Rabu, 07 Oktober 2015

ciri manusia indonesia yang munafik dan ABS (asal bapak senang)



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang
            Adanya jurang yang semakin besar dengan manusia ideal kita, dengan manusia Indonesia sebenarnya, yaitu kita-kita semua ini. Jurang besar antara pretensi-prentensi kita dengan kenyataan-kenyataan sebenarnya.
            Marilah kita melihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Sebuah warisan dari zaman animisme yang dianut nenek moyang kita, yang sampai kini masih banyak sisanya terdapat dalam masyarakat kita ialah masih kuatnya mitos dan mistik pada kita. Kita masih amat suka dan amat mudah mengarang mitos-mitos, baik yang lama maupun membuat yang baru untuk memberi kita kekuatan atau kepercayaan, terutama menghadapi keadaan krisis dan serba sukar, ketika kekuatan pikiran rasional kita terasa kurang kuat untuk menghadapinya. Hal ini berlaku pada hampir semua orang, baik yang beragama, maupun yang mengaku berpikir secara rasional, telah berpendidikan luas.
            Orang Indonesia yang sudah amat rasional, ahli matematika dan lain sebagainya banya juga yang tidak dapat menghindarkan diri dan tertarik ke dalam gerakan kebatinan, baik akibat dilanda kebimbangan dan ketidak pastian, maupun juga karena didorong oleh berbagai maksud, hasrat hati, seperti ingin hendak berkuasa, ingin mendapat jabatan tinggi, dan lain-lain. Karena aliran mistik atau kebatinan ini hampir meliputi sebagian besar manusia Indonesia, terutama yang berada di pulau jawa, perlu kiranya kita sebentar meneliti ciri-ciri mistik jawa ini agar kita dapat memahami lebih baik situasi manusia kita. Menurut para ahli, salah satu ciri kebatinan adalah dorongan hendak mencari kesatuan, yaitu satu kesatuan hakiki yang hendak mencakup semuanya. Selanjutnya, kebatinan melihat manusia dalam dua bagian: batiniah dan lahiriah,yang asalnya dari illahi. Karena itu orang kebatinan menganggap hidup batiniah adalah kenyataan yang sebenarnya.lahiriah manusia adalah tubunya dengan segala nafsu-nafsunya. Orang kebatinan menamakanya “jagat cilik”, dan harus dikuasai oleh roh manusia, oleh sukmanya. Jika seseorang sudah menuasai “jagat cilik”nya, maka telah dianggap mencapai kedudukan “satria pandhita”, raja-pahlwan-pendeta sekaligus, seseorang yang menguasai rohani dan lahir. Dalam dirinya telah mencapai kesatuan dengan batinnya yang berasal dari illahi, maka dengan persatuan ini badanya pun telah ikut melalui proses spiritualisasi, berkembang menjadi rohani. Dan tercapai keselarasa, harmoni. Keselarasan dalam diri perseorangan, harmoni dengan manusia lain, harmoni dengan alam sekeliling, harmoni dengan illahi, harmoni antara lahir dan batin. Orang budha menamakan ini dengan tercapainya nirwana oleh manusia.
            Orang kebatinan selanjutnya mengaangap manusia yang ideal ialah yang berkerja keras dalam hidupnya, tanpa mencari keuntungan. Manusia ideal menurut kebatinan jawa harus pula memiliki ciri-ciri: rela, ridho, bersedia menyerahkan segalamiliknya di mana diperlukan, kemidian narima (narima) dengan segala kegirangan hati apapun yang menimpa dirinya, dan ketiga, sabar, hidup dan penuh toleransi.
            Terserah pula kepada saudara-saudara semua, apakah manusia ideal serupa ini pernah ada di tanah air kita, setelah ratusan tahun berbagai aliran kebatinan jawa berada ditengah kita.
           



Dan terakhir, manusia ideal Indonesia, yang sering dikemukakan kini adalah manusia pancasila, yaitu manusia Indonesia (menurut para ahli pemikirnya) yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya dasar tingkah-laku dan budi pekertinya berdasar pada lima sila pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, keadilan sosial, kerakyataan, persatuan Indonesia.
             Manusia pancasila adalah ideal yang kelihatan berambisi untuk mencakup segala cita-cita manusia ideal dari segala rupa ajaran agama, dan aliran kabatinan, dan cita-cita emansipasi manusia oleh berbagai ideology politik.

1.2. Rumusan masalah
            1. ciri manusia Indonesia?
            2. pengertian manusia munafik?
            3. istilah kata-kata ABS “asal bapak senang”?
1.3.Tujuan penulisan
            1. diharapkan mahasiswa mampu mengetahui ciri manusia Indonesia
2. diharapkan juga mahasiswa atau audiensi mampu mengerti dan memahami        istiliah orang munafik
3. Mahasiswa mampu memahami istilah kata asal bapak senang di tahun 80an





                                                                BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Munafik atau hipokrit, yang di antaranya menampilkan dan menyuburkan   sikap ABS (asal bapak senang).

            Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRITIS alias MUNAFIK. Berpura-pura, lain dimuka, lain dibelakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
  Secara bahasa, kata Munafik berasal dari kata Nafaqa (نَفَقَ), Nifaqon (نِفَاقًا) yang mengandung arti Mengadakan, mengambil bagian dalam, membicarakan sesuatu yang dalam pandangan keagamaan. Pengakuannya dari satu orang berbeda-beda dengan yang lainnya. Adapun dalam pengertian syara’, Munafik adalah orang yang lahirnya beriman padahal hatinya kufur.
            System feodal kita di masa lampau yang begitu menekan rakyat dan menindas segala inisiatif rakyat, adalah salah sebuah sumber dari hipokrisi yang dasyat ini. Kemudian datanng berbagai agama, yang meskipun datang membawa nilai-nilai yang memperkaya kehidupan jiwa manusia Indonesia., akan tetapi di berbagai daerah, karena caranya datang memakai paksaan dan kekrasan atau datang sebagai sekutu kekuasaan penjajah, maka iapun datang tidak sepenuhnya dan di mana-mana diterima sebagai satu unsur atau kekuatan pembebasan manusia Indonesia.
            Hal ini dapat kita lihat, umpamanya, kini dalah hipokrisi kita mengenai seks. Di depan umum kita sangat mengecam penghidupan seks yang terbuka atau setengah terbuka. Majalah dan penerbitan dari luar negri yang memuat gambar-gambar telanjang, seluruh tubuh atau setengah atau tiga-perempat dicat hitam, agar rasa susila manusia Indonesia yang sangat peka itu jangan sampai tersinggung. Tetapi kita membuka tempat mandi uap dan tempat pijit, kita mengatur tempat-tempat protitusi, melindunginya, mejamin kemanan sang protitusi maupun pelanggan dengan berbagai system resmi, setengah resmi maupun cara swasta.
            Manusia Indonesia karena semua ini, juga penuh dengan hipokrisi. Dalam lingkungannya dia pura-pura alim, akan tetapi begitu turun di singapura atau hongkong, atau paris, new York dan Amsterdam, lantas loncat ke taksi cari nightclub, dan pesan perempuan pada pelayanan atau portir hotel. Dia ikut maki-maki korupsi tetapi dia sendiri seorang koruptor.
            Kita semua mengutuk korupsi, atau istilah barunya “komersialisasi jabatan”, tetapi kita terus saja melakukan korupsi dan dari hari kehari korupsi bertambah besar saja. Sikap manusia yang munafik seperti ini yang memungkinkan korupsi begitu hebat berlangsung terus menerus selama belasan tahun di pertamina, umpamanya, dan meskipun fakta-fakta sudah jelas dan terang, akan tetapi hingga hari ini belum ada tindakan hukum yang diambil terhadap para pelaku utamanya.
            Di samping ini kita juga mengatakan, bahwa hukum di negri kita ini berlaku sama setia semua orang. Prakteknya, kita lihat pencuri kecil masuk penjara, tetapi pencuri besar bebas, atau masuk penjara sebentar saja.
            Akibat dari kemunafikan manusia Indonesia, yang berakar jauh ke masa kita sebelum dijajah bangsa asing, maka manusia Indonesia pada massa kini terkenal dengan sikap ABS-nya (asal bapak senag). Sikap ABS ini telah berakar jauh ke zaman dahulu, ketika tuan feodal Indonesia meraja lela di negri ini, menindas rakyat dan memperkosa nilai-nilai manusia Indonesia. Untuk melindungi dirinya terpaksalah rakyat memasang topeng keluar, dan tuan feudal, raja sultan, sunan,regent, bupati, demang, tuanku laras, karaeng, teuku, dan tengku, dan sebagainya, selalu dihadapi dengan inggih, sumuhun, ampun duli tuanku, hamba patik tuanku!
            Sikap munafik yang sudah ditanam ke dalam diri manusia indonesia ini oleh manusia Indonesia lainya yang lebih berkuasa dan menindas serta memeras, merampas dan memperkosa kebawah, tetapi tidak seorang juga yang telah dituntu. Ibu Sutowo, umpamanya, menurut harian international herald tribune, terbitan tanggal 24 desember 1976, telah mengakui untuk sebuah pengadilan di new York, yang memeriksa pekara tuntutan sebuah perusahaan panama yang direkturnya adalah Bruce Rappaport (yang juga adalah business associate Ibnu Sutowo sendiri), bahwa dia sendiri telah melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum Indonesia, karena dia telah menjabat dalam dewan penasihat inter maritime bank of Geneva, yang didalamnya rappaport memegang saham  (dan pula sangat besar kemungkinan Ibnu Sutowo ikut juga di dalamnya). Juga dikabarkan dia mengaku telah menandatangani 1.600 “promissory notes” (surat hutang), tanpa membacanya terlebih dahulu, dan menyerahkanya kepada Bruce Rappaprot untuk dipergunakan guna menenangkan “business associate” yang sudah menjadi gelisah. Dan dia mengaku pula, bahwa dia telah minta pinjaman sebesar 2,5 juta dolar dari Rappaport, dan memasukan uang itu kedalam rekening pribadinya di bank, dan tak pernah membayar kembali pinjaman itu. Alangkah pemurahnya Rappaprot itu, jika cerita Ibnu ini benar. Tetapi tentu dapat disangka, bahwa uang tersebuat termasuk dalam rangka bagi-bagi antara mereka, bukan?
            Sebaliknya, jika pada sesuatu yang sukses, yang berhasil gilang-gemilang, maka manusia Indonesia tidak sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan,surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Jika kita periksa, umpamanya daftar mereka yang menerima berbagai bintang jasa malahan bintang gerilya, di sinipun jika kita periksa baik-baik, akan bertemu dengan orang-orang yang mendapat bintang gerilya (tanpa berhak menerimanya), maka sebagian terbesar yang menerima bintang mahaputra dan lain-lain itu ialah kelas “bapak-bapak”. Pegawai kecil dan rendah yang tekun berkerja, menahan segala rupa kesukaran hidup, di tempat-tempat yang jauh, jarang sekali mendapat penghargaan yang selayaknya harus mereka terima.


2.2. Ciri-ciri manusia munafik
Dusta
Hadis Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad Musnad dengan sanad yang baik:
"Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya. Iaitu seseorang yang berdusta agar orang-orang tertawa."
Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim pula), Rasulullah bersabda:
"Tanda orang munafik ada tiga, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta."
Khianat
Sabda Rasulullah s.a.w.:
"Dan apabila berjanji, dia berkhianat.
Petikan hadis ini menjelaskan bahawa barangsiapa memberikan janji kepada seseorang, sama ada kepada isterinya, anaknya, sahabatnya, atau kepada sesiapa sekalipun, kemudian dia mengkhianati janji tersebut tanpa ada sebab uzur syar'i atau halangan yang benar-benar menghalang tanpa dikehendakinya, maka telah melekat pada dirinya salah satu tanda kemunafikan.
Fujur Dalam Pertikaian
Fujur adalah keluar dari kebenaran secara sengaja sehingga kebenaran ini menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Maka, sabda Rasulullah s.a.w. tentang kemunafikan:
"Dan apabila bertengkar (bertikai), dia melampaui batas."
Ingkar Janji
Sabda Rasulullah SAW:
"Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat."

Malas Beribadah
Firman Allah s.w.t:
"Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas."
Jika orang munafik pergi ke masjid atau surau, dia mudah terasa berat dan seolah-olah mahu menyeret kakinya seakan-akan terbelenggu dengan rantai. Apabila tiba di masjid atau surau, dia gemar memilih saf yang paling akhir. Dia tidak mahu mengetahui apa yang dibaca di dalam solat.
Riya
Di hadapan manusia dia sholat dengan khusyuk tetapi ketika seorang diri, dia mempercepat sholatnya. apabila bersama orang lain dalam suatu majlis, dia tampak zuhud dan berakhlak baik, demikian juga pembicaraannya. Namun, jika dia seorang diri, dia akan melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.
Sedikit Berzikir
Firman Allah s.w.t.:
"Dan apabila mereka berdiri untuk solat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan solat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali."
Mempercepat Sholat
Orang-orang munafik juga adalah orang yang mempercepatkan solat tanpa ada rasa khusyuk sedikit pun, tiada ketenangan dalam mengerjakannya, dan hanya sedikit mengingat Allah di dalamnya. Fikiran dan hatinya pula tidak menyatu. Dia tidak menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah dalam solatnya.
Hadith Nabi SAW:
"Itulah sholat orang munafik, ... lalu mempercepat empat rakaat (sholatnya)"
Mencela Orang Taat dan Soleh
Kaum munafik ini gemar memperolok orang-orang yang taat dengan ungkapan yang mengandung cemuhan dan celaan. Termasuk dalam kategori orang-orang taat di sini adalah mereka yang memiliki komitmen dalam menjalankan syari'at Allah dan Rasul-Nya, serta mereka yang berdakwah dan berjuang keras di jalan Allah (fi sabilillah). Maka, dalam setiap pertemuan sering kali kita temui orang munafik yang hanya mencela orang-orang soleh ini sebagai orang-orang yang kolot, kuno, ekstrim, fanatik, fundamentalis, dan lain-lain gelaran yang tidak menyenangkan.
Allah berfirman di dalam al-Quran:
"Orang-orang (munafik) yang mencela sebahagian dari orang-orang yang beriman mengenai sedekah-sedekah yang mereka berikan dengan sukarela, dan (mencela) orang-orang yang tidak dapat (mengadakan apa-apa untuk disedekahkan) kecuali sedikit sekadar kemampuannya, serta mereka mengejek-ejeknya, - Allah akan membalas ejek-ejekan mereka, dan bagi mereka (disediakan) azab seksa yang tidak terperi sakitnya."
Mepermainkan Al-Quran, As-Sunnah, dan Nabi Muhammad s.a.w.
Kes kemunafikan ini adalah termasuk dalam kategori istihzaa' iaitu adalah memperolok-olok atau mempermainkan hal-hal yang disunnahkan Rasulullah dan amalan-amalan lainnya. Orang yang suka memperolok-olok dengan sengaja hal-hal seperti itu dianggap jatuh kafir.
Firman Allah:
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. "
Bersumpah Palsu
Firman Allah SWT: "Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai." (Al-Munafiqun: 2 & Al-Mujadilah: 16). Jika seseorang menanyakan kepada orang munafik tentang sesuatu, dia langsung bersumpah. Apa yang diucapkan orang munafik semata-mata untuk menutupi kedustaannya. Dia selalu mengumpat dan memfitnah orang lain. Maka jika seseorang itu menegurnya, dia segera mengelak dengan sumpahnya: "Demi Allah, sebenarnya kamu adalah orang yang paling aku sukai. Demi Allah, sesungguhnya kamu adalah sahabatku."

Enggan Berinfak
Orang-orang munafik memang selalu menghindari hal-hal yang menuntut pengorbanan, baik berupa harta maupun jiwa. Apabila menjumpai mereka berinfak, bersedekah, dan mendermakan hartanya, mereka lakukan kerana riya' dan sum'ah. Mereka enggan bersedekah, kerana pada hakikatnya, mereka tidak menghendaki pengorbanan harta, apalagi jiwa.[perlu rujukan]
Tidak Menghiraukan Nasib Sesama Kaum Muslimin
Mereka selalu menciptakan kelemahan-kelemahan dalam barisan muslimin. Inilah yang disebut At Takhdzil, yiaitu sikap meremehkan, menakut-nakuti, dan membiarkan kaum muslimin. Orang munafik percaya bahawa orang-orang kafir lebih kuat daripada kaum muslimin.
Memperbesar Kesalahan Orang
Orang munafik suka memperbesar sesuatu peristiwa atau kejadian. Jika ada orang yang tersilap tutur katanya secara tidak sengaja, maka si munafik ini akan memperbesarkannya dalam apabila bertemu dengan orang lain dan mengajuk kesalahan tersebut. Dia sendiri mengetahui bahawa orang itu mempunyai banyak kebaikan dan keutamaan, walau bagaimanapun, si munafik itu tidak bersedia mengungkapkannya kepada masyarakat melainkan kesilapan sahaja.
Firman Allah s.w.t:
"Demi sesungguhnya, jika orang-orang munafik, dan orang-orang yang ada penyakit (syak ragu-ragu) dalam hatinya, serta orang-orang yang menyebarkan berita-berita dusta di Madinah itu tidak berhenti (dari perbuatan jahat masing-masing), nescaya Kami akan mendesakmu memerangi mereka; sesudah itu mereka tidak akan tinggal berjiran denganmu di Madinah lagi melainkan sebentar sahaja."
Mengingkari Takdir
Orang munafik selalu membantah dan tidak redha pada takdir Allah s.w.t. Maka, apabila ditimpa musibah atau ujian, dia mengatakan: "Bagaimana ini. Seandainya saya berbuat begini, nescaya akan menjadi begini." Dia pun selalu mengeluh kepada manusia lain. Hal ini jelas menunjukkan bahawa dia telah mengkufuri dan mengingkari Qadha dan Qadar.
Firman Allah s.w.t.:
Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari kemurkaan Allah jika Dia mahu menimpakan bala bencana kepada kamu, atau (siapakah yang dapat menahan kemurahan Allah) jika Dia hendak memberikan rahmat kepada kamu? " Dan (ingatkanlah) mereka (yang munafik) itu: bahawa mereka tidak akan beroleh sesiapapun - yang lain dari Allah - yang akan menjadi pelindung atau penolong mereka.
Mencaci Kehormatan Orang Soleh
Apabila orang munafik membelakangi orang-orang soleh, dia akan mencaci maki, mengejek, mengumpat, dan menjatuhkan kehormatan mereka semasa bertemu dengan orang lain.
Allah s.w.t. berfirman:
"Mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan."
Sering Meninggalkan Solat Berjemaah
Apabila seseorang itu segar, kuat, mempunyai waktu yang terluang, dan tidak memiliki uzur syar'i, namun tidak mahu hadir ke masjid atau surau ketika mendengar panggilan azan, maka saksikanlah dia sebagai orang munafik.
Membuat Kerusakan Di Muka Bumi Dengan Dalih Mengadakan Perbaikan
Orang munafik akan selalu berusaha mengadu domba dan menghamburkan fitnah di antara sesama manusia. Dia juga sering memberikan kesaksian palsu, menyebabkan pertikaian antara seseorang dan saudaranya, atau antara ayah dan anaknya, serta selalu berusaha memfitnah dan menjelek-jelekkan nama seseorang. Firman Allah SWT: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan kebaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Al-Baqarah: 11-12).
Tidak Sesuai Antara Zahir Dengan Bathin Secara Zahir
Mereka membenarkan bahawa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah, tetapi di dalam hati mereka, Allah telah mendustakan kesaksian mereka. Sesungguhnya, kesaksian yang tampak benar secara Zahir itulah yang menyebabkan Mereka masuk ke dalam Neraka. Penampilan zahirnya bagus dan mempesona, tetapi di dalam batinnya terselubung niat busuk dan menghancurkan. Di luar dia menampakkan kekhusyukan, sedangkan di dalam hatinya ia main-main.
Takut Terhadap Kejadian Apa Saja
Orang-orang munafik selalu diliputi rasa takut. Jiwanya selalu tidak tenang, keinginannya hanya selalu mendambakan kehidupan yang tenang dan damai tanpa disibukkan oleh persoalan-persoalan hidup apapun. Dia selalu berharap: "Tinggalkan dan biarkanlah kami dengan keadaan kami ini, semoga Allah memberikan nikmat ini kepada kami. Kami tidak ingin keadaan kami berubah." Padahal, keadaan tidaklah selalu apalagi menjadi lebih baik.
Mengelak Dengan Alasan yang Bohong
Firman Allah s.w.t.:
"Di antara mereka ada orang yang berkata: 'Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.' Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Neraka Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir."

Menyuruh Kemungkaran Dan Mencegah Kemakrufan
Mereka (orang munafik) menginginkan agar perbuatan keji tersiar di kalangan orang-orang beriman. Mereka menggembar-gemborkan tentang kemerdekaan wanita, persamaan hak, penanggalan hijab/jilbab. Mereka juga berusaha memasyarakatkan nyanyian dan konser, menyebarkan majalah-majalah porno (semi-porno) dan narkoba.
Bakhil
Orang-orang munafik sangat bakhil dalam masalah-masalah kebajikan. Mereka menggenggam tangan mereka dan tidak mau bersedekah atau menginfakkan sebahagian harta mereka untuk kebaikan, padahal mereka orang yang mampu dan berkecukupan.[perlu rujukan]
Lupa Kepada Allah SWT
Segala sesuatu selalu mereka ingat, kecuali Allah SWT. Oleh sebab itu, mereka senantiasa ingat kepada keluarganya, anak-anaknya, lagu-lagu, berbagai keinginan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi. Dalam fikiran dan batin mereka tidak pernah terlintas untuk mengingat (berdzikir) Allah SWT, kecuali sebagai tipu daya kepada sewsama manusia semata.
Mendustakan Janji Allah Dan Rasul
Firman Allah s.w.t.:
"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya'."

Lebih Memperhatikan Zahir, Mengabaikan Bathin
Orang munafik lebih mementingkan zahir dengan mengabaikan yang batin, tidak menegakkan sholat, tidak merasa diawasi Allah SWT, dan tidak mengenal zikir. Pada zahirnya, pakaian mereka demikian bagus menarik, tetapi batin mereka kosong, rusak dan lain sebaginya.
Sombong Dalam Berbicara
Orang-orang munafik selalu sombong dan angkuh dalam berbicara. Mereka banyak omong dan suka memfasih-fasihkan ucapan. Setiap kali berbicara, mereka akan selalu mengawalinya dengan ungkapan menakjubkan yang meyakinkan agar tampak seperti orang hebat, mulia, berwawasan luas, mengerti, berakal, dan berpendidikan. Padahal, pada hakikatnya dia tidak memiliki kemampuan apapun. Sama sekali tidak memiliki ilmu, bahkan bodoh.
Tidak memahami masalah-masalah agama
"Keistimewaan" orang-orang munafik adalah: mereka sama sekali tidak memahami masalah-masalah agama. Dia tahu bagaimana mengenderai mobil dan mengerti perihal mesinnya. Dia juga mengetahui hal-hal remeh dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah memberi manfaat kepadanya meski juga tidak mendatangkan mudharat baginya. Akan tetapi, apabila menghadapi dialog (tanya-jawab tentang persoalan-persoalan Ad Din (Islam)), dia sama sekali tidak dapat menjawab.
Berpura-pura Dalam Dosa
Watak inilah yang paling penting membezakan antara orang munafik dan orang mukmin.
Orang munafik menganggap ringan perkara-perkara yang melawan hukum Allah, menentang-Nya dengan melakukan pelbagai kemungkaran dan kemaksiatan secara sembunyi. Akan tetapi, ketika dia berada di tengah-tengah manusia dia menunjukkan sebaliknya; iaitu berpura-pura taat.
Firman Allah SWT:
"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. "
Seseorang mukmin selalu merasa bahawa dirinya diawasi oleh Allah, baik ketika bersendirian mahupun bersama-sama orang lain. Malah, dia merasa lebih diawasi dan diperhatikan oleh Allah ketika seorang diri.


Senang Melihat Orang Lain Susah, Susah Bila Melihat Orang lain Senang
Orang munafik apabila mendengar berita bahawa seorang ulama yang soleh tertimpa suatu musibah, dia pun menyebarluaskan berita duka itu kepada masyarakat sambil menampakkan kesedihannya dan berkata: "Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami telah mendengar bahawa si fulan telah tertimpa musibah begini dan begitu. Semoga Allah memberi kesabaran kepada kami dan beliau." Padahal, di dalam hatinya dia merasa senang dan terhibur karena musibah.

2.3. Asal Bapak Senang
ASAL BAPAK SENANG merupakan masalah sosial budaya yang terbentuk sejak puluhan tahun lalu bahkan sejak jaman kerajaan. Rakyat kecil dalam banyak hal lebih banyak menunduk dari pada menatap tegak lurus ke depan, terutama pada pejabat,  sehingga berjalan tidak terarah karena tidak melihat jalan di depan. Demikian sebaliknya, mereka yang sedang menjabat lebih sering melihat keatas sehingga tidak tahu bahwa kakinya menginjak kepala orang lain. 
Tampaknya kondisi ini sengaja dipertahankan guna menjaga kelangsungan sebuah jabatan. Akhirnya semua informasi dari bawah selalu ABS (asal bapak senang), mungkin karena takut kalau memberikan data yang jelek atau buruk meskipun riil, dianggap tidak bisa melaksanakan tugas. Akhirnya data yang masuk ke pusat jadi tidak valid atau tidak menggambarkan kondisi riil sebenarnya.
Seperti kita ketahui pejabat di pusat hanya mengandalkan data sebagai bahan pengambilan keputusan. Bila data tidak valid maka hasil pengambilan keputusan juga tidak akan aplikatif. Kita maklum, tidak mungkin seorang pejabat, misalnya di bidang pendidikan, melakukan pengamatan ke semua sekolah di seluruh indonesia hanya untuk bahan pengambilan keputusan. Hanya 0,000 persen saja tentunya sekolah yang pernah dikunjungi. Data hasil pengamatan tersebut tentunya tidak representatif  karena tidak semua sekolah di seluruh negeri ini dalam kondisi sama.  Sebagai ganti pengamatan maka hanya mengandalkan data dari bawah yang di himpun mulai tingkat desa sampai propinsi, dari tingkat TK sampai perguruan tinggi.
Namun apa yang terjadi? Mereka yang dibawah dengan berbagai kendala tidak memiliki keberanian  menampilkan realitas sebenarnya. Banyak data yang masuk berdasarkan kondisi maksimal, bukan berdasarkan kondisi standart. Ketika pengambil keputusan melakukan keputusan untuk meningkatkan kualitas, berdasarkan data yang masuk, mereka yang dibawah kalang kabut karena sudah kehabisan energi untuk berkerja lebih keras lagi.
Hal-hal seperti inilah yang membuat keputusan-keputusan di negeri ini seringkali tidak bisa diterima di kalangan bawah. Salah satu penyebabnya adalah data yang masuk ke pusat asal bapak senang.

2.4. opini kelompok kami tentang manusia munafik dan Asal bapak senang di Indonesia

            Menurut kelompok kami bahwasannya manusia munafik Indonesia memiliki beberapa karakteristik yang bermacam-macam, menurut kami setelah kami melakukan pencarian sumber lain bahwa manusia munafik di Indonesia memiliki karakteristik diantaranya memiliki sifat yang tidak berbeda perkataan dengan apa yang di rasa selain itu juga orang munafik kebanyakan di Indonesia yaitu ingkar, ingkar ini dalam Bahasa yang lebih mudah yaitu jika seseorang berkata maka dia tidak menepati. Setiap manusia di Indonesia memiliki beragaman sifat-sifat beragam ini dikarenakan Indonesia adalah negara kepulauan dan terdapat banyaknya suku,ras, oleh sebab itu setiap manusia Indonesia memiliki karakter yang berbeda karena berawal dari suku bangsa dan berawal dari nenek moyang mereka.
            Asal bapak senang istliah kata ini tidak lepas dari tahun 70an sampai 90an bahkan istilah kata ini sudah ada sejak kerajaan di Indonesia, asal bapak senang ini di Indonesia merupakan budaya yang dimana kalangan bawah selalu hormat kepada kalangan atas seperti para penjabat, direktur dan pengusaha, masyarakat kalangan bawah ini selalu taat dan menggambarkan bahwa apa yang diperintahkan harus di turuti dan apa yang menurut petinggi harus ikuti maka masyarakat kalangan bawah akan mengikut, dalam sifat karakteristik Abs ini para kalangan atas tidak akan pernah liat kebawah melainkan dia selalu memandang ke atas.
























BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
Tujuan dari mempelajari masalah ini untuk menyadari tanda-tanda Munafikin, agar kita tidak melakukannya. Kita seharusnya memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari nifaq, kufur, syirik dan bid’ah dan agar kita mati dalam keadaan iman dan Tauhid. Kita seharusnya juga selalu menyadari celah dan berbagai kemungkinan menjadi Kafir, dan untuk mencegah hal ini adalah dengan memenuhi semua perintah Allah dan juga kewajiban kita. Semoga, Insya Allah!
ASAL BAPAK SENANG merupakan masalah sosial budaya yang terbentuk sejak puluhan tahun lalu bahkan sejak jaman kerajaan. Rakyat kecil dalam banyak hal lebih banyak menunduk dari pada menatap tegak lurus ke depan, terutama pada pejabat,  sehingga berjalan tidak terarah karena tidak melihat jalan di depan. Demikian sebaliknya, mereka yang sedang menjabat lebih sering melihat keatas sehingga tidak tahu bahwa kakinya menginjak kepala orang lain. 











DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Mochtar. 2012. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.