BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Adanya
jurang yang semakin besar dengan manusia ideal kita, dengan manusia Indonesia
sebenarnya, yaitu kita-kita semua ini. Jurang besar antara pretensi-prentensi
kita dengan kenyataan-kenyataan sebenarnya.
Marilah
kita melihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Sebuah warisan dari zaman
animisme yang dianut nenek moyang kita, yang sampai kini masih banyak sisanya
terdapat dalam masyarakat kita ialah masih kuatnya mitos dan mistik pada kita.
Kita masih amat suka dan amat mudah mengarang mitos-mitos, baik yang lama
maupun membuat yang baru untuk memberi kita kekuatan atau kepercayaan, terutama
menghadapi keadaan krisis dan serba sukar, ketika kekuatan pikiran rasional
kita terasa kurang kuat untuk menghadapinya. Hal ini berlaku pada hampir semua
orang, baik yang beragama, maupun yang mengaku berpikir secara rasional, telah
berpendidikan luas.
Orang
Indonesia yang sudah amat rasional, ahli matematika dan lain sebagainya banya
juga yang tidak dapat menghindarkan diri dan tertarik ke dalam gerakan
kebatinan, baik akibat dilanda kebimbangan dan ketidak pastian, maupun juga
karena didorong oleh berbagai maksud, hasrat hati, seperti ingin hendak
berkuasa, ingin mendapat jabatan tinggi, dan lain-lain. Karena aliran mistik
atau kebatinan ini hampir meliputi sebagian besar manusia Indonesia, terutama
yang berada di pulau jawa, perlu kiranya kita sebentar meneliti ciri-ciri
mistik jawa ini agar kita dapat memahami lebih baik situasi manusia kita.
Menurut para ahli, salah satu ciri kebatinan adalah dorongan hendak mencari
kesatuan, yaitu satu kesatuan hakiki yang hendak mencakup semuanya.
Selanjutnya, kebatinan melihat manusia dalam dua bagian: batiniah dan
lahiriah,yang asalnya dari illahi. Karena itu orang kebatinan menganggap hidup
batiniah adalah kenyataan yang sebenarnya.lahiriah manusia adalah tubunya
dengan segala nafsu-nafsunya. Orang kebatinan menamakanya “jagat cilik”, dan
harus dikuasai oleh roh manusia, oleh sukmanya. Jika seseorang sudah menuasai
“jagat cilik”nya, maka telah dianggap mencapai kedudukan “satria pandhita”,
raja-pahlwan-pendeta sekaligus, seseorang yang menguasai rohani dan lahir.
Dalam dirinya telah mencapai kesatuan dengan batinnya yang berasal dari illahi,
maka dengan persatuan ini badanya pun telah ikut melalui proses spiritualisasi,
berkembang menjadi rohani. Dan tercapai keselarasa, harmoni. Keselarasan dalam
diri perseorangan, harmoni dengan manusia lain, harmoni dengan alam sekeliling,
harmoni dengan illahi, harmoni antara lahir dan batin. Orang budha menamakan
ini dengan tercapainya nirwana oleh manusia.
Orang
kebatinan selanjutnya mengaangap manusia yang ideal ialah yang berkerja keras
dalam hidupnya, tanpa mencari keuntungan. Manusia ideal menurut kebatinan jawa
harus pula memiliki ciri-ciri: rela, ridho, bersedia menyerahkan segalamiliknya
di mana diperlukan, kemidian narima (narima) dengan segala kegirangan hati
apapun yang menimpa dirinya, dan ketiga, sabar, hidup dan penuh toleransi.
Terserah
pula kepada saudara-saudara semua, apakah manusia ideal serupa ini pernah ada
di tanah air kita, setelah ratusan tahun berbagai aliran kebatinan jawa berada
ditengah kita.
Dan terakhir, manusia ideal Indonesia, yang sering
dikemukakan kini adalah manusia pancasila, yaitu manusia Indonesia (menurut
para ahli pemikirnya) yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya
dasar tingkah-laku dan budi pekertinya berdasar pada lima sila pancasila:
ketuhanan, kemanusiaan, keadilan sosial, kerakyataan, persatuan Indonesia.
Manusia pancasila adalah ideal yang kelihatan
berambisi untuk mencakup segala cita-cita manusia ideal dari segala rupa ajaran
agama, dan aliran kabatinan, dan cita-cita emansipasi manusia oleh berbagai
ideology politik.
1.2. Rumusan
masalah
1. ciri manusia Indonesia?
2.
pengertian manusia munafik?
3.
istilah kata-kata ABS “asal bapak senang”?
1.3.Tujuan
penulisan
1.
diharapkan mahasiswa mampu mengetahui ciri manusia Indonesia
2. diharapkan juga mahasiswa atau audiensi mampu
mengerti dan memahami istiliah
orang munafik
3. Mahasiswa mampu memahami istilah kata asal bapak
senang di tahun 80an
PEMBAHASAN
2.1 Munafik atau hipokrit, yang di
antaranya menampilkan dan menyuburkan
sikap ABS (asal bapak senang).
Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRITIS
alias MUNAFIK. Berpura-pura, lain dimuka, lain dibelakang, merupakan sebuah
ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh
kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya
dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena
takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
Secara bahasa, kata Munafik berasal dari kata Nafaqa (نَفَقَ), Nifaqon (نِفَاقًا) yang mengandung arti Mengadakan, mengambil
bagian dalam, membicarakan sesuatu yang dalam pandangan keagamaan. Pengakuannya
dari satu orang berbeda-beda dengan yang lainnya. Adapun dalam pengertian
syara’, Munafik adalah orang yang lahirnya beriman padahal hatinya kufur.
System feodal kita di masa lampau
yang begitu menekan rakyat dan menindas segala inisiatif rakyat, adalah salah
sebuah sumber dari hipokrisi yang dasyat ini. Kemudian datanng berbagai agama,
yang meskipun datang membawa nilai-nilai yang memperkaya kehidupan jiwa manusia
Indonesia., akan tetapi di berbagai daerah, karena caranya datang memakai
paksaan dan kekrasan atau datang sebagai sekutu kekuasaan penjajah, maka iapun
datang tidak sepenuhnya dan di mana-mana diterima sebagai satu unsur atau
kekuatan pembebasan manusia Indonesia.
Hal ini dapat kita lihat, umpamanya,
kini dalah hipokrisi kita mengenai seks. Di depan umum kita sangat mengecam penghidupan
seks yang terbuka atau setengah terbuka. Majalah dan penerbitan dari luar negri
yang memuat gambar-gambar telanjang, seluruh tubuh atau setengah atau
tiga-perempat dicat hitam, agar rasa susila manusia Indonesia yang sangat peka
itu jangan sampai tersinggung. Tetapi kita membuka tempat mandi uap dan tempat
pijit, kita mengatur tempat-tempat protitusi, melindunginya, mejamin kemanan
sang protitusi maupun pelanggan dengan berbagai system resmi, setengah resmi
maupun cara swasta.
Manusia Indonesia karena semua ini,
juga penuh dengan hipokrisi. Dalam lingkungannya dia pura-pura alim, akan
tetapi begitu turun di singapura atau hongkong, atau paris, new York dan
Amsterdam, lantas loncat ke taksi cari nightclub,
dan pesan perempuan pada pelayanan atau portir hotel. Dia ikut maki-maki
korupsi tetapi dia sendiri seorang koruptor.
Kita semua mengutuk korupsi, atau
istilah barunya “komersialisasi jabatan”, tetapi kita terus saja melakukan
korupsi dan dari hari kehari korupsi bertambah besar saja. Sikap manusia yang
munafik seperti ini yang memungkinkan korupsi begitu hebat berlangsung terus
menerus selama belasan tahun di pertamina, umpamanya, dan meskipun fakta-fakta
sudah jelas dan terang, akan tetapi hingga hari ini belum ada tindakan hukum
yang diambil terhadap para pelaku utamanya.
Di samping ini kita juga mengatakan,
bahwa hukum di negri kita ini berlaku sama setia semua orang. Prakteknya, kita
lihat pencuri kecil masuk penjara, tetapi pencuri besar bebas, atau masuk
penjara sebentar saja.
Akibat dari kemunafikan manusia
Indonesia, yang berakar jauh ke masa kita sebelum dijajah bangsa asing, maka
manusia Indonesia pada massa kini terkenal dengan sikap ABS-nya (asal bapak
senag). Sikap ABS ini telah berakar jauh ke zaman dahulu, ketika tuan feodal
Indonesia meraja lela di negri ini, menindas rakyat dan memperkosa nilai-nilai
manusia Indonesia. Untuk melindungi dirinya terpaksalah rakyat memasang topeng
keluar, dan tuan feudal, raja sultan, sunan,regent, bupati, demang, tuanku
laras, karaeng, teuku, dan tengku, dan sebagainya, selalu dihadapi dengan
inggih, sumuhun, ampun duli tuanku, hamba patik tuanku!
Sikap munafik yang sudah ditanam ke
dalam diri manusia indonesia ini oleh manusia Indonesia lainya yang lebih
berkuasa dan menindas serta memeras, merampas dan memperkosa kebawah, tetapi
tidak seorang juga yang telah dituntu. Ibu Sutowo, umpamanya, menurut harian international herald tribune, terbitan
tanggal 24 desember 1976, telah mengakui untuk sebuah pengadilan di new York,
yang memeriksa pekara tuntutan sebuah perusahaan panama yang direkturnya adalah
Bruce Rappaport (yang juga adalah business
associate Ibnu Sutowo sendiri), bahwa dia sendiri telah melakukan
pelanggaran-pelanggaran hukum Indonesia, karena dia telah menjabat dalam dewan
penasihat inter maritime bank of Geneva, yang didalamnya rappaport memegang
saham (dan pula sangat besar kemungkinan
Ibnu Sutowo ikut juga di dalamnya). Juga dikabarkan dia mengaku telah
menandatangani 1.600 “promissory notes” (surat hutang), tanpa membacanya
terlebih dahulu, dan menyerahkanya kepada Bruce Rappaprot untuk dipergunakan
guna menenangkan “business associate” yang sudah menjadi gelisah. Dan dia
mengaku pula, bahwa dia telah minta pinjaman sebesar 2,5 juta dolar dari
Rappaport, dan memasukan uang itu kedalam rekening pribadinya di bank, dan tak
pernah membayar kembali pinjaman itu. Alangkah pemurahnya Rappaprot itu, jika
cerita Ibnu ini benar. Tetapi tentu dapat disangka, bahwa uang tersebuat
termasuk dalam rangka bagi-bagi antara mereka, bukan?
Sebaliknya, jika pada sesuatu yang
sukses, yang berhasil gilang-gemilang, maka manusia Indonesia tidak
sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan,surat
pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Jika kita periksa, umpamanya daftar
mereka yang menerima berbagai bintang jasa malahan bintang gerilya, di sinipun
jika kita periksa baik-baik, akan bertemu dengan orang-orang yang mendapat
bintang gerilya (tanpa berhak menerimanya), maka sebagian terbesar yang
menerima bintang mahaputra dan lain-lain itu ialah kelas “bapak-bapak”. Pegawai
kecil dan rendah yang tekun berkerja, menahan segala rupa kesukaran hidup, di
tempat-tempat yang jauh, jarang sekali mendapat penghargaan yang selayaknya
harus mereka terima.
2.2. Ciri-ciri manusia munafik
Dusta
Hadis Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad Musnad
dengan sanad yang baik:
"Celaka
baginya, celaka baginya, celaka baginya. Iaitu seseorang yang berdusta agar
orang-orang tertawa."
"Tanda
orang munafik ada tiga, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta."
Khianat
Sabda Rasulullah s.a.w.:
"Dan
apabila berjanji, dia berkhianat.
Petikan hadis ini menjelaskan bahawa barangsiapa
memberikan janji kepada seseorang, sama ada kepada isterinya, anaknya,
sahabatnya, atau kepada sesiapa sekalipun, kemudian dia mengkhianati janji
tersebut tanpa ada sebab uzur syar'i atau halangan yang benar-benar menghalang
tanpa dikehendakinya, maka telah melekat pada dirinya salah satu tanda
kemunafikan.
Fujur Dalam
Pertikaian
Fujur adalah keluar dari kebenaran secara sengaja
sehingga kebenaran ini menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Maka,
sabda Rasulullah s.a.w. tentang kemunafikan:
"Dan
apabila bertengkar (bertikai), dia melampaui batas."
Ingkar Janji
Sabda Rasulullah SAW:
"Tanda
orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan
jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat."
Malas
Beribadah
"Dan
apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas."
Jika orang munafik pergi ke masjid atau surau, dia
mudah terasa berat dan seolah-olah mahu menyeret kakinya seakan-akan
terbelenggu dengan rantai. Apabila tiba di masjid atau surau, dia gemar
memilih saf yang paling akhir. Dia tidak mahu mengetahui apa yang dibaca di dalam
solat.
Riya
Di hadapan manusia dia sholat dengan khusyuk tetapi
ketika seorang diri, dia mempercepat sholatnya. apabila bersama orang lain
dalam suatu majlis, dia tampak zuhud dan berakhlak baik, demikian juga
pembicaraannya. Namun, jika dia seorang diri, dia akan melanggar hal-hal yang
diharamkan oleh Allah SWT.
Sedikit
Berzikir
Firman Allah s.w.t.:
"Dan
apabila mereka berdiri untuk solat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya'
(dengan solat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali
sedikit sekali."
Mempercepat
Sholat
Orang-orang munafik juga adalah orang yang
mempercepatkan solat tanpa ada rasa khusyuk sedikit pun, tiada ketenangan dalam
mengerjakannya, dan hanya sedikit mengingat Allah di dalamnya. Fikiran dan
hatinya pula tidak menyatu. Dia tidak menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah
dalam solatnya.
Hadith Nabi SAW:
"Itulah
sholat orang munafik, ... lalu mempercepat empat rakaat (sholatnya)"
Mencela
Orang Taat dan Soleh
Kaum munafik ini gemar memperolok orang-orang yang
taat dengan ungkapan yang mengandung cemuhan dan celaan. Termasuk dalam
kategori orang-orang taat di sini adalah mereka yang memiliki komitmen dalam
menjalankan syari'at Allah dan Rasul-Nya, serta mereka yang berdakwah dan berjuang keras di
jalan Allah (fi sabilillah). Maka, dalam setiap pertemuan sering kali
kita temui orang munafik yang hanya mencela orang-orang soleh ini sebagai
orang-orang yang kolot, kuno, ekstrim, fanatik, fundamentalis, dan
lain-lain gelaran yang tidak menyenangkan.
"Orang-orang
(munafik) yang mencela sebahagian dari orang-orang yang beriman mengenai
sedekah-sedekah yang mereka berikan dengan sukarela, dan (mencela) orang-orang
yang tidak dapat (mengadakan apa-apa untuk disedekahkan) kecuali sedikit
sekadar kemampuannya, serta mereka mengejek-ejeknya, - Allah akan membalas
ejek-ejekan mereka, dan bagi mereka (disediakan) azab seksa yang tidak terperi
sakitnya."
Mepermainkan
Al-Quran, As-Sunnah, dan Nabi Muhammad s.a.w.
Kes kemunafikan ini adalah termasuk dalam kategori istihzaa'
iaitu adalah memperolok-olok atau mempermainkan hal-hal yang disunnahkan Rasulullah dan amalan-amalan lainnya. Orang yang suka
memperolok-olok dengan sengaja hal-hal seperti itu dianggap jatuh kafir.
Firman Allah:
"Dan
jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu),
tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau
dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah,
ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta
maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu
(lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain)
disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. "
Bersumpah Palsu
Firman Allah SWT: "Mereka menjadikan
sumpah-sumpah mereka sebagai perisai." (Al-Munafiqun: 2 &
Al-Mujadilah: 16). Jika seseorang menanyakan kepada orang munafik tentang
sesuatu, dia langsung bersumpah. Apa yang diucapkan orang munafik semata-mata
untuk menutupi kedustaannya. Dia selalu mengumpat dan memfitnah orang lain.
Maka jika seseorang itu menegurnya, dia segera mengelak dengan sumpahnya:
"Demi Allah, sebenarnya kamu adalah orang yang paling aku sukai. Demi
Allah, sesungguhnya kamu adalah sahabatku."
Enggan
Berinfak
Orang-orang munafik memang selalu menghindari hal-hal
yang menuntut pengorbanan, baik berupa harta maupun jiwa. Apabila menjumpai
mereka berinfak, bersedekah, dan mendermakan hartanya, mereka lakukan kerana
riya' dan sum'ah. Mereka enggan bersedekah, kerana pada hakikatnya, mereka
tidak menghendaki pengorbanan harta, apalagi jiwa.[perlu rujukan]
Tidak
Menghiraukan Nasib Sesama Kaum Muslimin
Mereka selalu menciptakan kelemahan-kelemahan dalam
barisan muslimin. Inilah yang disebut At Takhdzil, yiaitu sikap meremehkan,
menakut-nakuti, dan membiarkan kaum muslimin. Orang munafik percaya bahawa
orang-orang kafir lebih kuat daripada kaum muslimin.
Memperbesar
Kesalahan Orang
Orang munafik suka memperbesar sesuatu peristiwa atau
kejadian. Jika ada orang yang tersilap tutur katanya secara tidak sengaja, maka
si munafik ini akan memperbesarkannya dalam apabila bertemu dengan orang lain
dan mengajuk kesalahan tersebut. Dia sendiri mengetahui bahawa orang itu
mempunyai banyak kebaikan dan keutamaan, walau bagaimanapun, si munafik itu
tidak bersedia mengungkapkannya kepada masyarakat melainkan kesilapan sahaja.
Firman Allah s.w.t:
"Demi
sesungguhnya, jika orang-orang munafik, dan orang-orang yang ada penyakit (syak
ragu-ragu) dalam hatinya, serta orang-orang yang menyebarkan berita-berita
dusta di Madinah itu tidak
berhenti (dari perbuatan jahat masing-masing), nescaya Kami akan mendesakmu
memerangi mereka; sesudah itu mereka tidak akan tinggal berjiran denganmu di
Madinah lagi melainkan sebentar sahaja."
Mengingkari
Takdir
Orang munafik selalu membantah dan tidak redha pada takdir
Allah s.w.t. Maka, apabila ditimpa musibah atau ujian, dia mengatakan:
"Bagaimana ini. Seandainya saya berbuat begini, nescaya akan menjadi
begini." Dia pun selalu mengeluh kepada manusia lain. Hal ini jelas
menunjukkan bahawa dia telah mengkufuri dan mengingkari Qadha dan Qadar.
Firman Allah s.w.t.:
Katakanlah:
"Siapakah yang dapat melindungi kamu dari kemurkaan Allah jika Dia mahu
menimpakan bala bencana kepada kamu, atau (siapakah yang dapat menahan
kemurahan Allah) jika Dia hendak memberikan rahmat kepada kamu? " Dan
(ingatkanlah) mereka (yang munafik) itu: bahawa mereka tidak akan beroleh
sesiapapun - yang lain dari Allah - yang akan menjadi pelindung atau penolong
mereka.
Mencaci
Kehormatan Orang Soleh
Apabila orang munafik membelakangi orang-orang soleh,
dia akan mencaci maki, mengejek, mengumpat, dan menjatuhkan kehormatan mereka
semasa bertemu dengan orang lain.
Allah s.w.t. berfirman:
"Mereka
mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat
kebaikan."
Sering
Meninggalkan Solat Berjemaah
Apabila seseorang itu segar, kuat, mempunyai waktu
yang terluang, dan tidak memiliki uzur syar'i, namun tidak mahu hadir ke masjid
atau surau ketika mendengar panggilan azan, maka saksikanlah dia sebagai orang
munafik.
Membuat
Kerusakan Di Muka Bumi Dengan Dalih Mengadakan Perbaikan
Orang munafik akan selalu berusaha mengadu domba dan
menghamburkan fitnah di antara sesama manusia. Dia juga sering memberikan
kesaksian palsu, menyebabkan pertikaian antara seseorang dan saudaranya, atau
antara ayah dan anaknya, serta selalu berusaha memfitnah dan menjelek-jelekkan
nama seseorang. Firman Allah SWT: "Dan apabila dikatakan kepada mereka:
janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: 'Sesungguhnya
kami orang-orang yang mengadakan kebaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah
orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar."
(Al-Baqarah: 11-12).
Tidak Sesuai
Antara Zahir Dengan Bathin Secara Zahir
Mereka membenarkan bahawa Nabi Muhammad SAW adalah
Rasul Allah, tetapi di dalam hati mereka, Allah telah mendustakan kesaksian
mereka. Sesungguhnya, kesaksian yang tampak benar secara Zahir itulah yang
menyebabkan Mereka masuk ke dalam Neraka. Penampilan zahirnya bagus dan
mempesona, tetapi di dalam batinnya terselubung niat busuk dan menghancurkan.
Di luar dia menampakkan kekhusyukan, sedangkan di dalam hatinya ia main-main.
Takut
Terhadap Kejadian Apa Saja
Orang-orang munafik selalu diliputi rasa takut.
Jiwanya selalu tidak tenang, keinginannya hanya selalu mendambakan kehidupan
yang tenang dan damai tanpa disibukkan oleh persoalan-persoalan hidup apapun.
Dia selalu berharap: "Tinggalkan dan biarkanlah kami dengan keadaan kami
ini, semoga Allah memberikan nikmat ini kepada kami. Kami tidak ingin keadaan
kami berubah." Padahal, keadaan tidaklah selalu apalagi menjadi lebih
baik.
Mengelak
Dengan Alasan yang Bohong
Firman Allah s.w.t.:
"Di
antara mereka ada orang yang berkata: 'Berilah saya izin (tidak pergi
berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.'
Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan
sesungguhnya Neraka Jahanam itu
benar-benar meliputi orang-orang yang kafir."
Menyuruh
Kemungkaran Dan Mencegah Kemakrufan
Mereka (orang munafik) menginginkan agar perbuatan
keji tersiar di kalangan orang-orang beriman. Mereka menggembar-gemborkan
tentang kemerdekaan wanita, persamaan hak, penanggalan hijab/jilbab. Mereka
juga berusaha memasyarakatkan nyanyian dan konser, menyebarkan majalah-majalah
porno (semi-porno) dan narkoba.
Bakhil
Orang-orang munafik sangat bakhil dalam
masalah-masalah kebajikan. Mereka menggenggam tangan mereka dan tidak mau
bersedekah atau menginfakkan sebahagian harta mereka untuk kebaikan, padahal
mereka orang yang mampu dan berkecukupan.[perlu rujukan]
Lupa Kepada
Allah SWT
Segala sesuatu selalu mereka ingat, kecuali Allah SWT.
Oleh sebab itu, mereka senantiasa ingat kepada keluarganya, anak-anaknya,
lagu-lagu, berbagai keinginan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan
duniawi. Dalam fikiran dan batin mereka tidak pernah terlintas untuk mengingat
(berdzikir) Allah SWT, kecuali sebagai tipu daya kepada sewsama manusia semata.
Mendustakan
Janji Allah Dan Rasul
Firman Allah s.w.t.:
"Dan
(ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam
hatinya berkata: 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu
daya'."
Lebih
Memperhatikan Zahir, Mengabaikan Bathin
Orang munafik lebih mementingkan zahir dengan mengabaikan
yang batin, tidak menegakkan sholat, tidak merasa diawasi Allah SWT, dan tidak
mengenal zikir. Pada zahirnya, pakaian mereka demikian bagus menarik, tetapi
batin mereka kosong, rusak dan lain sebaginya.
Sombong
Dalam Berbicara
Orang-orang munafik selalu sombong dan angkuh dalam
berbicara. Mereka banyak omong dan suka memfasih-fasihkan ucapan. Setiap kali
berbicara, mereka akan selalu mengawalinya dengan ungkapan menakjubkan yang
meyakinkan agar tampak seperti orang hebat, mulia, berwawasan luas, mengerti,
berakal, dan berpendidikan. Padahal, pada hakikatnya dia tidak memiliki
kemampuan apapun. Sama sekali tidak memiliki ilmu, bahkan bodoh.
Tidak
memahami masalah-masalah agama
"Keistimewaan" orang-orang munafik adalah:
mereka sama sekali tidak memahami masalah-masalah agama. Dia tahu bagaimana
mengenderai mobil dan mengerti perihal mesinnya. Dia juga mengetahui hal-hal
remeh dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah memberi manfaat kepadanya
meski juga tidak mendatangkan mudharat baginya. Akan tetapi, apabila menghadapi
dialog (tanya-jawab tentang persoalan-persoalan Ad Din (Islam)), dia sama
sekali tidak dapat menjawab.
Berpura-pura
Dalam Dosa
Watak inilah yang paling penting membezakan antara
orang munafik dan orang mukmin.
Orang munafik menganggap ringan perkara-perkara yang
melawan hukum Allah, menentang-Nya dengan melakukan pelbagai kemungkaran dan
kemaksiatan secara sembunyi. Akan tetapi, ketika dia berada di tengah-tengah
manusia dia menunjukkan sebaliknya; iaitu berpura-pura taat.
Firman Allah SWT:
"Mereka
bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal
Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan
rahasia yang Allah tidak redhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya)
terhadap apa yang mereka kerjakan. "
Seseorang mukmin selalu merasa bahawa dirinya diawasi
oleh Allah, baik ketika bersendirian mahupun bersama-sama orang lain. Malah,
dia merasa lebih diawasi dan diperhatikan oleh Allah ketika seorang diri.
Senang
Melihat Orang Lain Susah, Susah Bila Melihat Orang lain Senang
Orang munafik apabila mendengar berita bahawa seorang
ulama yang soleh tertimpa suatu musibah, dia pun menyebarluaskan berita duka
itu kepada masyarakat sambil menampakkan kesedihannya dan berkata: "Hanya
Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami telah mendengar bahawa si fulan telah
tertimpa musibah begini dan begitu. Semoga Allah memberi kesabaran kepada kami
dan beliau." Padahal, di dalam hatinya dia merasa senang dan terhibur
karena musibah.
2.3. Asal Bapak Senang
ASAL BAPAK
SENANG merupakan masalah sosial budaya yang terbentuk sejak puluhan
tahun lalu bahkan sejak jaman kerajaan. Rakyat kecil dalam banyak
hal lebih banyak menunduk dari pada menatap tegak lurus ke depan,
terutama pada pejabat, sehingga berjalan tidak terarah karena tidak
melihat jalan di depan. Demikian sebaliknya, mereka yang sedang menjabat lebih
sering melihat keatas sehingga tidak tahu bahwa kakinya menginjak kepala orang
lain.
Tampaknya kondisi ini sengaja dipertahankan guna
menjaga kelangsungan sebuah jabatan. Akhirnya semua informasi dari bawah
selalu ABS (asal bapak senang), mungkin karena takut kalau memberikan data yang
jelek atau buruk meskipun riil, dianggap tidak bisa melaksanakan tugas.
Akhirnya data yang masuk ke pusat jadi tidak valid atau tidak menggambarkan
kondisi riil sebenarnya.
Seperti kita ketahui pejabat di pusat hanya mengandalkan data sebagai bahan pengambilan keputusan. Bila data tidak valid maka hasil pengambilan keputusan juga tidak akan aplikatif. Kita maklum, tidak mungkin seorang pejabat, misalnya di bidang pendidikan, melakukan pengamatan ke semua sekolah di seluruh indonesia hanya untuk bahan pengambilan keputusan. Hanya 0,000 persen saja tentunya sekolah yang pernah dikunjungi. Data hasil pengamatan tersebut tentunya tidak representatif karena tidak semua sekolah di seluruh negeri ini dalam kondisi sama. Sebagai ganti pengamatan maka hanya mengandalkan data dari bawah yang di himpun mulai tingkat desa sampai propinsi, dari tingkat TK sampai perguruan tinggi.
Namun apa yang terjadi? Mereka yang dibawah dengan berbagai kendala tidak memiliki keberanian menampilkan realitas sebenarnya. Banyak data yang masuk berdasarkan kondisi maksimal, bukan berdasarkan kondisi standart. Ketika pengambil keputusan melakukan keputusan untuk meningkatkan kualitas, berdasarkan data yang masuk, mereka yang dibawah kalang kabut karena sudah kehabisan energi untuk berkerja lebih keras lagi.
Seperti kita ketahui pejabat di pusat hanya mengandalkan data sebagai bahan pengambilan keputusan. Bila data tidak valid maka hasil pengambilan keputusan juga tidak akan aplikatif. Kita maklum, tidak mungkin seorang pejabat, misalnya di bidang pendidikan, melakukan pengamatan ke semua sekolah di seluruh indonesia hanya untuk bahan pengambilan keputusan. Hanya 0,000 persen saja tentunya sekolah yang pernah dikunjungi. Data hasil pengamatan tersebut tentunya tidak representatif karena tidak semua sekolah di seluruh negeri ini dalam kondisi sama. Sebagai ganti pengamatan maka hanya mengandalkan data dari bawah yang di himpun mulai tingkat desa sampai propinsi, dari tingkat TK sampai perguruan tinggi.
Namun apa yang terjadi? Mereka yang dibawah dengan berbagai kendala tidak memiliki keberanian menampilkan realitas sebenarnya. Banyak data yang masuk berdasarkan kondisi maksimal, bukan berdasarkan kondisi standart. Ketika pengambil keputusan melakukan keputusan untuk meningkatkan kualitas, berdasarkan data yang masuk, mereka yang dibawah kalang kabut karena sudah kehabisan energi untuk berkerja lebih keras lagi.
Hal-hal seperti inilah yang membuat
keputusan-keputusan di negeri ini seringkali tidak bisa diterima di kalangan
bawah. Salah satu penyebabnya adalah data yang masuk ke pusat asal bapak
senang.
2.4. opini kelompok kami tentang manusia munafik dan Asal bapak senang di
Indonesia
Menurut kelompok kami bahwasannya manusia munafik Indonesia memiliki
beberapa karakteristik yang bermacam-macam, menurut kami setelah kami melakukan
pencarian sumber lain bahwa manusia munafik di Indonesia memiliki karakteristik
diantaranya memiliki sifat yang tidak berbeda perkataan dengan apa yang di rasa
selain itu juga orang munafik kebanyakan di Indonesia yaitu ingkar, ingkar ini
dalam Bahasa yang lebih mudah yaitu jika seseorang berkata maka dia tidak
menepati. Setiap manusia di Indonesia memiliki beragaman sifat-sifat beragam
ini dikarenakan Indonesia adalah negara kepulauan dan terdapat banyaknya
suku,ras, oleh sebab itu setiap manusia Indonesia memiliki karakter yang
berbeda karena berawal dari suku bangsa dan berawal dari nenek moyang mereka.
Asal bapak senang istliah kata ini
tidak lepas dari tahun 70an sampai 90an bahkan istilah kata ini sudah ada sejak
kerajaan di Indonesia, asal bapak senang ini di Indonesia merupakan budaya yang
dimana kalangan bawah selalu hormat kepada kalangan atas seperti para penjabat,
direktur dan pengusaha, masyarakat kalangan bawah ini selalu taat dan
menggambarkan bahwa apa yang diperintahkan harus di turuti dan apa yang menurut
petinggi harus ikuti maka masyarakat kalangan bawah akan mengikut, dalam sifat
karakteristik Abs ini para kalangan atas tidak akan pernah liat kebawah
melainkan dia selalu memandang ke atas.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Tujuan dari mempelajari masalah ini untuk menyadari
tanda-tanda Munafikin, agar kita tidak melakukannya. Kita seharusnya memohon
kepada Allah SWT agar dijauhkan dari nifaq, kufur, syirik dan bid’ah dan agar
kita mati dalam keadaan iman dan Tauhid. Kita seharusnya juga selalu menyadari
celah dan berbagai kemungkinan menjadi Kafir, dan untuk mencegah hal ini adalah
dengan memenuhi semua perintah Allah dan juga kewajiban kita. Semoga, Insya
Allah!
ASAL BAPAK
SENANG merupakan masalah sosial budaya yang terbentuk sejak puluhan
tahun lalu bahkan sejak jaman kerajaan. Rakyat kecil dalam banyak
hal lebih banyak menunduk dari pada menatap tegak lurus ke depan, terutama
pada pejabat, sehingga berjalan tidak terarah karena tidak melihat jalan
di depan. Demikian sebaliknya, mereka yang sedang menjabat lebih sering melihat
keatas sehingga tidak tahu bahwa kakinya menginjak kepala orang lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Lubis, Mochtar. 2012. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan
Pustaka Obor Indonesia.
http://insanshalih.blogspot.co.id/2010/10/23-karakter-munafik.html pada tangal 3 oktober pukul 7.37 WIB.
http://artikelkuislami.blogspot.co.id/2011/10/pengertian-munafik.html pada tangal 5 oktober pukul 7.42 WIB.