dengan sebuah ID tahanan. Para tahanan dipekerjakan selama 12 sampai 14 jam perhari, dengan makanan yang tidak memadai, sehingga banyak di antara mereka yang sekarat atau meninggal saat bekerja.[2]
Ciri khas lainnya dari Holocaust adalah penggunaan subyek manusia dalam eksperimen medis. "Para dokter Jerman lebih bersifat "Nazi" dibandingkan dengan para profesional lain dalam hal keanggotaan partai," dan mereka melakukan berbagai eksperimen medis di kamp konsentrasi Auschwitz, Dachau, Buchenwald, Ravensbrück, Sachsenhausen, dan Natzweiler.
Dokter Nazi yang paling terkenal adalah Dr. Josef Mengele, yang melakukan eksperimennya di Auschwitz. Eksperimennya ini termasuk menempatkan subyek dalam ruang bertekanan, pengujian obat-obatan pada subyek, membekukan subyek, berusaha untuk mengubah warna mata dengan cara menyuntikkan bahan kimia ke dalam mata anak-anak dan berbagai eksperimen amputasi serta operasi brutal lainnya. Hasil akhir dari eksperimennya ini tidak pernah diketahui karena catatan eksperimennya yang dikirimkan pada Dr. Otmar von Verschuer di Kaiser Wilhelm Institute dihancurkan oleh von Verschuer. Sebagian besar subyek yang berhasil selamat dari eksperimen Mengele selalu berakhir dengan dibunuh, atau dibedah setelah eksperimen.
A.    Alasan Hitler Membantai Kaum Yahudi
Ada ucapan emas yang sampai saat ini tidakakan pernah dilupakan orang dari Hitler kaitan-nya dengan kebencian dan isu Holocaust selama ini. Ucapan tersebut adalah : “Bisa saja saya memusnahkan semua Yahudi di dunia, tpi saya sisakan sedikit saja yang hidup, agar kamu tahu alasan saya membunuh mereka.”
            Hitler mengatakan dalam bukunya mein kampf untuk diulas atau dibuktikan ditahun-tahun yang akan datang. Kini, hamper 80 tahun setelah pristiwa tersebut, kita dapat menelaah apa alasan hitler membantai warga minoritasnya itu. Yahudi saat ini menjati kaum yang sangat kuat dan banyak. Mereka tersebar hamper diseluruh negara di dunia ini. Mereka pintar dan sangat berpengaruh sehingga berada di posisi-posisi penting pemegang kebijakan dunia. [3]
            Terlepas dari fakta kaum yahudi tersebut, menurut bebrapa pengamat setidaknya ada beberapa alasan Hilter membunuh orang-orang yahudi :
1.      membunuh keristus. Ini adalah apa yang disebut penyalipan yesus. Yahudi dipersalahkan oleh injil karena kejadian ini. Menurut analis, tepat setelah kejadian, diseluruh eropa, penuntutan terhadap orang yahudi dimulai. Contoh ekstrim adalah penganiayaan yahudi, termasuk perang salib pertama 1096, pengusiran dari inggris pada 1290, inkuisis Spanyol, pengusiran dari Spanyol pada 1492, dan pengusiran dariPortugal pada rahun 1497. Holocaust sendiri merupakan klimaks kebencian berabad-abad ini, yang diciptakan oleh greja keristen.
2.      Ras unggul arya. Menurut sejarawan, diyakini oleh Hitler bhwa jerman dianggap sebagai ras unggul, yaitu arya dibandingkan dengan ras lain, seperti yahudi, gipsi dan lainnya. Hitler menggunakan kepercayaan itu sebagai salah satu alasan penting terjadinya Holocaust.
3.      Depresi besar dan kemerosotan ekonomi. Sejak tahun 1929, ekonomi jerman merosot tajam. Hamper setiap kota merasakan dampaknya sehingga 6 juta orang tidak mendapat pekerjaan. Kondisin ini justru menjadi sebaliknya bagi kaum yahudi. Selama dan setelah jerman merosot, orang – orang yahudi mengalami kemajuan financial besar sehingga membuat orang yahudi dicurigai Hitler telah melakukan propaganda negative. Hitler kemudian menuduh yahudi berada dibalik kemerosostan ini dan mengambil keuntungan-keuntungannya sendiri.[4]


1.      Korban dari Yahudi
Sejak 1945, angka yang paling sering dikutip untuk menyebutkan jumlah total yahudi yang tewas adalah 6 juta. Otoritas peringatan pahlwan dan martir Holocaust, yah Vashem di Yerusalem mengyungkapkan bahwa tidak ada angka yang tepat untuk m,enyebutkan jumlah Yahudi yang tewas. Angka yang paling sering digunakan adalah 6 juta. Yang dikaitkan dengan kesaksian Adolf Eichmann di persidangan. Enam juta yahudi yang tewas dalam Holocaust berarti mewakili 60-75% dari total populasi Yahudi. Dari 3,3 juta Yahudi di Polandia, lebih dari 90%-nya tewas. Proporsi yang sama juga berlaku di Latvia dan Lithuania, namun sebagian besar Yahudi Estonia dievakuasi. Dari 750.000 populasi Yahudi di Jerman dan Austria pada tahun 1933, hanya sekitar seperempat yang selamat.
            Yahudi Jerman juga banyak yang bertemigrasi sebelum tahun 1939, mayoritas melarikan diri ke Cekoslowakia, Prancis atau Belanda, dan dari negara-negara ini mereka kemudian dideportasi menuju kematian mereka. Di Cekoslowakia, yunani, Belanda, dan Yugoslavia, lebih dari 70% Yahudi tewas. 50-70% populasi Yahudi tewas di Rumania, belgia dan Hungaria. Ada kemungkinan bahwa persentase serupa tewas di Belarus dan Ukraina, namun angka-angka ini kurangf akurat. Negara-negara dengan persentase kematian Yhudi yang lebih rendah adalah Bulgaria, Denmark, Prancis, Italia, dan Norwegia.
            Alabnia merupakan satu-satunya negara yang diduduki oleh Jerman yang memiliki populasi Yahudi lebih besar pada tahun 1945 dibandingkan pada tahun 1939. Sekitar 200 yahudi pribumi dan lebih dari seribu pengungsi di Albenia difasilitasi dengan dokumen palsu, disembunyikan, dan umumnya diperlakukan sebagai tamu terhormat di negara itu, yang penduduknya kira-kira 60% muslim. Tujuan kampung nazi menyumbangkan setengah dari humlah total Yahudi yang tewas dalam Holocaust secara keseluruhan.
Hampir seluruh penduduk Yahudi di Polandia tewas di kamp-kamp. Selain mereka yang tewas di kamp-kamp pemusnahan di atas, setidaknya setengah juta Yahudi juga tewas di kamp-kamp lainya. Termasuk kamp konsentrasi pertama di Jerman. Kamp-kamp ini bukan kamp-kamp pemusnahan, namun memiliki sejumlah besar tahanan Yahudi, khususnya dalam tahun terakhir perang setelah Nazi mundur dari Polandia. Sekitar satu juta orang tewas di kamp-kamp tersebut. Sekitar 800.000 hingga satu juta Yahudi lain-nya dibunuh oleh Einsatzgruppen di wilayah soviet yang diduduki Jerman. Banyak juga Yahudi lainnya yang tewas karena dieksekusi atau penyakit dan kekurangan gizi di ghetto-ghetto di Polandia sebelum mereka dideportasi.


2.      Bangsa Slavia
Hitler menyetujui General Plan East pada musim panas tahun 1942. Rencana ini memungkinkan untuk dilakukannya pembasmian, pengusiran, atau perbudakan sebagian besar atau seluruh bangsa Slavia dari kampung halaman mereka, sehingga menciptakan ruang hidup yang lebih luar bagi para pemukim jerman.
3.      Etnis Polandia
Pada bulan November 1939, para penjabat jerman menyerukan penghancuran total semua Etnis Polandia. Pada tahun 1952, Nazi mengharapkan hanya sekitar 3-4 juta dari entis Polandia yang tinggal di Polandia dan sebagian besarnya berkerja sebagai budak untuk pemukiman Jerman. Pada tanggal 22 agustus 1939 seminggu sebelum pecahnya perang, Hitler menyatakan, “Objek perang adalah menghancurkan musuh secara fisik. Itulah mengapa saya siapkan , untuk sementara hanya di timur, formasi ‘kepala kematian’ saya diperintahkan untuk membunuh tanpa belas kasihan semua pria, wanita, dan anak-anak keturunan Polandia atau yang berbahsa Polandia. Hanya dengan cara itu kita bisa memperoleh ruang hidup yang kita butuhkan. Nazi memutuskan untuk melakukan genosida terhadap etnis polandia pada skala yang sama seperti terhadap etnis yahudi.” (Piotrowski, 1998).
Tindakan yang diambil terhadap etnis Polandia pada kenyataannya tidak sama skalanya dengan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi. Kebanyakan orang Yahudi Polandia (sekitar 90% dari populasi pra-perang) tewas selama Holocaust, sementara orang Kristen Polandia sebagian besar selamat dari pendudukan brutal Jerman.[269] Antara 1,8 hingga 2,1 juta non-Yahudi di Polandia tewas di tangan Jerman selama perang, sekitar empat perlima dari korban-korban tersebut adalah etnis Polandia, dan sisanya merupakan etnis minoritas Ukraina dan Belarusia, sebagian besar adalah warga sipil. Setidaknya, 200.000 dari korban tersebut tewas di kamp konsentrasi, di mana sekitar 146.000 dibunuh di Auschwitz. Yang lainnya tewas akibat pembantaian umum seperti dalam Pemberontakan Warsawa, yang menewaskan antara 120.000 hingga 200.000 warga sipil. Kebijakan Jerman di Polandia antara lain dengan mengurangi jatah makanan, menurunkan standar kebersihan dan merampas hak pelayanan medis penduduk. Angka kematian meningkat dari 13 sampai 18 per seribu jiwa. Secara keseluruhan, sekitar 5,6 juta dari para korban Perang Dunia II adalah warga negara Polandia, baik Yahudi maupun non-Yahudi, atau 16 persen dari total populasi penduduk pra-perang. Sekitar 3,1 dari 3,3 juta Yahudi Polandia dan sekitar 2 dari 31,7 juta non-Yahudi Polandia tewas di tangan Jerman selama perang. Menurut data terbaru yang dirilis oleh IPN, lebih dari 2,5 juta non-Yahudi Polandia tewas akibat dari pendudukan Jerman. Sedangkan lebih dari 90 persen dari korban tewas berasal dari non-militer, karena sebagian besar warga sipil menjadi sasaran dari berbagai tindakan yang dilakukan oleh Jerman Nazi dan Uni Soviet.

4.      Etnis Serbia dan Slavia selatan
Pembunuhan pd II oleh tyentara Nazi terus dilakukan. Tomasevich (2001) mencatat, Di Balkan, lebih dari 581.000 bangsa Yugoslavia dibunuh oleh Nazi dan sekutu fasis Kroasia mereka di Yugoslavia. Tentara Jerman, di bawah perintah dari Hitler, berjuang untuk memusnahkan etnis Serbia yang dianggap sebagai ras rendahan (Untermenschen).[277] Kolaborator Nazi, Ustaše, melakukan pemusnahan sistematis besar-besaran untuk alasan politik, agama atau ras. Korban yang paling banyak berasal dari etnis Serbia.
Etnis Bosnia, Kroasia dan etnis lainnya juga dikirim dan tewas di kamp konsentrasi Jasenovac. Museum Memorial Holocaust Amerika Serikat (USHMM) menyatakan bahwa: "Pihak berwenang Ustaša mendirikan sejumlah kamp konsentras di Kroasia antara tahun 1941 dan 1945. Kamp-kamp ini digunakan untuk mengisolasi dan membunuh orang-orang Serbia, Yahudi, Roma, Muslim Bosnia, dan minoritas non-Katolik lainnya, serta lawan politik dan agama di Kroasia."
USHMM dan Perpustakaan Virtual Yahudi melaporkan bahwa antara 56.000 hingga 97.000 jiwa tewas di kamp konsentrasi Jasenovac.[278][279][280] Sedangkan Yad Vashem menyatakan bahwa secara keseluruhan, lebih dari 500.000 etnis Serbia dibantai "dengan cara yang mengerikan dan sadis" oleh Ustaša.
Menurut penelitian terbaru dalam Bosnjaci u Jasenovackom logoru ("Etnis Bosnia di kamp konsentrasi Jasenovac") oleh penulis Nihad Halilbegovic, setidaknya 103.000 orang Muslim Bosnia tewas selama Holocaust di tangan rezim Nazi dan Ustaše Kroasia. Menurut penelitian tersebut, "tidak diketahui berapa jumlah total etnis Bosnia yang dibunuh di bawah nama etnis Serbia atau Kroasia", dan "sejumlah besar Bosnia tewas dan terdaftar di bawah populasi orang Roma", sehingga tidak tercatat saat dijatuhi hukuman mati dan dimusnahkan.
Dengan pengecualian etnis Slovenia yang berada di bawah pemerintahan Italia, antara 20.000 hingga 25.000 orang Slovenia dibunuh oleh Nazi atau fasis (dengan menghitung hanya jumlah korban sipil).
Adanya kerjasama antara Nazi dan Albania diikuti oleh penganiayaan besar-besaran terhadap komunitas non-Albania (kebanyakan Serbia) oleh fasis Albania. Sebagian besar kejahatan perang dilakukan oleh Divisi SS Skenderbeg dan Balli Kombëtar. Fasis Albania membantai sekitar 40.000 hingga 60.000 orang Serbia dan 200.000 lainnya diusir dari Albania.



5.      Slavia Timur
Penduduk sipil Soviet di daerah pendudukan Jerman juga tak luput dari kebiadaban tentara Jerman. Ribuan petani desa di Rusia, Belarus dan Ukraina dibantai oleh tentara Jerman. Bohdan Wytwycky memperkirakan bahwa sebanyak seperempat dari seluruh korban warga sipil Soviet yang tewas di tangan Nazi dan sekutu mereka dipicu oleh motif rasial. Akademi Sains Rusia pada tahun 1995 melaporkan bahwa korban sipil warga Uni Soviet di tangan Jerman, termasuk orang-orang Yahudi, mencapai 13,7 juta jiwa, atau sekitar 20% dari total 68 juta populasi di Uni Soviet yang diduduki Jerman. Jumlah ini termasuk 7,4 juta korban genosida dan pembalasan Nazi yang tewas di kamp-kamp.
Di Belarus, Nazi bertanggung jawab atas pembakaran sekitar 9.000 desa, mendeportasi sekitar 380.000 tenaga kerja budak, dan membunuh ratusan ribu warga sipil. Lebih dari 600 desa, seperti Khatyn, dibakar bersamaan dengan seluruh populasinya, dan setidaknya terdapat sekitar 5.295 pemukiman di Belarus yang dimusnahkan oleh Nazi dengan beberapa atau semua penghuninya tewas. Tim Snyder menyatakan: "Dari sembilan juta orang yang berada di wilayah Soviet Belarus pada tahun 1941, sekitar 1,6 juta dibunuh oleh Jerman, termasuk sekitar 700.000 tawanan perang, 500.000 orang Yahudi, dan 320.000 orang yang dianggap sebagai partisan, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil yang tidak bersenjata."
6.      Tawanan perang Soviet
Menurut Michael Berenbaum, antara dua hingga tiga juta tawanan perang Soviet, atau sekitar 57 persen dari keseluruhan tawanan perang Soviet, meninggal karena kelaparan, penganiayaan, atau eksekusi antara bulan Juni 1941 hingga Mei 1945, dan sebagian besar dari mereka tewas selama tahun pertama penahanan. Menurut perkiraan lain oleh Daniel Goldhagen, sekitar 2,8 juta tawanan perang Soviet diperkirakan tewas dalam delapan bulan antara tahun 1941-1942, dan totalnya mencapai 3,5 juta pada pertengahan 1944. USHMM memperkirakan bahwa 3,3 juta dari 5,7 juta tawanan perang Soviet meninggal dalam tahanan Jerman—lebih besar dibandingkan dengan 8.300 dari 231.000 tahanan Inggris dan Amerika. Tingkat kematian menurun setelah tawanan perang yang dianggap layak dipaksa untuk bekerja sebagai budak guna membantu Jerman dalam berperang. Pada tahun 1943, kurang lebih setengah juta dari mereka telah digunakan sebagai pekerja paksa.
7.      Orang Romani
Karena orang Rom/Romani dan Sinti secara tradisional adalah bangsa yang sekretif, dengan kebudayaan yang berdasarkan pada sejarah lisan, sedikit yang diketahui tentang pengalaman mereka saat Holocaust dibandingkan dengan kelompok-kelompok lainnya. Yehuda Bauer mengungkapkan bahwa kekurangan informasi ini disebabkan oleh ketidakpercayaan, kecurigaan, dan penghinaan terhadap kepercayaan dan tradisi mereka yang dilanggar di Auschwitz. Bauer menyatakan bahwa "sebagian besar orang Rom tidak bersedia menceritakan pengalaman mereka selama penyiksaan." Akibatnya, sebagian besar dari mereka tetap diam dan dengan demikian menambah efek dari trauma psikologis yang telah mereka alami.
Pemusnahan orang-orang Rom yang dilakukan oleh Jerman Nazi di negara-negara yang mereka taklukkan berlangsung dengan tidak konsisten. Di beberapa negara (misalnya Luksemburg dan negara-negara Baltik), Nazi membunuh hampir seluruh penduduk Rom. Di negara lain (misalnya Denmark dan Yunani), tidak ada catatan mengenai orang Rom yang dijadikan sasaran pembunuhan massal.
Donald Niewyk dan Frances Nicosia menyatakan bahwa korban tewas setidaknya 130.000 dari hampir satu juta orang Rom dan Sinti yang terdapat di negara-negara Eropa yang ditaklukkan oleh Jerman Nazi. Sedangkan Michael Berenbaum menyatakan bahwa jumlah korban antara 90.000 dan 220.000 jiwa.  Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sybil Milton, sejarawan senior di USHMM, mengungkapkan bahwa jumlah orang Rom dan Sinti yang menjadi korban setidaknya 220.000 dan mungkin mendekati 500.000, tapi studi ini secara eksplisit mengecualikan Negara Independen Kroasia, di mana di negara ini pemusnahan terhadap orang Rom sangat intensif. Martin Gilbert memperkirakan bahwa lebih dari 220.000 dari total 700.000 orang Rom di Eropa menjadi korban Holocaust. Ian Hancock, Direktur dari Program Studi Romani dan Pusat Dokumentasi dan Arsip Romani di Universitas Texas berpendapat bahwa angka korban tewas berkisar antara 500.000 hingga 1.500.000 jiwa. Hancock menyatakan bahwa "secara proporsional, jumlah korban tewas setara, dan hampir melebihi jumlah korban Yahudi".
Sebelum dikirim ke kamp-kamp, para korban Romani digiring ke ghetto, termasuk beberapa ratus orang ke Ghetto Warsawa. Di timur, tim Einsatzgruppen melacak perkemahan Romani dan membunuh semua penghuninya, tanpa mencatat jumlah korban. Mereka juga dijadikan sasaran oleh rezim boneka yang bekerjasama dengan Nazi, misalnya rezim Ustaše di Kroasia, tempat sejumlah besar orang Romani tewas di kamp konsentrasi Jasenovac. Analis genosida Helen Fein menyatakan bahwa tentara-tentara Ustaše telah membunuh hampir semua orang Romani di Kroasia.
Pada bulan Mei 1942, status orang Romani ditempatkan di bawah undang-undang perburuhan dan sosial yang sama seperti orang-orang Yahudi. Pada tanggal 16 Desember 1942, Heinrich Himmler, Komandan SS dan orang yang dianggap sebagai "arsitek" dari genosida Nazi, mengeluarkan sebuah dekrit yang menyatakan bahwa "Gypsy Mischlinge (keturunan campuran), Romani, dan anggota klan asal Balkan yang tidak memiliki darah Jerman harus dikirim ke Auschwitz, kecuali mereka pernah bertugas di Wehrmacht". Pada tanggal 29 Januari 1943, keputusan lain memerintahkan deportasi semua orang Romani Jerman ke Auschwitz. Tanggal 15 November 1943, Himmler memerintahkan bahwa di daerah Soviet yang diduduki Jerman, "Gipsi yang menetap dan setengah-Gipsi (Mischlinge) boleh diperlakukan sebagai warga negara. Sedangkan Gipsi Nomaden lainnya diperlakukan pada tingkat yang sama seperti orang-orang Yahudi dan ditempatkan di kamp-kamp konsentrasi."
8.      Kulit Hitam
Jumlah orang kulit hitam di Jerman saat Nazi berkuasa diperkirakan sebanyak 5.000-25.000 jiwa. Tidak jelas apakah jumlah ini juga termasuk orang Asia. Menurut Museum Memorial Holocaust Amerika Serikat, "nasib orang kulit hitam antara tahun 1933-1945 di Jerman Nazi dan negara-negara yang didudukinya diliputi oleh penganiayaan, sterilisasi, eksperimen medis, penahanan, kebrutalan, dan pembunuhan. Namun, tidak ada kebijakan resmi untuk memusnahkan mereka secara sistematis seperti halnya orang-orang Yahudi dan kelompok lainnya." Selain itu, orang-orang Afrika, Berber, Iran, dan India digolongkan sebagai bangsa Arya, sehingga mereka tidak dianiaya.
9.      Disabilitas dan gangguan mental
Aksi T4 adalah suatu program yang dibentuk pada tahun 1939 dengan tujuan untuk menjaga "kemurnian" genetik dari penduduk Jerman dengan membunuh atau mensterilkan warga Jerman dan Austria yang dinilai menderita cacat fisik atau gangguan mental.
Antara tahun 1939 dan 1941, sebanyak 80.000 hingga 100.000 orang dewasa, 5.000 anak-anak, dan 1.000 orang Yahudi yang sakit mental di lembaga-lembaga pengobatan kejiwaan tewas. Di luar lembaga-lembaga tersebut, para pakar memperkirakan bahwa sebanyak 20.000 korban tewas (menurut Dr. Georg Renno, direktur dari pusat euthanasia Schloss Hartheim), atau lebih dari 400.000 jiwa (menurut Frank Zeireis, komandan kamp konsentrasi Mauthausen. 300.000 lainnya disterilkan secara paksa. Secara keseluruhan, diperkirakan bahwa jumlah korban dengan gangguan mental yang tewas mencapai angka 200.000 jiwa, meskipun pembunuhan massal terhadap orang-orang ini mendapat perhatian yang relatif sedikit ketimbang terhadap orang-orang Yahudi. Sama dengan orang-orang dengan disabilitas (cacat fisik), pengidap dwarfisme juga dianiaya. Mereka ditempatkan di kandang-kandang dan dijadikan bahan eksperimen oleh Nazi. Setelah adanya protes keras dari gereja-gereja Katolik dan Protestan Jerman pada tanggal 24 Agustus 1941, Hitler akhirnya memerintahkan pembatalan program T4.
Program Aksi T4 ini dikepalai oleh Philipp Bouhler, kepala kanselir pribadi Hitler (Kanzlei des Führer der NSDAP) dan Karl Brandt, dokter pribadi Hitler. Brandt diadili pada bulan Desember 1946 di Nuremberg, bersama dengan 22 orang lainnya dalam pengadilan khusus yang dikenal sebagai United States of America vs. Karl Brandt et al., juga dikenal sebagai Pengadilan Dokter. Dia digantung di Penjara Landsberg pada tanggal 2 Juni 1948.
10.  Homoseksual
Antara 5.000 hingga 15.000 homoseksual berkebangsaan Jerman diperkirakan telah dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. James D. Steakley menyatakan bahwa hal yang penting bagi Nazi untuk menyiksa seseorang adalah berdasarkan "kemungkinan untuk berbuat kriminal dan karakter mereka", bukannya tindak kriminal mereka, dan "gesundes Volksempfinden" (sensibilitas sehat dari warga) menjadi prinsip normatif dari hukum-hukum Nazi. Pada tahun 1936, Himler memerintahkan Kantor Pusat Reich untuk memerangi semua warga homoseksual dan aborsi. Homoseksualitas dinyatakan bertentangan dengan "sentimen yang disukai rakyat", dan homoseksual dianggap "mengotori darah Jerman". Gestapo menggerebek bar-bar gay, kaum homoseksual dilacak melalui buku-buku alamat, melalui daftar pelanggan majalah-majalah gay, dan warga dipaksa untuk melaporkan perilaku homoseksual tetangga atau orang-orang terdekat mereka yang dicurigai.
Puluhan ribu homoseksual dihukum antara tahun 1933 hingga 1944 dan dikirim ke kamp-kamp untuk "direhabilitasi". Di sana, mereka diidentifikasikan dengan gelang lengan berwarna kuning, dan kemudian dengan lencana segitiga merah muda yang dikenakan di sisi kiri jaket atau di kaki kanan celana panjang, dengan tuduhan mengidap kelainan seksual. Ratusan dari mereka di kebiri atas perintah pengadilan. Mereka dipermalukan, disiksa, digunakan untuk eksperimen hormon oleh dokter SS, dan dibunuh. Sekitar dua persen dari homoseksual Jerman dianiaya oleh Nazi. Steakley mengungkapkan bahwa penganiayaan terhadap homoseksual ini juga berlanjut setelah perang.
11.  Musuh politik
Komunis, sosialis dan serikat buruh di Jerman merupakan penentang awal Nazisme, dan juga menjadi orang-orang pertama yang dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Hitler menyatakan bahwa komunisme adalah sebuah ideologi Yahudi, yang disebut oleh Nazi sebagai "Judeo-Bolshevism". Ketakutan terhadap agitasi komunis digunakan sebagai pembenaran untuk mengesahkan Enabling Act of 1933, undang-undang yang secara resmi memberikan kekuasaan diktator pada Hitler.
Hitler dan Nazi juga membenci kaum politik kiri Jerman karena perlawanan mereka terhadap rasisme partai. Sebagian besar pemimpin kelompok kiri Jerman adalah orang Yahudi. Hitler menyebut Marxisme dan "Bolshevisme" sebagai alat bagi "Yahudi internasional" untuk merusak "kemurnian ras" dan kelangsungan hidup bangsa Nordik atau Arya dan untuk mengacaukan kehidupan sosial ekonomi Jerman. Di dalam kamp-kamp konsentrasi seperti Buchenwald, status komunis Jerman ini lebih diistimewakan dibandingkan dengan orang-orang Yahudi karena "kemurnian ras" mereka.
Setiap kali Nazi menduduki wilayah baru, anggota komunis, sosialis, atau kelompok-kelompok anarkis biasanya akan menjadi orang pertama yang ditahan atau dieksekusi. Bukti ini ditemukan dalam Commissar Order Hitler, di mana ia memerintahkan untuk mengeksekusi semua komisar politik Soviet yang ditangkap, serta mengeksekusi semua anggota Partai Komunis di wilayah yang dikuasai Jerman. Einsatzgruppen bertugas untuk melaksanakan perintah eksekusi ini di wilayah timur.
12.  Saksi Yehuwa
Karena menolak untuk setia kepada Partai Nazi dan melayani di kemiliteran, sekitar 12.000 penganut Saksi Yehuwa dikirim ke kamp-kamp konsentrasi dan dipaksa untuk memakai lencana segitiga ungu sebagai penanda mereka. Di kamp-kamp tesebut, mereka diberi pilihan untuk meninggalkan kepercayaan mereka dan tunduk pada otoritas negara. Antara 2.500 hingga 5.000 jiwa diperkirakan tewas. Sejarawan Detlef Garbe, direktur di Memorial Neuengamme (Hamburg), menyatakan bahwa "tidak ada gerakan keagamaan lainnya yang menolak tekanan untuk menyesuaikan diri dengan Sosialisme Nasional supaya terhindar dari penyiksaan".
13.  Hari peringatan Holocaust
Dengan suara bulat, di dalam sidang Majelis Umum PBB pada 1 November 2005, ditetapkan bahwa tanggal 27 Januari sebagai "Hari Peringatan Korban Holocaust". 27 Januari 1945 adalah hari dimana tahanan kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz-Birkenau dibebaskan. Bahkan sebelum PBB menetapkannya, tanggal 27 Januari telah di tetapkan sebagai Hari Peringatan Korban Holocaust oleh Kerajaan Inggris sejak tahun 2001, sebagaimana halnya di negara-negara lain, mencakup Swedia, Italia, Jerman, Finlandia, Denmark dan Estonia. Israel memperingati Yom HaShoah vea Hagvora, "Hari Hari Peringatan Holocaust dan Keberanian Bangsa Yahudi" pada pada hari ke 27 bulan Nisan, bulan Ibrani, yang biasanya jatuh pada bulan April. Hari peringatan ini biasanya juga di peringati oleh Yahudi di luar Israel.
Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.[5]
Kekejaman Nazi memang tidak bisa disembunyikan lagi. Dunia mengutuk Hitler. Hitler memang tidak sendiri. Kebenciannya kepada bangsa Yahudi dan ras-ras lainnya mendapatkan sokongan moral dari beberapa pihak yang memiliki otoritas dan pengaruh luas. Saat ini sudah menyeruak bukti-bukti tentang siapa sesungguhnya yang ikut andil bermain di balik layar. Eugenio Pacelli adalah salah satu tokoh yang juga patut dipersalahkan atas meledaknya Tragedi Holocaust.  Paus Pius XII yang lahir di Roma pada 2 Maret 1876 itu disebut-sebut telah melakukan perjanjian diam-diam dengan rezim Hitler.

John Cornwell dalam bukunya, Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler (2008), menyebutkan bahwa jejak kelam Pacelli sebenarnya sudah terlihat sejak ia menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan, di mana pada tahun 1914 ia menandatangani sebuah perjanjian dengan Serbia yang memberi andil meningkatnya ketegangan yang memicu Perang Dunia I. Dalam perjanjian yang dikenal dengan Konkordat Serbia tersebut, Vatikan secara tidak langsung memberi peluang kepada Serbia untuk melakukan pencabutan hak-hak protektorat Kekaisaran Austro-Hungaria atas kantong-kantong Katolik yang berada di wilayah Serbia.
 
Dua puluh tahun kemudian setelah Konkordat Serbia berlalu, tepatnya pada tahun 1933, Pacelli bersama Hitler menandatangani sebuah Konkordat yang disinyalir menjadi pemicu munculnya serentetan konfrontasi berbau rasial yang berimplikasi besar terhadap dunia: Tragedi Holocaust.
Ketika tragedi Holocaust ini meledak, Pacelli yang menjabat sebagai Paus Pius XII tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya diam. Keputusan ini diambil karena dalam perjanjian Konkordat disebutkan tentang jaminan tidak adanya intervensi terhadap rezim Hitler yang memang berkeinginan kuat untuk membumihanguskan kaum Yahudi. Sebagaimana yang selalu didengung-dengungkan oleh Hitler bahwa “orang-orang Yahudi akan dimusnahkan, paling tidak untuk selama 1000 tahun!”

Berdasarkan fakta itu, kemungkinan masih menguatnya sikap antipati – untuk tidak mengatakan anti-Judaisme – sang Paus Pius XII pada orang-orang Yahudi bisa dibenarkan. Sebab kalau dirunut dari sisi kronologis-historisnya, antipati Kristen pada orang-orang Yahudi terlahir dari keyakinan semenjak masa Gereja Kristen awal, bahwa orang-orang Yahudi telah membunuh Yesus Kristus. Sehingga dengan demikian, tidak heran jika dikatakan bahwa antara Pacelli dan Hitler sebenarnya mempunyai inisiatif dan komitmen yang sama, yakni “mengamini” dan mendukung tragedi Holocaust sebagai bagian dari agenda-agenda politis.

Karena itu, pernyataan Pacelli bahwa negoisasi Konkordat-nya dengan Hitler merupakan upaya untuk membumikan perdamaian dan mempererat hubungan antara Istana Kepausan dan Jerman, hanyalah sebentuk apologi yang menyimpan keculasan dan kekejian. Sebab, bersamaan dengan itu, Pacelli bersama Hitler diam-diam melakukan penggembosan terhadap pihak-pihak dan institusi-institusi yang diprediksi dapat menentang keputusan-keputusan yang nantinya akan dihasilkan.
 
Jelas ada sesuatu yang ambigu dari pernyataan dan sikap Pacelli tersebut. Kita bisa membacanya secara kritis: bagaimana mungkin Pacelli berinisiatif melindungi orang-orang Yahudi dari kekejian rezim Hitler jika dalam perjanjian Konkordat disebutkan bahwa ia tidak akan mencampuri urusan-urusan pemerintah? Bahkan sebagai imbalan dari kesepakatan itu, bukankah Gereja Katolik di Jerman beserta partai politik, dan ratusan asosiasi serta surat kabar dengan “suka rela” mengikuti inisiatif Pacelli untuk menarik diri dari tindakan sosial dan politik?
Dalam konteks inilah sangat tampak keculasan Pacelli dalam menggunakan lembaga Kepausan sebagai legitimasi untuk membungkam kritik massa yang kontra dengan keputusan-keputusan kontroversialnya.Lewat keberhasilannya menutup sejarah kelam, tak pelak jika Pacelli di usia tuanya meraih reputasi sebagai orang bijak dan orang suci.[6]


Seorang Profesor Yahudi ternyata punya andil andil besar dalam kasus pengejaran dan pembunuhan orang-orang Yahudi yang dilakukan Nazi-Jerman dalam Perang Dunia II. Profesor Karl Haushofer namanya.
Keberangkatan tugas tersebut mendukung ketertarikan Haushofer pada ajaran mistis dari Timur. Minatnya yang cukup tinggi bersumber dari latar belakang keluarganya yang dipercaya termasuk dalam persaudaraan mistis pemuja setan (Kabbalah). Salah satu teori dari ajarannya adalah The Heart Land Theory yang berbunyi, "Siapapun yang mampu menguasai Heart Land, maka akan mampu menguasai World Island". Heart Land mengacu pada negara Asia Tengah, sementara World Island mengacu pada Timur Tengah. Keduanya kaya akan minyak dan gas bumi.

Sementara, teori ini ditambahkan oleh Nicholas Spykman yang berbunyi, "Siapapun yang mampu menguasai World Island, maka akan mampu menguasai dunia".

Berbekal teori tersebut, Haushofer yang akrab dengan perwira Jerman, termasuk Adolf Hitler menawarkan gagasan tersebut ditambah dengan teori ras unggul ras Arya. Menurutnya, ras Arya harus memurnikan dirinya untuk menjadi bangsa terkuat, sehingga mampu menguasai dunia. Pemurnian ini dilakukan dengan jalan menyingkirkan orang Jerman yang tidak termasuk dalam ras Arya, termasuk Yahudi.

Dahaga kekuasaan dunia tentunya amat dirasakan di masa perang dunia tersebut. Alasan tersebut menjadi landasan Hitler untuk menyapu bersih ras selain Arya, tentunya dibalik bayang-bayang propaganda Haushofer. Kemudian tibalah masa yang diyakini sebagai waktu berlangsungnya tragedi Holocaust.
Haushofer, seorang ras Yahudi tentunya memiliki alasan kuat dan cerdik dibalik pengusiran dan pembantaian ini bangsanya sendiri. Yahudi memiliki persaudaraan yang kuat dan ambisius untuk menguasai dunia. Dalam waktu dan lokasi yang berbeda, persaudaraan Yahudi mengadakan pertemuan 13 keluarga Yahudi berpengaruh di Bavaria. Pertemuan tersebut menyusun program penguasaan dunia yang saat ini dikenal dengan Protokolat Zionis. Selain itu, pertemuan tersebut juga untuk membangun organisasi konspiratif modern paling rahasia bernama Illuminati, seperti yang banyak disajikan oleh penulis seperti Dan Brown dalam bukunya. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan harta karun King Solomon yang diyakini ada di dasar Masjidil Aqsa dengan jalan merebut tanah tersebut dari bangsa Palestina.
Pada 1897, seorang tokoh Yahudi yang bernama Theodore Hertzl mengadakan Kongres Zionisme Internasional. Kesimpulan kongres tersebut adalah untuk memutuskan seluruh bangsa Yahudi di seluruh dunia agar bermigrasi ke Palestina. Himbauan tersebut tidak ditanggapi antusias, sehingga harus ada jalan paksaan agar bangsa Yahudi berpindah.
Haushofer yang mengetahui rencana ini tentunya memanfaatkan peluang sebagai kerabat dekat Hitler. Gagasan pemurnian bangsa Arya tentunya menjadi teori kuat untuk mengusir bangsa Yahudi dari tanah Jerman, sehingga diharapkan bangsa Yahudi secara terpaksa kembali ke koloni mereka dan merebut Palestina dengan kekuatan berlimpah. Saat itulah tragedi Holocaust diyakini terjadi. Padahal di balik pemurnian bangsa Arya, Haushofer-lah yang memiliki mimpi dan cita-cita jauh lebih besar untuk menguasai dunia dengan menguasai Palestina terlebih dahulu.
Benar atau tidaknya tragedi tersebut masih menjadi tanda tanya. Holocaust adalah perdebatan panjang sejarah. Jika benar Holocaust terjadi dengan sejarah seperti yang diceritakan di atas, maka itu adalah proyek kotor zionis yang mengorbankan banyak jiwa, baik Yahudi ataupun bangsa lain.
Namun, jika tragedi Holocaust tidak pernah ada, maka mungkin ini adalah konspirasi zionis demi meminta belas kasihan dunia dan berharap atas pengalihan isu bahkan pelegalan kejahatan yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina demi mendirikan negara Yahudi di tanah Palestina. Dengan demikian, tujuan mereka untuk menguasai dunia pun dapat diraih sesuai teori Nicholas Spykman.
Di akhir Perang Dunia II, Haushofer ditangkap oleh pasukan Sekutu. Pada tanggal 13 Maret 1946, Haushofer dan isterinya melakukan bunuh diri di Pähl, Jerman Barat. Mengikut jejak Adolf Hitler dan Eva Braun yang melakukan bunuh diri saat Berlin jatuh ke tangan Sekutu setahun sebelumnya.[7]



LAMPIRAN

Anak-anak Rom di Auschwitz, korban eksperimen medis Nazi.

Kuburan massal korban Holocaust di kamp konsentrasi Bergen-Belsen, di foto oleh seorang tentara Inggris setelah pembebasan kamp itu pada bulan April 1945.


Interior kamar gas di kamp konsentrasi Stutthof.




Tawanan perang Soviet yang ditelanjangi di kamp konsentrasi Mauthausen.

Budapest, Hongaria - perempuan Yahudi ditangkap di Jalan Wesselényi, 20-22 Oktober 1944.

Seorang nenek dan dua anak kecil Yahudi Hongaria sedang dalam perjalanan menuju kamar gas di kamp kematian Auschwitz, Mei 1944.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyo,  Agus N. 2013. Pembantaian-pembantaian mengerikan dalam perang dunia I & II. Jogjakarta: Palapa.
Bauer, Yehuda (1982). A History of the Holocaust. New York: Franklin Watts.
http://id.wikipedia.org/wiki/Holokaus, pada tanggal 25 mei 2015 pukul 09.35

Cahyo,  Agus N. 2013. THE HISTORY OF ADOLF HITLER. Jogjakarta: Palapa.
Finkelstein G. Norman. 2006. The holocaust Industry. Indonesia: Ufuk press







[1] Agus N. Cahyo. Pembantaian-pembantaian mengerikan dalam perang dunia I & II, (Jogjakarta: Palapa, 2013), hlm. 124
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Holokaus, pada tanggal 25 mei 2015 pukul 09.35
      [3] Agus N. Cahyo, Op. Cit, hlm. 127.
[4] Ibid., hlm. 129

Tidak ada komentar:

Posting Komentar