Rabu, 30 September 2015

Perang-perang dalam Islam



PERANG BADAR

Perang pertama yang sangat menentukan masa depan Negara islam ini adalah perang badar, perang antara kaum muslimin dengan musyrik Quraisy. Pada tanggal 8 Ramadhan tahun ke-2 hijriah, nabi bersama 305 orang muslim bergerak keluar kota membawa perlengkapan yang sederhana di perang ini nabi sendiri yang memegang komando. Di daerah badar, kurang lebih 120 kilometer dari madinah, pasukan nabi bertemu dengan pasukan Quraisy yang berjumblah sekitar 900 sampai 1000 orang. Dalam ini kaum muslimin keluar sebagai pemenang.

KISAH PERANG BADAR

            Tahun 622 M, nabi Muhammad saw. Dan banyak sahabatnya hijrah ke madinah. Hal ini menandai dimulainya kedudukan nabi sebagai pemimpin suatu kelompok dan agama. Setelah hijrah ketegangan antara kelompok masyarakat di mekkah dan madinah semakin memuncak dan pertikaiaan terjadi pada tahun 623 ketika kaum muslim memulai bebrapa serangan (sring di sebut ghazwah dalam bahasa arab)pada rombongan dagang kaum Quraisy makkah. Perlu di ketahui madinah terletak di antara jalur utama perdagangan mekkah. Kebanyakan kaum muslimin yang berasal dari suku Quraisy merasa yakin akan haknya untuk mengambil harta para pedagang quraisy makkah, sebab kaum kafir Quraisy telah menjarah harta dan rumah kaum muslim yang ditinggal di makkah(karena hijrah) dan telah mengeluarkan mereka dari sukunya sendiri. Tentu saja hal ini merupaka sebuah penghinaandalam kebudayaan arab yang sangat menjunjung tinggi kehormatan.kaum kafir Quraisy mempunyai pandangan lain , mereka melihat kaum muslimin sebagai penjahat dan ancaman terhadap lingkungan mereka.
            Pada akhir tahun 623 M dan awal tahun 624 M, aksi ghazwah semakin sering terjadi di mana-mana pada bulan sebtember 623 M, nabi Muhammad saw. Memimpin 200 orang pasukan melakukan serangan terhadap rombongan besar kafilah kaum Quraisy. Tak lama setelah itu kaum Quraisy dari makkah melakukan serangan balasan ke madinah, meskipun tujuan sebenarnya hanyalah untuk mencurin ternak kaum muslim.
            Pada bulan januari 624 M, kaum muslim menyerang kafilah dagang makkah di dekat daerah nakhlah yang berjarak 40 km di luar kota mekkah. Mereka membunuh seorang penjaga dan akhirnya benar-benar membangkitkan dendam di kalangan kaum kafir Quraisy. Terlebih lagi, dari sudut pandang kaum Quraisy mekkah, penyerangan itu terjadi pada bulan rajab, bulan yang dianggap suci oleh penduduk mekkah. Dalam bulan itu dilarang peperangan dan genjatan senjata. Berdasar latar belakang inilah, akhirnya perang badar pun terjadi.
            Di musim semi tahun 624, nabi mendapatkan informasi dari seorang mata-mata bahwa salah satu kafilah dagang yang paling banyak membawa harta pada tahun itu, di pimpin oleh abu sufyan dan di jaga oleh 30-40 pengawal, sedang dalam perjalanan dari suriah menuju mekkah. Mengingat besarnya kafila tersebut, atau karena beberapa kegagalan dalam penghadangan kafilah sebelumnya, maka beliau mengumpulkan pasuka sejumblah lebih dari 300 orang, tepatnya 314, yang saat itu merupakan jumblah terbesar pasukan muslim yang pernah di turunkan ke medan perang.
             Nabi memimpin pasukannya sendiri dan membawa banyak panglima utama, termasuk pamannya yang bernama hamzah dan para calon khafilah masa depan, yaitu abu bakar ash-shiddiq, umar bin khathab, dan ali bin abi thalib. Kaum muslim juga membawa 70 ekor unta dan 3 ekor kuda.
            Ketika kafilah dagang kaum kafir Quraisy mendekati madinah, abu sufyan mulai mendengan rencana rasulullah saw, untuk menyerang kafilahnya. Ia pun mengirim utusan bernama damdam ke mekkah untuk meminta bantuan kepada kaum Quraisy. Saat itu kaum Quraisy tenyata telah menghimpun kekuatan besar untuk membalas dendam kepada umat muslim, maka begitu mendengar berita yang di bawa oleh damdam, mereka segera mempersiapkan pasukan sejumlah 1.000 orang untuk melindungi kelompok dagang abu sufyan.
            Dalam pasukan besar kaum Quraisy tersebut banyak, banyak bangsawan kaum kafir Quraisy yang turut bergabung, diantaranya amr bin hisyam atau abu jahal, walid bin utbah, syaibah bin rabi’ah, dam umayyah bin khalaf. Alasan keikut sertaan mereka pun berbeda. Ada yang ikut karena mempunyai bagian dari barang-barang dagang pada kafilah dagang, ada pula yang ingin membalas dendam atas kematian ibnu al-hadrami penjaga yang tewas di nakhlah, dan ada pula yang ikut karena terhadap mendapatkan kemenangan yang mudah atas kaum muslim.
            Saat itu pasukan muslim sudah mendekati tempat penyergapan yang telah di rencanakan, yaitu di sumur badar suatu lokasi yang biasanya menjadi tempat persinggahan bagi semua kafilah yang sedang dalam rute perdagangan dari suriah. Akan tetapi bebrapa orang petugas pengintai sudah di ketahui keberadaannya oleh para pengintai dari kalangan kafir Quraisy. Oleh karena itu, abu sufyan kemudian langsung membelokan arah kafilah menuju yanbu.
            Dan mereka pun lolos. Sedangkan, umat muslim harus berhadapan dengan pasukan bantuan Quraisy yang berjumblah 3 kali lipat dari jumlah pasukan muslim. Begitu mendengan kabar keberangkatan pasukan besar Quraisy dari makkah, rasulullah saw. Segera menggelar rapat dewan peprangan. Rapat tersebut di lakukan karena masih ada kesempatan untuk mundur. Selai itu, diantara para pejuang muslim, banyak diantara mereka termasuk kaum anshar yang sebelumnya hanya berjanji untuk membela madinah. Berdasarkan pasal-pasal dalam piagam madinah, mereka berhak menolak berperang serta dapat meninggalkan pasukan. Tapi kaum anshar tetap kukuh membela rasulullah saw. Merekapun berjanji untuk perang.
            Sa’ad bin ubadah salah seorang kaum anshar bahkan berkata kepada nabi., “seandainya engkau membawa kami ke luar laut itu, kemudia engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu.”
Tanggal 15 maret kedua pasukan telah berada kira-kira satu hari perjalanan dari bada. Bebrapa pejuang muslim yang berkuda di barisan utama telah berhasil menangkap dua orang pembawa persediaan air dari kalangan kafir Quraisy di sumur badar. Pasukan muslim sangat terkejut ketika mendengar para tahanan berkata bahwa mereka bukan berasal dari kafilah dagang, melainkan dari pasukan utama kafir quraisy. Karena diduga berbohong, maka para penyelidik memukuli kedua tawanan tersebut sampai mereka berkata bahwa mereka berasal dari kafilah dagang. Namun berdasarkan catatan tradisi, rasulullah saw. Kemudian menghentikan tindakan tersebut.
            Hari berikutnya, sarusulullah saw. Memerintahkan melanjutkan pergerakan ke lembah badar dan tiba di sana sebelum pasukan mekkah. Sumur badar terletak di lereng yang landai di bagian timur suatu lembah bernama yalyal. Bagian barat lembah di pagari oleh sebuah bukit besar bernama aqanqal.
            Ketika pasukan muslim tiba dari arah timur , pertama rasulullah saw. Memilih menempatkan pasukannya pada sumur pertam yang di capai. Namun, beliaw kemudian berhasil diyakinkan oleh salah seorang sahabat untuk memindahkan pasuka ke arah barat dan menduduki sumur yang terdekan dengan posisi pasukan Quraisy.
            Salah seorang sahabat, al-habab bin mundzi, bertanya kepada rasulullahs saw. “ya rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini engkau menerima wahyu dari Allah swt. Yang tidak dapat diubah lagi?ataukan berdasarkan taktik peprangan?” rasulullah menjawab “tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan taktik peperangan!”
Rasulullah saw. Menjawab, “tempat ini ku pilih berdasarkan pendapat dan taktik peperangan”.
Al- Habab mengusulkan “ya rasulullah! Jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat kubu pertahanan disana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum!”
Rasulullah saw. Menjawab “pendapatmu cukup baik!” kemudian, rasulullah saw. Memerintahkan agar sumur-sumur lain di timbun, sehingga pasukan kafir terpaksa harus berperang melawan pasukan muslim untuk dapat memperoleh satu-satunya sumber air yang tersisa. Pasukan muslim bergerak ke tempat yang diusulkan oleh Al- Habab bin Mundzir.
Ketika pasukan kafir dengan angkuhnya maju menuju lembah badar, rasulullah saw. Segera mengangkat tangannya ke langit seperti yang dilakukan oleh para nabi bani israil. Beliau berdoa, “Ya Rabbi, jika pasukan kecil ini sampai binasa, tidaklah aka nada lagi yang menyembahmu dengan hati yang ikhlas! Rasulullah saw. Terus memanjatkan doa kepada Allah swt. Dengan khusyuk nya seraya menadahkan kedua telapak tangannya ke langit. Abu bakar ash- Siddiq yang melihat kesedihan di wajah Rasulullah saw. Berusaha menenangkan junjungannya tersebut seraya berkata “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah! Sesungguhnya, Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepadamu!”
Sementara itu, dalam peperangan ini, kaum kafir Quraisy tidak membawa mereka selama pertempuran sebagaimana tradisi pada banyak suku Arab lainnya. Selain itu, jumlah mereka juga sedikit dan sama sekali tidak melibatkan suku Badui sebagai sekutu merekayang banyak tersebar di seluruh Hujaz. Kedua fakta tersebut menunjukkan bahwa kaum Quraisy kekurangan waktu untuk mempersiapkan penyerangan, karena tergesa-gesa untuk melindungi kafilah dagang mereka.
Ketika pasukan kafir Quraisy sampai di Juhfah, sedikit di arah selatan Badar, mereka menerima pesan dari Abu Sufyan bahwa kafilah dagang telah aman di belakang pasukan tersebut, sehingga mereka dapat kembali ke Makkah. Pada titik ini, menurut penelitian Karen Amstrong, muncul pertentangan kekuasaan di kalangan pasukan Makkah. Amr bin Hisyam ingin melanjutkan perjalanan, tetapi beberapa suku termasuk, Bani Zuhrah dan Bani Ad, segera kembali ke Makkah. Amstrong memperkirakan suku-suku itu khawatir terhadap kekuasaan yang akan diraih oleh Amr bin Hisyam setelah penghancuran kaum muslim.
Sekelompok perwakilan Bani Hasyim yang juga enggan berperang melawan saudara sesuku turut pergi bersama kedua suku Bani Zuhrah dan Bani Adi. Diluar beberapa kemunduran itu, Amr bin Hisyam tetap teguh dengan keinginannya untuk bertempur, dan bersesumba, “Kita tidak akan kembali sampai kita berada di Badar.”
Saat itulah, Abu Sufyan dan beberapa orang dari kafilah dagang turut bergabung dengan pasukan utama. Selanjutnya, tanggal 17 Maret, ketika fajar mulai menyingsin, pasukan Quraisy membongkar kemahnya dan bergerak menuju Lembah Badar. Sehari sebelumnya, hujan turun begitu deras sehingga mereka harus berjuang ketika membawa kuda-kuda dan unta-unta untuk mendaki Bukit’Aqanqal (beberapa sumber menyatakan bahwa matahari telah tinggi ketika mereka berhasil mencapai puncak bukit).  Setelah menuruni bukit ‘Aqanqal, mereka mendirikan kemah baru di dalam lembah.
Saat beristirahat, kaum kafir Quraisy mengirimkan seorang pengintai bernama Umair bin Wahab untuk mengetahui letak barisan-barisan kaum muslim. Umair melaporkan bahwa pasukan muslim berjumlah kecil dan tidak ada pasukan pendukung lainnya yang akan bergabung dalam peperangan. Akan tetapi, ia juga memperkirakan aka nada banyak korban dari kaum Quraisy jika terjadi penyerangan. Hal tersebut semakin menurunkan mental kaum Quraisy, karena adanya kebiasaan peperangan suku-suku Arab umumnya sedikit memakan korban, dan menimbulkan perdebatkan baru di antara para pemimpin Quraisy.
Meskipun demikian, menurut catatan tradisi Islam, Abu Jahal atau Amr bin Hisyam membungkan semua ketidakpuasan dengan membangkitkan rasa percaya diri kaum Quraisy dan menuntut mereka agar menuntaskan utang darah mereka.
Pertempuran diawali dengan majunya pemimpin-pemimpin kedua pasukan untuk berperang tanding. Tiga orang Anshar maju dari barisan muslim, namun diteriaki agar mundur oleh pasukan Makkah yang tidak ingin menciptakan dendam yang tidak perlu dan menyatakan bahwa mereka hanya ingin bertarung melawan muslim Quraisy. Oleh karena itu, kaum muslim kemudian menginginkan Ali, Ubaidah bin al-Harits, dan Hamzah. Para pemimpin muslim berhasil menewaskan pemimpin-pemimpin kaum kafir dalam pertarungan tiga lawan tiga, meskipun ubaidah mengalami luka parah yang menyebabkan ia wafat.
            Selanjutnya kedua pasukan mulai melepaskan anak panah kea rah lawan. Dua orang muslim dan beberapa orang kafir Quraisy yang tidak jelas jumblahnya tewas. Sebelum pertempuran berlangsung, nabi Muhammad saw. Telah memberikan perintah kepada kaum muslim agar menyerang dengan senjata jarak jauh mereka, dan bertarung melawan kafir Quraisy dengan senjata pendek hanya setelah mereka mendekat. Beliau memerintahkan maju sambil melemparkan kerikil ke arah pasukan mekkah.
             Akhirnya pasukan kafi Quraisy berhasil di pukul mundur. Mereka kalah banyak pemimpin mereka yang tewas. Abu jahal salah satunya, dari pihak kaum kafir 70 orang terbunuh dan 70 orang lainnya menjadi tawanan. Sedangkan dri pihak kaum muslim 14 orang gugur sebagai suhada. Tentara kafir yang tertawan itu dilakukan secara baik oleh  kaum muslim, kecuali dua orang ini nazr bin harits. Dua orang itu dihukum mati karena kebencian yang sangat kepada kaum muslim. Dan tawanan lainnya di perlakukan secara manusiawi.
            Pertempuran ini sendiri berlangsung hanya beberapa jam dan selesai sedikit lewat setengah hari.















Hikmah di balik perang badar :
1.      Perang badar memperkuat eksistensi umat muslim dan agama islam. Seandainya tentara islam kalah maka tamatlah riwayat orang islam bahkan agama islam itu sendiri. Selain itu kemenangan ini juga menguatkan kedudukan islam di madinah dan menambah keyakinan bahwa mereka adalah pihak yang benar.
2.      Perang badar membuat umat islam mulai di segani dan di takuti oleh kabilah-kabilah arab lain termasuk orang yahudi dan munaik di madinah.
3.      Perang ini membuat pengaruh kaum Quraisy di makkah mulai melemah.
4.      Perang badar membuat banyak orang makkah masuk islam. Hal ini berkat tawanan yang diperlakukan dengan baik sehingga setelah di lepaskan mereka cerita tentang kebaikan orang islam.
5.      Perang ini menguatkan kepercayaan orang islam kepada nabi Muhammad saw. Dan ajaran islam. Mereka sanggup berkorban jiwa untuk kepentingan agama islam.







Perang uhud

            Perang uhud merupaka perang besar kedua kau muslim setelah badar. Pada perang ini kaum muslim berhasil dipukul mundur oleh kaum Quraisy yang menuntut balas dendam atas kekalahan mereka di perang badar.
            Disebut perang uhud karena perang ini berkecamuk di dekat gunung uhud, sebuah gunung dengan ketinggian hanya 121 m. gunung ini berada di sebelah utara madinah dengan jarak 5,5 km dari masjid nabawi. Menuerut para ahli sirah Perang uhud terjadi pada bulan syawwal tahun ke tiga hijriah.
Penyebab lain terjadinya perang uhud adalah misi penyelamatan jalur bisnis Quraisy ke syam dari kaum muslim yang sering mengganggu.
            Untuk menyukseskan misi mereka dalam perang uhud ini, mereka mengumpulkan tiga ribu pasukan yang terdiri dari kaum Quraisy dan suku-suku yang royal seperti bani kinanah dan penduduk tihamah. Mereka memiliki 200 pasuka berkuda dan 700 pasukan berbaju besi dan membawa bebrapa orang wanita untuk membangkitkan semangat dan menjaga mreka supaya tidak melarikan diri jika ada yang lari mereka akan di cela oleh wanita. Mereka mengangkat Khalid bin walid sebagai komandan sayap kanan, dan sayap kiri ikrimah bin abu jahl.    
            Sedangkan jumlah angkatan perang kaum muslim pada awalnya terdiri dari seribu orang tentara. Namun ketika pasukan mendekati gunung uhud, Abdullah bin ubay dan orang-orang munafik tiba-tiba meninggalkan pasukan muslim kembali ke makkah dengan para pengikutnya yang berjumlah 300 orang.
             Mereka berhadapan di dekat gunung uhud, rasulullah saw. Mengatur strategi peperangan beberapa orang pemanah di tempatkan pada suatu bukit kecil untuk menghalangi majunya musuh. Awalnya musuh mnederita kekalahan dan banyak dari pemanah meninggalkan pos-pos mereka untuk mengumpulkan barang rampasan. Nah, dalam kesempatan itu musuh menyerang angkatan muslim itu dari arah bukit tersebut. Maka banyak dari kaum muslim yang mati syahid dan rasulullah pun menderita luka sangat parah.
Pada awalnya pasuka pemanah melakukan tugas mereka dengan sangat baik, sehingga memperoleh tiga kali kemenangan dari pasukan musuh. Dan musuh lari kocar-kacir.
Salah satu dari kaum Quraisy secara diam-diam bersembunyi di balik sebuah batu karang. Di adalah wahsyi, budak jubair bin muttan. Dengan cara yang licik dia menyerang hamzah, dan berhasil menewaskannya seketika itu juga kaum Qurais kembali menyerang pasukan muslim.
            Sebenarnya, Abdullah bin jubair pimpinan pasukan pemanah sudah mengingatkan pasukannya tentang intruksi dari rasulullah supaya tidak meninggalkan pos. karena Abdullah ditinggalkan oleh pasukannya dan hanya tersisa 9 pemanah maka musuh mengambil kesempatan tersebut dan menyerang pemanah muslim dan 9 pemanah itu mati syahid. Pasukan berkuda musuh maju terus dan mengepung pasukan muslim dan beberapa orang pasukan muslim melarikan diri.
Bahkan dalam situasi seperti ini banyak sahabat yang bertempur dengan perkasa salah satunya anas bin nadir yang 70 tusukan pada badanya.
            Dalam perang badar, rasulullah di tinggalkan hanya dengan Sembilan orang sahabat di sekelilingnya. Namun, 7 orang dari mereka menginggal satu per satu. Hanya thalhah bin ubaidullah dan sa’ad bin waqas yang mampu bertahan bersama rasulullah saw dan selamat. Namun, lemparan batu-batu telah membuat rasulullah jatuh dan salah satu gigi bawahnya patah disertai bibir terluka. Musuh lainnya melukai dahi beliaw tak hanya itu musuh juga memukul dengan sangat keras menggunakan pedang akibatnya dua cincin pengikat helem rasulullah menembus ke dalam pipi beliau. Darah pun bercucuran dari atas wajah beliau.
            Kaum Qurais juga telah menggali bebrapa parit sebagai perangkap dan rasulullah saw jatuh masuk kesalah satu parit dan lututnya terluka parah kedua sahabat beliau menarik keluar dari parit tersebut.

Sosok pahlawan dalam perang uhud :    
1.      Musab bin omair
Dia bertugas memegang bendera saat tangan kanannya putus dia memegang dengan tanga kiri dan saat tangan kirinya terputus ia kemudia berlutut mejemput bendera denga dada dan dagunya. Karena musaba mirip dengan  rasulullah saw. Maka orang kafir mengumumkan bahwa rasulullah telah terbunuh hal ini melemahkan semangat orang-orang muslim.
2.      Abu dajana
Ia berdiri di depan rasulullah untuk melindungi beliau banyak panah musuh menancap di punggung namun ia tidak bergerak sedikit pun.
3.      Ummi amara
Dengan pedang terhunus ia bertahan bersama rasulullah saw dari semua arah.

Hikmah di balik perang uhud :

Adalah larangan menentang atau melanggar perintah yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan rasulnya. Apabila kita melanggar perintah tersebut maka akibatnya akan fatal bagi kita, seperti kemenangan yang berubah menjadi kekalahan.










PERANG KHANDAQ

Perang besar ketiga kaum muslim ini dikenal juga dengan Al-Ahzab yang terjadi pada bulan syawal tahun kelima hijriah. Perang ini sebagai penentu kelanjutan masa depan agama islam. Dalam perang ini kaum muslim mendapat bebrapa cobaan yang sangat hebat. Tergambar pada (QS Al Ahzab [33] 10-11).
       Penyebab terjadinya perang ini adalah hasutan kaum yahudi. Hasutan oleh orang-orang yahudi telah menghasilkan perjanjian angkatan perang bersama antara kaum yahudi, Quraisy, dan bani ghatfan dalam satu kekuatan. Adalah sebagai berikut :
1.      Kaum yahudi diwajibkan menyerahkan seluruh hasil kurma khaibar selama satu tahun.
2.      Kaum Quraisy keluar dengan pasukannya sebanyak 4000 orang.
3.      Bani ghatfan keluar dengan pasukannya sebanyak 4000 orang.
4.      Pimpinan tertinggi dipegang oleh abu sufyan bin harb.

Ketika rasulullah saw. Mendengar berita tersebut, beliau menyuruh kaum muslim untuk mengadakan persiapan perang, saat itu jumlah tentara muslim hanya terkumpul sebanyak 3000 orang. Dalam kesempatan itulah salman al-farisi mengisyaratkan agar membuat parit di sekitar kota madinah. Dengan segera rasulullah saw. Memrintahkan para sahabat-sahabat untuk menggali parit di sebelah barat daya madinah. Dan membagi tugas penggalian parit setiap sepuluh sahabat ditugaskan untuk menggali sepuluh hasta. Panjang parit ini kira-kira lima ribu hasta. Siang malam mereka terus menggali termasuk rasulullah saw tanpa lelah sehingga parit itu akhirnya selesai sebelum tentara musuh datang.
            Ribuan perajurit musuh akhirnya tiba. Siap menghancurkan kaum muslim di kota madinah. Senjata pun sudah terhunus di tangan masing-masing tentara. Merekapun berteriak mendekati madinah. Namun, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat parit yang sangat dalam dan lebar menghalangi langkah mereka. Setiap mereka berputar kearah lain, mereka tidak menemukan satu pun jalan yang bisa digunakan semua trhalang parit.
Sementara itu pasukan muslim sudah bersiap siaga disebrang parit, setiap tentara musuh mencoba menerobos masuk ke parit, mereka langsung menyerangnya tanpa ampun. Anak panah berterbangan menghujam mereka hingga akhirnya mereka harus mundur kembali.
Peperagan ini berlangsung selama tiga minggu tanpa henti, siang dan malam. Rasa lelah pun mendera kaum muslim. Beliau khawatir pada saat pasukannya kelelahan musuh akan menyerang kembali. Maka beliau pun mengajak mereka untuk memohon pertolongan dan perlindungan demi keselamatan mereka agar masa depan islam tetap dapan dipertahankan.
            Suatu malam angin berembus begitu dingin dan kencang, sehingga membuat semua prajurit kedua pasukan menggigil kedinginan. Malampun turun dengan gelapnya, sehingga mereka tidak bisa melihat satu sma lain. Angin memadamkan semua api yang dinyalakan. Mereka diam dalam dingin dan gelapnya malam.
            Pada kesempatan itu rasulullah saw. Berbicara dengan hudaifah yang menjadi mata-mata kaum muslim. Yang di perintah untuk mengetahui keadaan musuh. Hudafiah pun mengerjakan perintah tersebut. Dalam dinginya malam yang gelap, ia berangakat menyusup ke tenga pasukan musuh. Suasana gelap menyelamatkannaya sehingga ia bisa leluasa masuk ke tempat pasukan Quraisy. Allah swt. Telah memberikan pertolongannya. Begitu tiba di tengah-tengah pasukan kafir, tiba-tiba hudaifah mendengar suara yang sangat berwibawa.
            “wahai kaum Quraisy sudah 3 minggu kita berada di sini dan tidak sedikitpun kita bisa tembus pertahanan pasukan Muhammad. Mereka sudah menggalin parit sehingga kita begitu sulit menerobos ke dalam kota. Sekarang, lebih baik kita siap-siap untuk pulang kembali ke makkah” kata abu sufyan dengan lantang.
            Akhirnya berita menggembirakan itu disampikan oleh hudaifah kepada rasulullah saw. Dan di sambut denga rasa gembira oleh kaum muslim. Inilah akhir dari perang ini dimana pasukan muslim keluar sebagai pemenang. Meskipun tidak berperang secara fisik, namun pasukan Qurais mengakui kehebatan pasukan muslim sehingga mereka menyerah dan mundur.

Hikmah di balik perang khandaq :

1.      Menghadapi pasukan besar, kuat, dan bersenjata canggih umat islam harus berfikir kereatif dan tidak frontal.
2.      Inovasi baru yang diperkenalkan salman dari iran mengharuskan umat islam sekarang meminjam teknologi dan bantuan pengetahuan dari bangsa lain.
3.      Kekompakan umat islam dalam membangun parit adalah symbol semangat persatuan dikalangan umat islam ini sepatutnya harus di pertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat muslim di era modern ini.
4.      Solidaritas umat menjadi kekuatan.
5.      Penghianatan dari kaum yahudi akhirnya dihukum. Hati-hati terhadap tusuka dari belakang.














PERANG KHAIBAR
Pertempuran Khaibar adalah pertempuran yang terjadi antara umat Islam yang dipimpin Muhammad dengan umat Yahudi yang hidup di oasis Khaibar, sekitar 150 km dari Madinah, Arab Saudi. William Montgomery Watt menganggap penyebab pertempuran ini adalah Yahudi Bani Nadhir yang menimbulkan permusuhan melawan umat Islam.[1] Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan umat Islam, dan Muhammad berhasil memperoleh harta, senjata, dan dukungan kabilah setempat.Hanya beberapa hari Muhammad berada di Madinah usai peristiwa Hudaibiya itu. Sekitar dua pekan kemudian, Rasul bahkan memimpin sendiri ekspedisi militer menuju Khaibar, daerah sejauh tiga hari perjalanan dari Madinah. Khaibar adalah daerah subur yang menjadi benteng utama Yahudi di jazirah Arab. Terutama setelah Yahudi di Madinah ditaklukkan oleh Rasulullah.
Yahudi tak mempunyai cukup kekuatan untuk menggempur kaum Muslimin. Namun mereka cerdik. Mereka mampu menyatukan musuh-musuh Muhammad dari berbagai kabilah yang sangat kuat. Hal itu terbukti pada Perang Khandaq. Bagi warga Muslim di Madinah, Yahudi lebih berbahaya dibanding musuh-musuh lainnya.
Maka Muhammad menyerbu ke jantung pertahanan musuh. Suatu pekerjaan yang tak mudah dilakukan. Pasukan Romawi yang lebih kuat pun tak mampu menaklukkan benteng Khaibar yang memiliki sistem pertahanan berlapis-lapis yang sangat baik. Sallam anak Misykam mengorganisasikan prajurit Yahudi. Perempuan, anak-anak dan harta benda mereka tempatkan di benteng Watih dan Sulaim. Persediaan makanan dikumpulkan di benteng Na’im. Pasukan perang dikonsentrasikan di benteng Natat. Sedangkan Sallam dan para prajurit pilihan maju ke garis depan.
Sallam tewas dalam pertempuran itu. Tapi pertahanan Khaibar belum dapat ditembus. Muhammad menugasi Abu Bakar untuk menjadi komandan pasukan. Namun gagal. Demikian pula Umar. Akhirnya kepemimpinan komando diserahkan pada Ali.
Di Khaibar inilah nama Ali menjulang. Keberhasilannya merenggut pintu benteng untuk menjadi perisai selalu dikisahkan dari abad ke abad. Ali dan pasukannya juga berhasil menjebol pertahanan lawan. Harith bin Abu Zainab -komandan Yahudi setelah Sallam-pun tewas. Benteng Na’im jatuh ke tangan pasukan Islam.
Setelah itu benteng demi benteng dikuasai. Seluruhnya melalui pertarungan sengit. Benteng Qamush kemudian jatuh. Demikian juga benteng Zubair setelah dikepung cukup lama. Semula Yahudi bertahan di benteng tersebut. Namun pasukan Islam memotong saluran air menuju benteng yang memaksa pasukan Yahudi keluar dari tempat perlindungannya dan bertempur langsung. Benteng Watih dan Sulaim pun tanpa kecuali jatuh ke tangan pasukan Islam.
Yahudi lalu menyerah. Seluruh benteng diserahkan pada umat Islam. Muhammad memerintahkan pasukannya untuk tetap melindungi warga Yahudi dan seluruh kekayaannya, kecuali Kinana bin Rabi’ yang terbukti berbohong saat dimintai keterangan Rasulullah.
Perlindungan itu tampaknya sengaja diberikan oleh Rasulullah untuk menunjukkan beda perlakuan kalangan Islam dan Kristen terhadap pihak yang dikalahkan. Biasanya, pasukan Kristen dari kekaisaran Romawi akan menghancurludeskan kelompok Yahudi yang dikalahkannya. Sekarang kaum Yahudi Khaibar diberi kemerdekaan untuk mengatur dirinya sendiri sepanjang mengikuti garis kepemimpinan Muhammad dalam politik.
Muhammad sempat tinggal beberapa lama di Khaibar. Ia bahkan nyaris meninggal lantaran diracun. Diriwayatkan bahwa Zainab binti Harith menaruh dendam pada Muhammad. Sallam, suaminya, tewas dalam pertempuran Khaibar. Zainab lalu mengirim sepotong daging domba untuk Muhammad. Rasulullah sempat mengigit sedikit daging tersebut, namun segera memuntahkannya setelah merasa ada hal yang ganjil. Tidak demikian halnya dengan sahabat Rasul, Bisyri bin Bara. Ia meninggal lantaran memakan daging tersebut.
Khaibar telah ditaklukkan. Rombongan pasukan Rasulullah kembali ke Madinah melalui Wadil Qura, wilayah yang dikuasi kelompok Yahudi lainnya. Pasukan Yahudi setempat mencegat rombongan tersebut. Sebagaimana di Khaibar, mereka kemudian ditaklukkan pula. Sedangkan Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa melalui peperangan.
Dengan penaklukan tersebut, Islam di Madinah telah menjadi kekuatan utama di jazirah Arab. Ketenangan masyarakat semakin terwujud. Dengan demikian, Muhammad dapat lebih berkonsentrasi dalam dakwah membangun moralitas masyarakat.
Kaum Yahudi menyerah dengan syarat membayar pajak dan memberikan tanahnya kepada umat Islam. Akibatnya, mereka banyak yang menjadi hamba sahaya. Menurut Stillman, orang-orang Yahudi dari Bani Nadhir tidak termasuk dalam perjanjian ini, dan seluruh orang bani Nadhir akhirnya dibunuh, kecuali anak-anak dan wanita yang dijadikan budak. Setelah pertempuran ini orang-orang Yahudi masih tinggal di Khaibar, hingga akhirnya diusir oleh khalifah Umar bin Khattab. Pembebanan pajak terhadap orang-orang Yahudi menandai dimulainya penerapan jizyah terhadap para dzimmi di bawah pemerintahan Islam, dan penahanan tanah mereka menjadi milik komunitas Islam.
Karena kemenangan umat Islam dalam pertempuran ini, kata "Khaibar" sering disebutkan dalam slogan, lagu, atau senjata-senjata buatan orang-orang Islam.
PERANG MUT’AH

Perang ini merupakan pertermpuran paling heroic yang dialami umat islam. Betapa tidak pasukan muslim yang hanya berjumlah 3000 orang harus melawan pasukan romawi dengan kaisarnya Heraclius yang membawa pasukan sebanyak 200.000 orang. Dinamakan perang mu’tah karena perang ini terjadi di daerah mu’tah.
            Perang yang terjadi pada tanggal 5 jumadil awal tahun 8 H atau 629 M, ini adalah perang berdarah pertama antara kaum muslim dan romawi. Perang ini untuk  membuka menaklukan ke Negara-negara nasrani.
Setelah Perjanjian Hudaibiyyah disepakati, Rasullulah mengirimkan surat-surat dakwah sekaligus berdiplomasi kepada para penguasa negeri yg berbatasan dengan jazirah arab, termasuk kepada Heraklius. Pada Tahun 7 hijriah atau 628 AD, Rasulullah menugaskan al-Harits bin ‘Umair untuk mengirimkan surat dakwah kepada Gubernur Syam (Irak) bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi. Dalam Perjalanan, di daerah sekitar Mut'ah, al-Harits bin ‘Umair dicegat dan dibunuh oleh penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani pemimpin dari suku Ghassaniyah (Pada waktu itu yang berkuasa di wilayah Palestina dan sekitarnya). Dan Pada tahun yg sama Utusan Rasulullah pada Banu Sulayman dan Dhat al Talh daerah di sekitar negeri Syam (Irak) juga dibunuh oleh penguasa sekitar. Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dalam misinya.
Penyebab perang mut’ah bermula ketika rasulullah saw. Mengirim utusan bernama Al-harits bin umair al-Azdi ke penguasa bashra. Di tengah perjalanan utusan ini ditangkap oleh syurahbil bin’amr al-ghassani dan bani dasshaniyah dan dibawa kehadapan Heraclius. Setelah itu kepalanya dipenggal pelecehan dan pembunuh utusan Negara menyalahi aturan politik Negara. Hal ini membuat rasulullah saw geram dan marah.
Tiga orang sahabat di tunjuk untuk mengemban amanah komando yaitu jafar bin abi thalib, zaid bin haritsah (berasal dari kaum muhajirin) dan Abdullah bin rawahah dari anshar seorang penyair.
Pasukan islam diberangkatkan. Ketika mereka sampai di ma’an, terdengar berita Heraclius memsiapkan 200 ribu pasukannya. Mendengar kekuatan yang sangat besar pasuka muslim berhenti selama dua malam di daerah itu untuk berunding langkah yang akan di ambil. Singkatnya, pasukan islam yang berjumlah 3000 personel diberangkatkan. Ketika mereka sampai di daerah Ma’an, terdengar berita bahwa Heraklius mempersiapkan 100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari beberapa suku Arab pun telah siap dengan jumlah yang sama. Mendengar kabar yang demikian, sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah atau beliau memutuskan suatu perintah.
‘Abdullah bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu lantas mengobarkan semangat juang para sahabat radhiyallahu ‘anhum pada waktu itu dengan perkataannya , “Demi Allah, sesungguhnya perkata yang kalian tidak sukai ini adalah perkata yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur dimedan perang dijalan Allah Azza wa Jalla). Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”
Orang-orang menanggapi dengan berkata, “ Demi Allah, Ibnu Rawanah berkata benar”.
Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Dua pasukan berhadapan dengan sengit. Komandan pertama ini menebasi anak panah-anak panah pasukan musuh sampai akhirnay tewas terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla.
Bendera pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sepupu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini berperang sampai tangan kanannya putus. Bendera beliau pegangi dengan tangan kiri, dan akhirnya putus juga oleh tangan musuh. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tak mengenal surut, saat tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidakkurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau baik akibat tusukan pedang dan maupun anak panah.[14]
Giliran ‘Abdullah bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu pun datang. Setelah menerjang musuh, ajal pun memjemput beliau di medan peperangan.
Tsabit bin Arqam radhiyallahu ‘anhu mengambil bendera yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan siasat dan strategi – setelah taufik dari Allah Azza wa Jalla – kaum muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami kerugian yang banyak.
Penyebab kemenangan kaum muslimdalam perang ini selain pertolongan dari Allah swt adalah sebagai berikut.
1.      Mobilisasi massif
Pasukan muslim ini merupakan yang berjumlah paling besar di banding dengan perang ahzab.

2.      Mengangkat dan merekomendasikan komandan perang
Kalau zaid gugur zafar yang memegang pimpinan dan kalau jafar gugur Abdullah bin rawahah yang memegang pimpinan. Itu rekomendasi yang di berikan rasulullah.

3.      Membuat aturan perang
Rasulullah berpesan kepada komando sebelum keberangkatan mereka “berperanglah kalian ats nama Allah di jalan Allah melawan orang-orang kafir kepada Allah. Jangan berhianat, jangan mencincang, jangan membunuh anak-anak, wanita, orang yang sudah tua rentan, orang yang menyendiri di biara nasrani, jangan menebang pohon kurma dan pohon apapun. Dan jangan merobohkan bangunan.

4.      Melepas keberangkatan pasukan
Rasulullah mengantarkan mereka sampai di tsaniatul wad. Rusulullah mengatakan puncak dari agama adalah jihad di jalan Allah.[1]





[1] Sitiatava rizema putra perang-perang dalam sejarah islam. Hal 11-82